BERHENTI MENJADI PEOPLE PLEASER: HIDUP KITA JUGA PENTING (SELF-COMPASSION)

Dengan belajar untuk tidak menyalahkan diri, menghormati diri, dan mencintai diri, masih ada satu hal yang sering kita lupakan yaitu Belajar Berbelas Kasih Kepada Diri Sendiri. Kita tahu bahwa bagaimana cara memahami orang lain ketika mereka gagal, kita tahu bagaiamana mengatakan “Tidak apa-apa, kamu udh berusaha”. Tetapi ketika kegagalan itu milik kita sendiri, kalimat yang sama terasa begitu sulit untuk diberikan.

Kita menjadi orang pertama yang kecewa kepada diri sendiri, orang yang pertama yang mengungkit kesalahan lama, orang pertama yang mengatakan “Seharunya kamu bisa lebih baik”, seolah olah dengan terus mengingatkan diri tentang kegagalan, kita akan menjadi lebih kuat. Padahal terkadang kita tidak sedang belajar dari kesalahan, kita hanya sedang menyakiti diri dengan cara yang kita anggap sebagai motivasi.

Self-compassion bukan berarti memaklumi semua kesalahan, bukan berarti mengatakan bahwa apa pun yang kita lakukan selalu benar, dan bukan pula alasan untuk berhenti bertumbuh. Self-compassion adalah kemampuan untuk melihat kesalahan dengan jujur tanpa menjadikan kesalahan itu sebagai identitas diri.

Ada perbedaan antara mengatakan “Aku melakukan kesalahan” dengan mengatakan “Aku memang orang yang selalu gagal”.

  1. Adalah EVALUASI
  2. ADALAH PENGHAKIMAN

Dan sering kali kita tidak sadar betapa cepatnya satu kesalahan berubah menjadi kesimpulan tentang seluruh diri kita, satu hubungan gagal membuat kita berpikir bahwa kita tidak layak dicintai, satu kesempatan hilang membuat kita merasa tidak cukup pintar, satu keputusan yang keliru membuat kita terus mempertanyakan seluruh kemampuan yang kita miliki. Kita mengambil bagian kecil dari hidup, lalu menggunakannya untuk mendefinisikan keseluruhan diri.

Padahal manusia tidak sesederhana itu

“you are more than the worst thing you’ve done, and more than the worst thing that happened to you”

Kamu lebih besar daripada satu kesalahan, lebih luas daripada satu kegagalan, dan lebih berharga daripada bagaiamana seseorang pernah memperlakukanmu. Mungkin ada keputusan yang sampai hari ini masih kamu sesali, ada kata -kata yang seandainya bisa diulang, tidak akan pernah kamu ucapkan. Ada orang yang seandainya waktu bisa diputar kembali, ingin kamu perlakukan dengan cara yang berbeda, ada kesempatan yang dulu kamu sia-siakan kerana saat itu kamu belum cukup dewasa untuk memahaminya.

Tapi kamu tidak bisa kembali menjadi dirimu yang dulu dengan pemahaman yang kamu

miliki hari ini.

Dan mungkin itu yang perlu kita terima.

Kita sering menilai versi lama diri kita menggunakan pengetahuan yang baru kita dapatkan sekarang, kita marah kepada diri sendiri karena dulu tidak tahu apa yang sekarang kita tahu. Padahal versi dirimu yang dulu juga sedang mencoba bertahan dengan cara yang ia pahami saat itu. Bukan berarti semua keputusan masa lalu harus dibenarkan, tetapi mungkin sudah waktunya kita berhenti menghukum seseorang yang sebenarnya sudah lama berubah.

Self-compassion adalah ketika kita hidup mampu berkata “Aku berharap dulu aku tahu lebih banyak, tapi aku tidak membenci diriku karena saat itu aku belom tahu”.

Ada kelembutan yang muncul ketika kita berhenti menuntut diri untuk selalu benar, kita mulai memahami bahwa menjadi dewasa bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Menjadi dewasa berarti mampu melihat kesahalah, bertanggung jawab atasnya, memperbaikinya jika memungkinkan, lalu belajar untuk tidak mengulanginya.

Bukan tinggal di dalam rasa bersalah selamanya, kerana rasa bersalah yang sehat seharusnya membawa kita kepada perbaikan. Tetapi rasa bersalah terus dipelihara hanya akan berubah menjadi hukum. Dan tidak semua hukum membuat seseorang menjadi lebih baik.

Kadang, yang kita butuhkan bukan suara yang lebih keras di kepala kita, kita sudah cukup sering mendengar suara yang mengatakan bahwa kita kurang baik, kurang pintar, kurang berhasil, kurang dicintai, atau telalu banyak salah.

Mungkin yang kita butuhkan adalah suara yang lebih lembut

“Aku tahu ini berat”

“Aku tahu kamu kecewa”

“Kamu boleh belajar dari kesalahan ini tanpa membenci dirimu”

“Kamu belom sampai di tempat yang kamu inginkan, tetapi bukan berarti kamu tidak   akan pernah sampai”

Dan mungkin kalimat terakhir itu adalah bentuk kasih sayang yang paling sederhana kepada diri sendiri.

Bukan menjanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetapi meyakinkan diri bahwa apapun yang sedang terjadi, kita tidak akan meninggalkan diri kita

sendiri di dalamnya.

Ada hari ketika kita produktif dan merasa bangga kepada diri sendiri, ada juga hari ketika kita hanya mampu bertahan dan keduanya tetap memiliki nilai. Tidak setiap hari harus menjadi hari untuk berkembang Ada hari untuk berlari.

Ada hari untuk berjalan.

Ada hari untuk berhenti sebentar

Dan berhenti bukan untuk menyerah

Terkadang, berhenti adalah cara tubuh dan hari mengatakan bahwa kita sudah terlalu lama memaksa diri. Maka kalau hari ini kamu sedang kecewa kepada diri kamu

sendiri, mungkin jangan buru-buru bertanya “ Apa yang salah denganku?”.

Coba tanyakan sesuatu yang lebih lembut

“APA YANG SEDANG AKU BUTUHKAN”

Mungkin jawabannya adalah istirahat

Mungkin pengampunan

Mungkin keberania untuk meminta maaf

Mungkin keberanian untuk memulai lagi

Atau mungkin, untuk pertama kalinya kamu hanya perlu duduk diam dan mengakui bahwa kamu memang sudah lelah.

Tidak apa-apa

Kamu juga boleh menjadi seseorang yang membutuhkan pertolongan, karena self-compassion bukan tentang menjadi terlalu lembut kepada diri sendiri. Ini tentang memberikan keadilan yang sama kepada diri sendiri seperti yang selama ini kita berikan kepada orang lain.

Kita bisa bertanggung jawab tanpa menyiksa diri.

Kita bisa menyesal tanpa membenci diri.

Kita bisa berubah tanpa menghapus masa lalu.

Kita bisa mengakui bahwa kita pernah menjadi versi diri yang tidak kita banggakan, tanpa harus percaya bahwa kita akan selamanya menjadi orang yang sama.

Pada akhirnya, mungkin proses mencintai diri bukan tentang membuat diri kita selalu merasa hebat.

Mungkin justru tentang belajar menemai diri ketika kita sedang tidak merasa hebat sama sekali.

Ketika tidak ada yang memuji.

Ketika tidak ada yang memilih.

Ketika rencana berantakan.

Ketika kita gagal.

Ketika kita merasa tertinggal.

Dan ketika satu-satunya orang yang tersisa untuk memeluk diri kita adalah diri kita sendiri.

Disaat itulah self-compassion benar-benar diuji, bisakah kita tetep berkata

“AKU KECEWA DENGAN APA YANG TERJADI, TETAPI AKU TIDAK AKAN MENAJADI DIRIKU SEBAGAI MUSUH”.

Karena mungkin pada akhirnya, healing bukan tentang menjadi seseorang yang tidak pernah terluka, healing adalah ketika kita tidak lagi menambah luka baru hanya kerana kita sedang membawa luka lama. Dan mungkin setelah bertahun-tahun menjadi orang yang paling keras kepada diri sendiri, sudah waktunya kita belajar menajdi tempat yang aman bagi diri sendiri.

Bukan karena kita sudah sempurna, tetapi kita akhrinya mengerti bahwa “DIRI INI TIDAK MEMBUTUHKAN LEBIH BANYAK HUKUMAN, TAPI DIRI INI MEMBUTUHKAN PENGERTIAN.

“PERHAPS RECOVERY ISN’T ABOUT ULTIMATELY BECOMING SOMEONE WHO WAS NEVER HURT, NEVER FAILED, AND NEVER BROKEN. PERHAPS RECOVERY IS SIMPLY ABOUT REALIZING THAT WHEN THOSE THINGS HAPPEN, YOU WILL NO LONGER ABANDON YOURSELF”.