Diskursus.ID mungkin lahir bukan dari wahyu, bukan juga dari riset mendalam, bukan dari obrolan rapat yang sangat serius sampai-sampai dibuat notulensi—tapi dari obrolan kecil, berawal dari Saluran WhatsApp kemudian dibuat Grup kecil. Awalnya hanya niat ngobrol, lalu kebablasan jadi website. Kami tidak punya visi besar sebenarnya, cuma mungkin punya sedikit banyak keresahan tentang “Dunia dan Seisinya”, kuota internet dan wifi, juga sedikit waktu luang (kadang nyolong jam kerja).
Kami diisi oleh orang-orang dari berbagai latarbelakang: beberapa dosen gabut, sebagian mahasiswa iseng, post-sarjana yang tak tahu hendak ke mana, para pekerja prekariat, beberapa birokrat yang ingin “meretas sistem dari dalam” (semoga tidak hilang di jalan), tenaga ahli DPR yang nulis di balik layar, staffnya staff dari staff khusus Menteri sampai Menteri Koordinator, para budayawan gagal yang masih mau menulis walaupun sudah jarang dilirik, sastrawan indie yang sering pupuisian, sampai orang-orang lainnya yang mungkin tidak punya titel apapun.
Kami tidak netral, tapi juga tidak tahu berpihak ke mana. Kami berpihak pada apa saja yang bisa memicu diskusi—mulai dari ontologi, teori kritis, sampai bicara rokok yang harganya terus naik.
Bagi kami, diskursus bukan sekadar wacana serius penuh catatan kaki. Bisa jadi cuma obrolan sambil rebahan, asal masih ada yang mikir. Kami tidak menjanjikan kebenaran, tapi kadang bisa kasih kebingungan yang menyenangkan.
Kalau kamu juga gelisah, suka nulis panjang tanpa dibaca, atau punya pikiran aneh yang tidak muat di caption Instagram dan status Whatsapp—ya, mungkin kamu salah satu dari kami.


