Setelah belajar menghormati diri sendiri, mungkin kita akhirnya sampai pada satu pertanyaan yang lebih dalam “bisa ga kita benar-benar menyayangi diri sendiri?” bukan sekedar “aku harus mencintai diriku”, tetapi benar-benar mamahami artinya ketika hidup sedang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sejatinya self-love ternyata bukan tentang selalu merasa percaya diri, selalu bahagia, atau menganggap semua yang kita lakukan sudah benar. Kadang, mencintai diri justru berarti tetap memeluk diri sendiri ketika kita sedang kecewa dengan siapa diri kita hari ini.
Kita sering membayangkan self-love sebagai sesuatu yang indah. Merawat diri, melakukan hal yang kita sukai, memberikan hadiah kepada diri sendiri, atau mengambil waktu untuk beristirahat, dan semua itu memang bagian darinya. Tapi ada bentuk self-love yang jauh lebih sunyi “berhenti memaksa diri menajdi seseorang yang sebenernya tidak sanggup kita jalani hanya demi memenuhi harapan orang lain, ada saat ketika mencintai diri bukan tentang menambahkan sesuatu dalam hidup, tetapi tentang melepaskan sesuatu yang selama ini perlahan-lahan menghabiskan kita”.
Mungkin selama ini kita terlalu terbiasa mencari alasan mengapa orang lain layak mendapatkan kesempatan kedua, tetapi begitu kesalahan datang kepada diri kita sendiri, kita langsung menjatuhkan hukuman. Kepada orang lain kita berkata “engga apa-apa , semua orang bisa salah”, tetapi kepada diri sendiri kita berkata “seharusnya aku tahu dari awal”. Kita begitu mudah memberikan pengertian kepada orang lain, tetapi begitu pelit ketika pengertian itu harus diberikan kepada diri sendiri.
Padahal, you deserve the same compassion you so freely give to others. Kamu juga berhak mendapatkan kelembutan yang selama ini kamu berikan kepada orang lain, kamu boleh lelah, boleh tidak tahu harus kemana, boleh menangis tanpa merasa lemah, boleh mengambil jeda tanpa merasa tertinggal, dan yang paling penting kamu boleh menjadi manusia yang belom selesai.
Self-love bukan berarti menerima semua sisi dari tanpa kenginan untuk berkembang, justru mencintai diri berarti cukup peduli untuk mengatakan “aku ingin menjadi lebih baik” tanpa menambahkan kalimat “karena diriku yang sekarang tidak layak”. Ada perbedaan besar antara memperbaiki diri karena mencintai diri sendiri dan memperbaiki diri karena membenci diri. Yang pertama membawa kita terus bertumbuh dan yang kedua hanya membuat kita tidak pernah merasa cukup.
Ada hari ketika kita melihat pencapaian orang lain dan merasa hidup kita tetinggal, ada hari ketika seseorang pergi dan membuat kita bertanya apakah kita memang tidak cukup baik, ada hari ketika melihat diri sendiri terasa seperti melihat kumpulan kegagalan yang belom selesai. Di hari-hari seperti itu, self-love mungkin bukan tentang meyakinkan diri bahwa kita luar bisa, mungkin dengan cukup dengan berkata “aku memang sedang tidak baik-baik aja, tetapi aku tetap berharga”.
Karena nilai diri tidak seharusnya naik turun mengikuti pencapaian, perhatian seseorang, jumlah orang yang menyukai kita, atau seberapa banyak hal yang berhasil kita lakukan hari ini. Kita tetap memiliki nilai bahkan ketika tidak sedang produktif. Tetap berharga ketika tidak dipilih, tetap layak dicintai ketika sedang gagal. Your worth is not a reward for being perfect.
Dan mungkin salah satu bentuk self-love yang paling sulit adalah menerima bahwa tidak semua hal harus kita selamatkan, tidak semua hubungan harus dipertahankan, tidak semua orang harus kita buat mengerti, tidak semua kehilangan harus kita kejar kembali dan ADA SESUATU YANG MEMANG HARUS DILEPASKAN AGAR DIRI KITA PUNYA RUANG UNTUK PULIH.
Kita sering takut kehilangan orang lain, tetapi jarang bertanya apakah dalam proses mempertahankan mereka, kita justru kehilangan diri sendiri. Kita takut seseorang pergi, lalu rela mengecilkan kebutuhan, mengabaikan batas, dan memaafkan hal-hal yang sebenarnya melukai. Sampai akhrinya kita masih memiliki hubungan itu, tetapi tidak lagi mengenali siapa diri kita di dalamnya.
Mencintai diri sendiri berarti berkata “aku tidak ingin kehilangan diriku hanya agar seseorang tetap tinggal”. Bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena kita akhirnya mengerti bahwa cinta yang sehat tidak seharusnya meminta kita untuk menghapus diri sendiri. Dan mungkin self-love tidak selalu terasa seperti cinta, kadang ia terassa seperti keberanian, kadang seperti kesepian, kadang seperti keputusan untuk pergi, dan kadang seperti memulai kembali, kadang seperti duduk sendirian hingga akhrinya jujur kepada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya kita rasakan-ZAR.
Sebab mencintai diri bukan berarti setiap hari merasa bangga kepada diri sendiri. Ada hari ketika kita bahkan tidak menyukai diri kita. Namun di hari seperti itu pun, kita tetap memilih untuk tidak menyakiti diri dengan kata-kata yang kejam. Kita tetap makan ketika lapar. Beristirahat ketika lelah. Menangis ketika sedih. Meminta bantuan ketika tidak mampu. Dan perlahan berkata kepada diri sendiri, “Aku tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini.”
Mungkin selama ini kita mencari cinta ke begitu banyak tempat sampai lupa bahwa ada satu hubungan yang juga membutuhkan perhatian: hubungan kita dengan diri sendiri.
Jadi kalau hari ini kamu masih merasa belum bisa mencintai dirimu sepenuhnya, tidak apa-apa. Jangan jadikan self-love sebagai tuntutan baru yang membuatmu kembali merasa gagal. Kamu tidak harus langsung mencintai semua bagian dari dirimu. Mulailah dengan tidak membenci bagian yang masih sedang belajar.
Mulailah dengan memaafkan dirimu atas keputusan yang dulu kamu ambil dengan pengetahuan yang kamu punya saat itu. Mulailah dengan berhenti membandingkan perjalananmu dengan perjalanan orang lain. Mulailah dengan memberikan dirimu kesempatan untuk tumbuh tanpa terus-menerus mengingatkan bahwa kamu pernah gagal.
Karena pada akhirnya, self-love mungkin bukan tentang berkata, “Aku sempurna dan aku mencintai semuanya tentang diriku.”
Mungkin jauh lebih sederhana dari itu:
“Aku tahu aku masih punya banyak kekurangan. Aku tahu masih ada bagian dari diriku yang perlu diperbaiki. Tapi aku tidak akan meninggalkan diriku sendiri hanya karena aku belum menjadi versi yang aku inginkan.”
Dan mungkin, setelah selama ini kita sibuk mencari seseorang yang mau tinggal ketika kita sedang berantakan, kita akhirnya belajar bahwa bentuk cinta yang paling dasar adalah memilih untuk tetap tinggal bersama diri sendiri.
Bukan karena kita tidak membutuhkan orang lain.
Tetapi karena kita akhirnya tahu,
sebelum meminta dunia untuk mencintai kita, kita perlu belajar menjadi rumah yang cukup aman bagi diri kita sendiri.






