Setelah sekian lama kita belajar untuk tidak menyalahkan diri sendiri, mungkin ada satu hal lain yang perlu kita pelajari; menghormati diri sendiri. Karena ternyata, berhenti membenci diri belum tentu berarti kita sudah menghargai diri. Ada orang yang tidak lagi mengatakan, “aku buruk,” tetapi masih membiarkan dirinya terus berada dalam keadaan yang membuatnya terluka. Masih sulit mengatakan tidak. Masih merasa bersalah ketika memilih dirinya sendiri. Masih menganggap kebutuhan orang lain jauh lebih penting daripada batas yang seharusnya ia miliki.
Kadang kita mengira self-respect adalah tentang menjadi keras, tidak peduli dengan penilaian orang, atau selalu membela diri ketika disakiti. Padahal bukan itu. Self-respect justru dimulai dari hal-hal sederhana: tahu kapan harus bertahan dan kapan harus pergi, tahu kapan harus meminta maaf dan kapan harus berhenti merasa bersalah, serta memahami bahwa menjaga perasaan orang lain tidak seharusnya membuat kita kehilangan diri sendiri. “Self-respect is knowing that your worth does not decrease when someone fails to recognize it.” Nilai dirimu tidak menjadi lebih kecil hanya karena seseorang tidak mampu melihatnya.
Ada kalanya kita bertahan bukan karena hubungan itu masih sehat, tetapi karena kita takut dianggap jahat ketika memilih pergi. Kita terus memberi kesempatan, terus memahami, terus memaklumi, sampai lupa bahwa memahami seseorang tidak berarti harus terus membiarkan diri kita terluka. Kita sering menyebutnya kesabaran, padahal mungkin ada bagian dari diri kita yang sedang takut kehilangan. Dan terkadang, menghormati diri sendiri berarti berani mengakui bahwa sesuatu yang kita cintai tidak selalu baik untuk kita.
Self-respect juga berarti belajar berkata, “aku tidak nyaman dengan ini,” tanpa merasa harus memberikan seribu alasan. Belajar berkata, “aku tidak bisa,” tanpa merasa menjadi manusia yang egois. Belajar menerima bahwa tidak semua orang akan menyukai batas yang kita buat. Karena ketika kita mulai menghormati diri sendiri, kita akan sadar bahwa disukai semua orang bukanlah tanggung jawab kita. Ada orang yang mungkin kecewa ketika kita mulai memiliki batas, tetapi kekecewaan mereka tidak otomatis berarti kita telah berbuat salah.
Dan mungkin bagian tersulit dari self-respect adalah ketika kita harus memilih diri sendiri setelah bertahun-tahun terbiasa mendahulukan orang lain. Rasanya asing. Bahkan terkadang terasa egois. Kita bertanya, “Apa aku terlalu mementingkan diri sendiri?” Padahal bisa jadi untuk pertama kalinya, kita hanya sedang belajar memberikan kepada diri sendiri sesuatu yang selama ini begitu mudah kita berikan kepada orang lain: pengertian, kesempatan, dan ruang untuk bernapas.
Respecting yourself means you stop negotiating your worth. Kita tidak lagi sibuk meyakinkan orang lain bahwa kita pantas dihargai. Kita tidak perlu terus membuktikan bahwa kita layak dicintai hanya agar seseorang memilih untuk tinggal. Kita juga tidak harus menjadi versi paling sempurna dari diri kita agar keberadaan kita memiliki nilai. Kita boleh masih belajar. Masih salah. Masih berantakan. Namun tetap memiliki hak untuk diperlakukan dengan baik, termasuk oleh diri sendiri.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari validasi dari luar sampai lupa bahwa hubungan paling lama yang akan kita jalani adalah hubungan dengan diri sendiri. Dan kalau setiap hari kita berbicara kepada diri sendiri dengan penuh hinaan, memaksa diri terus kuat, mengabaikan kebutuhan sendiri, dan merasa bersalah hanya karena ingin beristirahat, sebenarnya kita sedang mengajarkan diri bahwa dirinya tidak layak mendapatkan kelembutan.
Jadi, menghormati diri sendiri bukan berarti merasa lebih tinggi dari orang lain. Bukan pula tentang menjadi seseorang yang tidak membutuhkan siapa-siapa. Self-respect adalah ketika kita tahu bahwa kita tetap membutuhkan orang lain, tetapi tidak lagi kehilangan diri sendiri demi mempertahankan mereka. Kita bisa mencintai seseorang tanpa mengorbankan seluruh harga diri. Kita bisa memaafkan tanpa harus kembali ke tempat yang sama. Kita bisa peduli tanpa harus terus terluka.
Dan mungkin dari sinilah self-love sebenarnya dimulai. Bukan dari memaksa diri untuk berkata, “aku mencintai diriku,” setiap pagi di depan cermin. Tetapi dari keberanian kecil untuk berkata, “aku juga layak diperlakukan dengan baik.” Dari keputusan untuk berhenti mengejar sesuatu yang terus membuat kita merasa tidak cukup. Dari keberanian untuk menjaga batas. Dari kesediaan untuk mendengarkan diri sendiri ketika dunia terlalu ramai memberikan suara tentang bagaimana seharusnya kita hidup.
Karena sebelum belajar mencintai diri sendiri, mungkin kita perlu belajar satu hal sederhana terlebih dahulu: jangan perlakukan dirimu seperti seseorang yang tidak kamu hormati. Jangan terus menghukum diri hanya karena pernah salah. Jangan terus tinggal di tempat yang membuatmu kehilangan harga diri hanya karena takut memulai kembali. Dan jangan menganggap memilih ketenangan sebagai bentuk keegoisan.
Pada akhirnya, self-respect bukan tentang merasa bahwa kita selalu benar. Justru sebaliknya, kita cukup menghormati diri untuk mengakui ketika kita salah tanpa menjadikan kesalahan itu sebagai alasan untuk membenci diri sendiri.
Kamu boleh memperbaiki diri tanpa merendahkan diri.
Kamu boleh berubah tanpa membenci versi lamamu.
Kamu boleh memilih dirimu sendiri tanpa merasa bersalah.
Mungkin itulah bentuk kedewasaan yang sebenarnya: bukan lagi bertanya, “Bagaimana caranya agar semua orang menghargai aku?” tetapi mulai bertanya, “Apakah selama ini aku sendiri sudah cukup menghargai diriku?”







