Efek Domino Omon-Omon Om Gemoy dan Taruhannya di Timur Tengah

Dalam setiap diskursus hubungan internasional, kata-kata seorang kepala negara bukan sekadar opini. Ia adalah representasi resmi negara. Setiap kalimat yang keluar dari mulut seorang presiden dipahami dunia sebagai sinyal kebijakan, arah diplomasi, bahkan posisi strategis suatu negara terhadap isu global.

Karena itu, publik sering berharap seorang kepala negara berbicara dengan tingkat kehati-hatian yang jauh lebih tinggi dibandingkan tokoh politik biasa.

Peristiwa ketika si Gemoy Prabowo Subianto menyinggung kemungkinan perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah saat bertemu jajaran Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia kembali mengingatkan bahwa komunikasi politik tidak pernah berdiri sendiri. Dalam forum tersebut, Presiden menyampaikan bahwa apabila Iran memiliki senjata nuklir, maka negara-negara lain seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, hingga Mesir berpotensi mengikuti langkah serupa. Ia juga menghubungkan konflik kawasan dengan perebutan minyak, gas, dan sumber daya mineral.

Di tengah penyampaian tersebut, siaran langsung Sekretariat Presiden tiba-tiba terputus dan kemudian beralih ke tayangan lain. Potongan video itu kemudian menjadi viral sebelum akhirnya video tersebut tidak lagi tersedia di kanal resmi. Sampai saat ini belum terdapat penjelasan resmi yang memastikan apakah perpindahan tayangan tersebut merupakan gangguan teknis, keputusan editorial, atau alasan lainnya.

Oleh karena itu, segala dugaan mengenai penyebabnya tetap berada pada ranah spekulasi. Yang jauh lebih penting justru bukan soal terputusnya siaran, melainkan substansi pernyataan yang disampaikan.

Dimulai dari Sebuah Kalimat

Dampak sebuah pernyataan dalam diplomasi tidak selalu hadir dalam bentuk protes resmi atau memburuknya hubungan bilateral. Justru yang paling sering terjadi adalah perubahan cara negara lain membaca posisi suatu negara. Efek domino dimulai dari persepsi, lalu berkembang menjadi kalkulasi politik.

Bagi Iran, misalnya, pernyataan yang mengaitkan kemungkinan kepemilikan senjata nuklir dengan lahirnya perlombaan senjata di Timur Tengah dapat saja dibaca sebagai cara Indonesia melihat Iran sebagai pemicu instabilitas kawasan. Terlepas dari ada atau tidaknya maksud tersebut, ruang tafsir semacam ini selalu terbuka ketika yang berbicara adalah seorang kepala negara.

Di sisi lain, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, maupun Mesir juga dapat menangkap pesan yang berbeda. Penyebutan nama mereka dalam konteks perlombaan senjata nuklir berpotensi dipahami sebagai asumsi mengenai arah kebijakan keamanan mereka pada masa depan.

Padahal, isu keamanan nasional merupakan salah satu isu paling sensitif dalam hubungan antarnegara. Tidak ada negara yang nyaman ketika pilihan-pilihan strategisnya diproyeksikan oleh pemimpin negara lain sebagai sebuah keniscayaan.
Konsekuensinya memang belum tentu berupa retaknya hubungan diplomatik. Namun diplomasi modern tidak hanya diukur dari ada atau tidaknya konflik terbuka. Ia juga diukur dari tingkat kepercayaan, kenyamanan komunikasi, dan keyakinan bahwa suatu negara mampu menjaga konsistensi sikapnya.

Dalam konteks inilah setiap pernyataan yang membuka ruang multitafsir dapat menambah pekerjaan para diplomat Indonesia untuk memastikan bahwa politik luar negeri Indonesia tetap dipahami sebagai politik luar negeri yang bebas aktif, independen, dan tidak memihak pada narasi keamanan salah satu pihak.

Taruhannya tidak kecil. Timur Tengah merupakan kawasan yang memiliki arti strategis bagi Indonesia, baik dari sisi ekonomi, energi, investasi, perlindungan jutaan warga negara Indonesia yang bekerja di kawasan tersebut, maupun kerja sama dalam berbagai forum internasional.

Indonesia juga selama ini memperoleh kepercayaan karena relatif mampu menjaga hubungan baik dengan negara-negara yang memiliki kepentingan dan rivalitas berbeda di kawasan tersebut. Kepercayaan semacam itu dibangun dalam waktu yang panjang, tetapi dapat diuji oleh pernyataan yang memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana Indonesia memandang dinamika geopolitik di Timur Tengah.

Karena itu, efek domino dari sebuah pidato bukan semata-mata soal viral atau tidaknya potongan video di media sosial. Efek domino yang sesungguhnya adalah ketika satu kalimat mulai memengaruhi cara negara lain membaca Indonesia. Dalam diplomasi, perubahan persepsi itulah yang sering menjadi awal dari perubahan sikap, meskipun tidak selalu tampak di permukaan.

Di Antara Opini dan Posisi Resmi Negara

Persoalannya bukan terletak pada benar atau salahnya prediksi mengenai perkembangan situasi di Timur Tengah. Dalam kajian geopolitik, berbagai skenario memang lazim dibahas sebagai bagian dari analisis. Yang menjadi persoalan adalah ketika analisis tersebut disampaikan oleh seorang kepala negara, batas antara opini dan posisi resmi menjadi semakin tipis.

Masyarakat mungkin mendengarnya sebagai pendapat. Namun bagi komunitas internasional, ucapan seorang presiden selalu memiliki bobot politik. Negara-negara lain akan mencoba membaca apakah pernyataan itu sekadar pandangan pribadi, mencerminkan hasil kajian pemerintah, atau bahkan menjadi petunjuk mengenai arah kebijakan luar negeri Indonesia ke depan.

Di sinilah komunikasi kenegaraan menuntut ketepatan yang lebih tinggi dibandingkan komunikasi politik biasa. Semakin sensitif isu yang dibicarakan, semakin kecil pula ruang bagi kalimat yang dapat memunculkan beragam tafsir. Sebab dalam diplomasi, ketidakjelasan sering kali melahirkan spekulasi, sementara spekulasi dapat berkembang menjadi persepsi yang sulit diluruskan.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan komunikasi seorang kepala negara bukanlah seberapa menarik pernyataannya untuk diperbincangkan, melainkan seberapa jelas pesan yang diterima dunia tanpa meninggalkan ruang bagi kesalahpahaman mengenai posisi resmi Indonesia.

Yang Dipertaruhkan Bukan Sekadar Pernyataan

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya benar atau kelirunya sebuah pernyataan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pernyataan tersebut memengaruhi persepsi terhadap Indonesia sebagai aktor dalam hubungan internasional.

Sebab dalam diplomasi, reputasi merupakan aset yang dibangun melalui konsistensi dan dapat terkikis oleh pesan-pesan yang menimbulkan ambiguitas.

Indonesia selama ini berupaya menempatkan diri sebagai negara yang tidak mudah terseret dalam rivalitas geopolitik. Politik luar negeri bebas aktif memberi ruang bagi Indonesia untuk berbicara sebagai jembatan dialog, bukan sebagai pihak yang memperkeruh ketegangan. Posisi tersebut memperoleh kepercayaan justru karena Indonesia berusaha menjaga keseimbangan dalam sikap maupun komunikasinya.

Ketika isu yang dibahas menyangkut perlombaan senjata nuklir dan dinamika keamanan kawasan, kehati-hatian menjadi semakin penting. Bukan karena Indonesia tidak berhak memiliki pandangan, melainkan karena setiap pandangan yang disampaikan oleh kepala negara akan selalu dibaca sebagai cerminan cara Indonesia memandang persoalan tersebut.

Di titik inilah komunikasi berubah menjadi bagian dari kepentingan nasional. Sebab yang dinilai oleh dunia bukan hanya isi pernyataannya, melainkan juga kemampuan Indonesia mempertahankan citra sebagai negara yang konsisten, kredibel, dan dapat dipercaya dalam percaturan internasional.

Reputasi Adalah Mata Uang Diplomasi

Tidak ada negara yang bangun pagi lalu tiba-tiba dipercaya dunia. Kepercayaan itu tumbuh perlahan, melewati puluhan tahun kebijakan, sikap, dan konsistensi. Sekali reputasi terbentuk, ia menjadi modal yang jauh lebih berharga daripada sekadar banyaknya pidato atau ramainya pemberitaan.

Indonesia mengenal betul arti penting modal tersebut. Selama ini Indonesia berusaha hadir sebagai negara yang tidak mudah terseret dalam pusaran rivalitas global. Ketika banyak negara memilih berdiri di salah satu kutub, Indonesia justru berupaya menjaga ruang dialog dengan semua pihak. Sikap itulah yang membuat Indonesia sering diterima di berbagai forum internasional, bahkan ketika negara-negara lain sulit duduk di meja yang sama.

Masalahnya, reputasi bukanlah sesuatu yang dapat disimpan di dalam lemari. Ia hidup dari apa yang terus-menerus diperlihatkan kepada dunia. Setiap pernyataan, setiap sikap, bahkan setiap pilihan kata ikut menentukan apakah dunia masih melihat Indonesia sebagai negara yang konsisten atau mulai membaca arah yang berbeda. Karena itu, diplomasi sesungguhnya tidak hanya berlangsung di ruang perundingan.

Diplomasi juga berlangsung di depan mikrofon. Sebab sebelum dunia melihat langkah Indonesia, mereka terlebih dahulu mendengar bagaimana Indonesia berbicara. Dan tidak jarang, kesan pertama itulah yang bertahan paling lama.

Memang, seorang presiden boleh memiliki pandangan, analisis, bahkan firasat politik. Namun begitu mikrofon negara menyala, yang berbicara bukan lagi seorang individu, melainkan Republik Indonesia. Di situlah setiap kata kehilangan hak untuk menjadi sekadar opini.

Pak Prabowo, dunia tidak mengingat berapa banyak pidato yang disampaikan seorang pemimpin. Dunia mengingat kalimat-kalimat yang mengubah cara mereka memandang sebuah negara.

Jika setiap ucapan adalah wajah Indonesia, maka setiap kalimat layak dipilih dengan ketelitian yang sama seperti ketika negara memilih arah diplomasinya.

Sebab sejarah tidak pernah mencatat berapa kali seorang presiden berbicara. Sejarah hanya mencatat apa akibat dari kata-kata yang ia tinggalkan.

Seorang akademisi dan intelektual publik yang memosisikan kerja intelektual saya dalam kerangka tradisi pemikiran kiri. Ketertarikan utama saya terletak pada kajian filsafat sosial, ekonomi politik kritis, dan teori budaya sebagai instrumen untuk memahami struktur-struktur yang membentuk kondisi material dan eksistensial manusia. Pekerjaan saya sebagai peneliti independen yang suka mengulik bobroknya negeri ini.