Malam itu langit penuh gema. “Allahu Akbar… Allahu Akbar…” suara takbir menggulung dari masjid ke jalan-jalan, dari pengeras suara ke dada manusia. Namun di sela-sela gema itu, petasan meledak seperti perang kecil, kentongan dipukul tanpa ritme, klakson kendaraan menyalak tanpa arah.
Takbir masih terdengar, tetapi ia seperti tenggelam dalam kebisingan yang diciptakan manusia sendiri. Maka pertanyaannya bukan lagi: apakah kita bertakbir? Melainkan: apakah kita masih mendengar takbir itu di dalam hati kita?
Takbir bukan sekadar lafaz yang diulang, melainkan pernyataan eksistensial; bahwa Tuhan Maha Besar, dan segala sesuatu selain-Nya menjadi kecil. Dalam perspektif teologi dan tasawuf, takbir adalah proses desakralisasi dunia dan sekaligus pensakralan kembali kesadaran manusia terhadap Yang Absolut.
Menurut al-Ghazali, zikir bukanlah sekadar ucapan lisan, tetapi pergerakan batin menuju kehadiran Ilahi. Tanpa kehadiran hati, zikir berubah menjadi suara kosong, seperti gema di lembah yang tidak pernah sampai ke langit. Namun dalam praktik takbiran hari ini, lafaz _Allahu Akbar_ sering kali justru menjadi latar suara bagi pesta bunyi yang tidak lagi memiliki arah spiritual.
Mengapa takbiran menjadi riuh? Karena manusia modern hidup dalam dunia yang tidak tahan sunyi. Kesunyian dianggap sebagai kekosongan, padahal dalam tradisi sufistik, kesunyian adalah ruang perjumpaan dengan Tuhan.
Martin Heidegger pernah menyinggung bahwa manusia sering terjebak dalam “das Man” keramaian anonim yang membuat individu kehilangan keotentikan dirinya. Dalam keramaian takbiran, seseorang tidak lagi bertanya: “apa makna takbir bagiku?” melainkan hanya mengikuti arus: “semua orang melakukannya.” Petasan menjadi simbol yang menarik. Ia meledak keras, menyita perhatian, tetapi hanya sesaat, tidak meninggalkan makna, hanya sisa asap. Bukankah itu metafora yang tepat untuk sebagian praktik religius kita hari ini?
Para sufi sejak lama mengajarkan bahwa Tuhan lebih mudah ditemukan dalam keheningan daripada dalam keramaian. Dalam puisinya, Rumi menulis: “Diam adalah bahasa Tuhan, segala selainnya adalah terjemahan yang buruk.” Kalimat ini bukan menolak suara, tetapi mengingatkan bahwa kebenaran spiritual tidak lahir dari kebisingan eksternal, melainkan dari kedalaman internal.
“Allahu Akbar” berarti: Allah Maha Besar. Implikasinya jelas: ego manusia harus menjadi kecil. Namun dalam praktik takbiran yang riuh, yang sering terjadi justru sebaliknya, ego tampil dalam bentuk kreativitas bunyi, pawai, bahkan kompetisi. Siapa yang paling meriah? Siapa yang paling keras? Siapa yang paling menarik perhatian?
Soren Kierkegaard mengkritik bahwa religiusitas yang terjebak dalam keramaian publik sering kehilangan dimensi “subjektivitas yang otentik.” Agama menjadi tontonan, bukan perjumpaan. Dalam konteks ini, takbiran yang riuh bisa berubah menjadi paradoks spiritual; lafaz yang mengagungkan Tuhan, tetapi praktiknya justru mengagungkan ekspresi manusia.
Lalu bagaimana seharusnya? Bukan berarti takbiran harus sunyi total. Islam tidak menolak kegembiraan. Namun kegembiraan yang sejati adalah yang tetap menyisakan ruang untuk kesadaran. Abd al-Qadir al-Jilani menekankan bahwa zikir harus menembus dari lisan ke hati, dan dari hati ke eksistensi.
Maka mungkin kita perlu bertanya ulang: Apakah takbir yang kita ucapkan membuat kita merasa kecil di hadapan Tuhan? Ataukah justru membuat kita sibuk dengan dunia luar? Karena pada akhirnya, takbir bukan tentang seberapa keras kita bersuara, tetapi seberapa dalam kita merasakan kehadiran-Nya.
Bayangkan sebuah malam takbiran yang berbeda. Suara takbir tetap menggema, tetapi tidak ditenggelamkan oleh suara-suara lain. Manusia tetap berkumpul, tetapi tidak kehilangan kesadaran. Di sela-sela takbir, ada jeda, dan dalam jeda itu, hati berbicara.
“Allahu Akbar…”
Bukan hanya terdengar di telinga, tetapi terasa di dalam dada. Karena mungkin, yang hilang dari takbiran kita bukanlah suara, tetapi makna. Dan makna itu tidak akan pernah ditemukan dalam kebisingan yang kita ciptakan sendiri, melainkan dalam keheningan yang berani kita hadapi.
Wallahu A’lam…




