Pilkades

Pagi seusai sarapan, ruang tamu kami tampak hening. Ayah dan ibu terunduk lesuh. Selang beberapa menit, keheningan itu pecah dengan suara tangisan ibu. Tangisan itu, mengingatkan aku akan insiden beberapa tahun silam disaat ibu menangis di ruang kepala sekolah lantaran aku kedapatan merokok di wc sekolah. Tangisan pagi itu, adalah tangisan kedua yang aku dengar dari ibu. Tangisanya berbeda dari tangisan yang pertama. Tangisan pagi itu, histerisnya luar biasa. Dari dapur aku dengar suara ayah yang berusaha menenangkan ibu, ” Sudahlah bu, Tuhan pasti buka jalan untuk kita”. 

Dua bulan sebelumya di kampung kami dilangsungkan pemilihan kepala desa. Seperti pemilihan di tempat -tempat lain, di kampung kami tiap paslon beserta simpatisannya rutin mengadakan kampanye. Tak jarang mereka sengaja pawai keliling kampung, sambil diiringi dentuman bunyi musik yang keras. Tidak peduli banyak lansia dan orang sakit yang butuh waktu untuk istirahat. “Hidup paslon nomor satu, maju…maju”, teriak salah satu simpatisan pada suatu sore. Selang dua hari, aktivitas yang sama dilakonkan paslon nomor urut dua, kampanye di lapangan desa. Lapangan dipenuhi ribuan manusia, kursi paling depan diduduki kepala suku beserta tokoh-tokoh adat lainya. Atribut mereka semuanya lengkap, mulai dari sarung adat hingga peci di kepala. “Saya, putera asli kampung ini. Sangat tidak mungkin kalau kalian semua tidak memilih saya. Ingat, nenek moyang sudah merestui saya”, Ucap paslon nol dua itu  penuh percaya diri. Ucapanya itu dibarengi tepuk tangan oleh para hadirin, semuanya bersorak nol dua lantik, nol dua lantik!!. 

Seminggu setelah kampanye, dilangsungkanlah pemungutan suara. Semua orang berjaga-jaga di pos masing-masing paslon. Hampir di setiap kepala para pendukung kedua paslon terbersit rasa curiga kalau-kalau ada serangan fajar. Tibalah hari pemilihan,  saat perhitungan suara, semua orang bergegas menuju tempat pemungutan suara yang bertempat di balai desa. Suasana TPS tampak tegang, pendukung masing- masing paslon sibuk mencatat jumlah suara sah dan tak sedikit pula yang suaranya blanko. “Sial, padahal sudah diberi tahu sebelumya cara coblos yang benar, tapi tetap saja bodoh”, cetus seorang pendukung paslon yang berdiri di samping petugas keamanan. Sore hampir gelap, semua suara telah dihitung dan paslon nomor urut satu memperoleh suara terbanyak dan dinyatakan menang. Situasi tak karuan, raut wajah para pendukung paslon nomor urut dua terlihat muram. Karena tidak tahan dengan situasi itu banyak dari mereka yang satu per satu meninggalkan tenda tempat pemungutan suara. “Semuanya sia-sia belaka, tak disangka para pendatang itu menang, bagaiamana nantinya nasib kampung kita ini?”, cetus salah satu simpatisan nol dua. 

Dua bulan berlalu, di lapangan desa berdiri tenda yang amat megah. Tenda itu adalah tempat  kepala desa pendatang itu mengadakan syukuran besar-besaran. Terhitung sekitar 4 ekor sapi dan 2 ekor babi yang disembelih. Ramai sekali. Para pendukung berduyun-duyun datang. Semuanya tampak sumringah. Di depan sana, berdiri kepala desa terpilih, ia di dampingi istrinya yang ia pinang dua puluh tahun silam. Ia tampak berwibawa, omonganya berkharisma, bak Soekarno yang berpidato di hadapan ribuan masa yang menyaksikan pembacaan pidato kemerdekaan. “Terima kasih untuk kalian yang dengan suka rela memiih saya. Saya berjanji akan mengeksekusi semua program yang saya canangkan”, perkataanya tegas. Dalam perjalanan, semua program yang dicanangkanya berhasil dieksekusi. Program pertama yang ia eksekusi ialah program rumah layak huni. Sebanyak tiga puluh kepala keluarga mendapat bantuan rumah layak huni itu, termasuk keluarga kami. Senang dan bangga ketika kepala desa datang ke rumah kami membawa kabar gembira itu. Bak ekspresi kegirangan Elisabet ketika ia dukunjungi  Maria, demikian pula ekpresi ayah dan ibu waktu itu. Aku  lihat ibu berlinang air mata membaca surat yang diberi oleh kepala desa.. Pada suatu sore, tepat pukul lima anak dari kepala suku datang ke rumah kami. Ia berpakaian rapi, sedang rokok Dji Sam Soe masih menyala di mulutnya. “ Tujuan kedatanganku tidak lain adalah mengambil kembali tanah yang kalian tempati ini, tanah ini adalah tanah yang ayahku beri secara gratis untuk kalian, karena aku adalah ahli waris maka aku punya hak untuk mengambilnya kembali”, ucapnya tegas. Seketika suasana tampak hening. Ayah hanya diam dan ibu tak tahan membendung air mata. “ Kalau kalian masih mau tinggal di sini, kalian harus beli tanah ini. Kalau kalian tidak setuju maka jangan heran kalau aku pake cara kekerasan”, pungkasnya. Tanpa banyak pikir, ayah mengiakan saja permintanya membeli tanah itu. Setelah itu, ia pamit pulang dengan rokok yang masih bergelantung di mulutnya. “Semua gara-gara pemilihan kepala desa, andai saja kita  pilih nomor urut dua mungkin peristiwa ini tidak terjadi”, ucap ibu sambil mengusap air mata yang sudah mendarat di pipi keriputnya”.