Hantu Realisme Sosialis, Siapa Takut!

“Realisme sosialis yang baik adalah realisme sosialis yang tak melupakan akar ‘realis’-nya,” itulah yang dikatakan Martin Suryajaya dalam esainya di Indoprogress yang berjudul, “Tantangan Osamu Dazai”. Martin tak hanya sebatas memaparkan realisme sosialis, melainkan berusaha merumuskannya lagi, atau lebih tepatnya, meluruskan kembali pandangan kita tentang sastra realisme sosialis.

Memang dapat dipahami atas apa yang telah dilakukan Martin. Di Indonesia, membicarakan sastra realisme sosialis bukanlah perkara yang mudah dan selesai. Ada rasa waswas—atau mungkin juga enggan—untuk berbicara mengenai sastra realisme sosialis, yang seakan-akan menjadi hantu menakutkan bagi siapapun. 

Tentu, bagi sebagian dari kita pun mafhum, hal itu terjadi bukanlah tanpa alasan; kekalahan Uni Soviet dan keruntuhan Tembok Berlin di akhir 1980’an menjadi faktor penentu. Sementara dalam konteks Indonesia, rasa was was atau keengganan itu muncul akibat dari peristiwa politisida (genosida politik) 1965 terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI), tak terkecuali para seniman dan sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) saat itu. 

Lekra, sebagai bagian atau underbow dari PKI, menjadi penggerak kebudayaan rakyat yang mengadopsi ide-ide realisme sosialis dalam kesusastraan dan kesenian. Artinya, berbicara tentang realisme sosialis akan selalu identik dengan Marxisme, karena realisme sosialis merupakan konsep estetika yang diciptakan oleh para eksponen Marxis, salah satunya Maxim Gorky. Apa yang terkandung di dalamnya tidak terlepas dari pandangan Marxis tentang realitas. Perjuangan kelas buruh dan petani, pengganyangan atas kapitalisme, pembangunan ke arah sosialisme, menjadi ciri-ciri khusus dalam sastra realisme sosialis.

Akan tetapi, setelah politisida ’65 itu dan berdirinya rezim despotik Orde Baru, berbicara perihal Marxisme akan dianggap sebagai suatu dosa besar oleh rezim. Sebab Marxisme, tak terkecuali konsep estetika Marxis dalam rupa realisme sosialis, tak ubahnya hantu yang selalu mengganggu penguasa. Inilah yang menjadi alasan mengapa seringkali muncul keengganan, atau bahkan fobia, saat membicarakan beragam konsep Marxisme.

Dan melalui Osamu Dazai, salah satu novelis asal Jepang (novel terkenalnya yang dalam versi Inggris No Longer Human (1948), menjadi novel yang paling banyak dicari sampai hari ini), Martin berusaha memunculkan kembali pembicaraan mengenai realisme sosialis ke permukaan. Mungkin bedanya, kali ini ia tak seketat sebagaimana yang kita kenal dan jumpai melalui puluhan esainya tentang Marxisme. Ia nampak menjelaskan perihal realisme sosialis secara lebih longgar, yang baginya, tidak hanya bertumpu pada perjuangan kelas dan revolusi. Kelirulah kita jika beranggapan bahwa realisme sosialis hanya dipahami sebagai “sastra propaganda” dari kalangan sastrawan/seniman Marxis. Istilah “realis” dan “realisme” sendiri, kata Martin, tak hanya sekedar karya-karya yang beraliran realis sebagaimana novel Tolstoy yang menggambarkan dunia fiksi secara terperinci sehingga nampak seperti dunia empiris. 

Para pengarang Marxis pun ditantang agar dapat memaparkan hubungan dialektis antara superstruktur psikologis dengan basis ekonomi dalam karyanya, tanpa harus mengesampingkan konflik-konflik psikologis dalam diri manusia yang cenderung absurd. Singkatnya, para pengarang Marxis harus mampu menguraikan bagaimana persisnya hubungan psikis manusia yang selalu dikondisikan oleh basis ekonomi itu terjadi, serta bagaimana persisnya hubungan yang politis itu berdampak dalam diri manusia.

Saya tak pernah menolak pernyataan Martin yang brilian itu, tapi persoalannya kemudian adalah sejauh mana permainan konflik-konflik psikologis itu nantinya dapat menjamin adanya ketimpangan kelas dalam sebuah novel atau karya sastra? Dan akhirnya jauh dari penafsiran yang menyesatkan? Karena selama ini yang terjadi justru berseberangan dengan apa yang dinyatakan oleh Martin, alih-alih mengklaim karyanya sebagai realisme sosialis dengan versi “terbarukan”, justru yang terjadi adalah lebih dominannya konflik-konflik psikologis tersebut ketimbang persoalan politik kelas seperti halnya dalam novel Ningen Shikkaku (1948) Osamu Dazai. 

Atau seperti halnya Gabriel Garcia Marquez, salah satu sastrawan yang pernah mendapatkan Nobel Sastra pada tahun 1982 itu, yang hampir kebanyakan karya atau novelnya dipahami sebagai “realisme magis”. Padahal dalam salah satu wawancaranya di the Paris Review, Marquez menyatakan bahwa, “the trouble is that many people believe that I’m a writer of fantastic fiction, when actually I’m a very realistic person and write what I believe is the true socialist realism.”

Garcia Marquez telah mengejutkan kita tentunya. Bagaimana mungkin karya yang ditulis dengan gaya yang cenderung “surealis” bisa dikategorikan sebagai realisme sosialis? Bukankah, seperti yang kita ketahui, bahwa novel yang bergenre “realis” atau “realisme sosialis” memiliki hal-hal yang detail dan sangat berhubungan erat dengan kenyataan? Memang dalam novel-novel Marquez, terutama Tumbangnya Seorang Diktator, selalu nampak adanya pertentangan kelas yang cukup kentara. 

Akan tetapi, hal itu tenggelam begitu saja oleh gaya tutur yang magis dan plot yang kompleks. Konsekuensinya, setiap penafsiran atau pembacaan atas novel-novelnya Marquez selalu terjatuh pada problem psikologis (tokoh) dan dalam persoalan bentuk semata (teknik, gaya, struktur jeroan, atau genre). Sekalipun seorang pembaca atau seorang kritikus berusaha mengungkap dimensi politik dalam novelnya itu, tapi yang muncul selama ini tak jauh dari persoalan politik identitas (etnis, ras, dsb), dan bukanlah politik kelas. 

Artinya, persoalannya bukan hanya sebatas pada bentuk, mazhab, atau gaya, dalam suatu karya sastra yang hendak dibangun oleh seorang pengarang, tetapi pada bias-bias kelas yang ada di dalam dirinya itulah yang seringkali luput dari pembacaan seorang pengarang. Meskipun ia mengklaim bahwa karyanya merupakan bagian dari realisme sosialis—sebagaimana Marquez atau klaim Martin atas novel Dazai—hal tersebut tak menjamin bahwa karyanya akan terhindar dari “penyelewengan” pembacaan/penafsiran yang membuatnya kembali terjatuh pada problem psikologis, politik identitas, atau dalam persoalan bentuk, gaya, dan struktur jeroan dalam suatu karya sastra.

Dalam hal ini, justru yang paling penting adalah bagaimana melucuti setiap bias-bias kelas yang hadir dalam realitas, yang menjadi bahan pokok bagi suatu karya sastra, sehingga dapat membangkitkan kesadaran kelas dalam diri setiap orang atau pembacanya. Tanpa menyadari adanya persoalan ini setiap karya sastra realisme sosialis sekalipun tak akan mampu menjadi karya sastra realisme sosialis yang kaffah, yakni karya sastra yang mampu mengedepankan dan membangkitkan kesadaran politik kelas dalam kenyataan sistem kapitalisme yang destruktif dan eksploitatif.

Tinggal di Bandung. Belajar di Arena Studi Apresiasi Sastra UPI, Lingkar Studi Filsafat Nahdliyyin, dan Asosiasi Psikoanalisis Indonesia. Meminati kajian filsafat, sastra, psikoanalisis, dan tasawuf.