Ada sesuatu yang mengganggu dari cara Byung-Chul Han saat kita membaca bukunya. Ia tidak memulai dengan tuduhan bahwa kita sedang ditindas, melainkan dengan pengakuan yang jauh lebih menohok: kita sedang bebas, dan justru kebebasan itulah yang sedang menghancurkan kita pelan-pelan. Filsuf kelahiran Korea Selatan yang berkarier di Jerman ini menulis Psychopolitics: Neoliberalism and New Technologies of Power (2017; edisi asli berbahasa Jerman, Psychopolitik, terbit lebih dulu) sebagai semacam surat peringatan bagi manusia abad ini, yang meyakini dirinya lebih merdeka daripada generasi mana pun sebelumnya, padahal—menurut Han— kita sedang menjalani bentuk perbudakan paling halus yang pernah diciptakan sejarah.
Buku setebal tiga belas bab pendek ini ditulis dengan gaya esai yang padat, hampir seperti kumpulan renungan filosofis yang saling tersambung. Han melompat dari Hegel ke Foucault, dari Deleuze ke Nietzsche, dari Marx ke tokoh-tokoh populer seperti Naomi Klein dan motivator Tony Robbins. Namun di balik lompatan-lompatan itu, ada satu benang merah yang ia rajut dengan sangat konsisten: bahwa kekuasaan di zaman neoliberal dan digital itu tidak lagi menjajah tubuh manusia, sebagaimana yang dulu dianalisis Foucault lewat konsep biopolitik, melainkan menjajah jiwa, hasrat, dan bahkan kehendak bebas kita sendiri. Dari situlah lahir istilah yang menjadi judul buku ini: psikopolitik.
Tulisan ini mencoba menelusuri jalan pikiran Han dan tidak sekadar merangkumnya, melainkan mengikuti alur argumennya secara mengalir—dari krisis kebebasan, transformasi bentuk kekuasaan, hingga tawaran jalan keluar yang ia sebut “idiotisme”. Setelah itu, gagasangagasan itu akan kita refleksikan kembali ke dalam kehidupan kita saat ini.
Kerangka Berpikir Han
Han membuka bukunya dengan sebuah paradoks yang sederhana tentang kebebasan. Kebebasan, yang selama ini kita anggap sebagai lawan dari penindasan, ternyata bisa berubah menjadi bentuk penindasan yang jauh lebih efisien. Ia menjelaskan bahwa masyarakat disiplin di masa lalu—dengan pabrik, sekolah, penjara, dan barak tentaranya—bekerja dengan logika “Harus”. Ada batas yang jelas antara yang boleh dan yang dilarang, dan karena itu, ada pula batas atas seberapa jauh kekuasaan bisa memeras manusia. Namun manusia neoliberal hari ini hidup dalam logika yang sama sekali berbeda: logika “Bisa” atau “Mampu”, yang justru tidak mengenal batas sama sekali. Kita tidak lagi merasa sebagai subjek yang tunduk pada perintah, melainkan sebagai “proyek” yang bebas menata ulang, memperbarui, dan mengoptimalkan diri sendiri tanpa henti. Persoalannya, kebebasan tanpa batas semacam ini justru melahirkan bentuk keterpaksaan baru yang jauh lebih ganas, karena tidak ada lagi titik untuk berhenti. Di sinilah Han menempatkan gejala-gejala seperti depresi dan kelelahan kronis (burnout) bukan sebagai penyakit individual belaka, melainkan sebagai jejak luka dari sebuah peradaban yang sedang kehabisan napas karena terus-menerus memacu dirinya sendiri.
Untuk menggambarkan pergeseran ini, Han meminjam metafora dari Gilles Deleuze: masyarakat disiplin diwakili oleh sosok tikus tanah (mole) yang bergerak di dalam lorong-lorong tertutup. sedangkan masyarakat kendali neoliberal diwakili oleh seekor ular (snake), yang tidak bergerak di dalam ruang yang sudah ada, melainkan menciptakan ruangnya sendiri lewat gerak tubuhnya. Tikus tanah adalah buruh; ular adalah pengusaha bagi dirinya sendiri. Pergeseran dari tikus tanah menjadi ular ini, bagi Han, bukanlah pembebasan sejati, melainkan mutasi kapitalisme yang semakin canggih dalam memeras produktivitas manusia—kali ini bukan lagi lewat tubuh yang didisiplinkan, melainkan lewat jiwa yang termotivasi.
Dari sinilah Han melangkah untuk menantang salah satu pemikir yang paling ia kagumi sekaligus ia kritik: Michel Foucault. Foucault, kata Han, benar ketika menjelaskan bagaimana kekuasaan sejak abad ketujuh belas berubah dari kekuasaan untuk mematikan (kedaulatan raja yang bisa menjatuhkan hukuman mati) menjadi kekuasaan untuk menghidupi dan mengatur kehidupan itu sendiri—inilah yang disebutnya biopolitik. Lewat disiplin, tubuh manusia dibentuk agar patuh dan produktif, cocok dengan mesin-mesin pabrik pada era industri. Namun, menurut Han, ketika Foucault di akhir hayatnya mencoba memahami neoliberalisme, ia tetap terjebak pada kerangka biopolitik dan populasi—dua konsep yang sesungguhnya sudah tidak lagi memadai untuk menjelaskan zaman baru ini. Sebab neoliberalisme, kata Han, tidak lagi terutama berurusan dengan tubuh yang harus didisiplinkan, melainkan dengan jiwa yang harus dioptimalkan. Produksi hari ini bersifat imaterial: yang dihasilkan bukan lagi barang, melainkan informasi, gagasan, citra diri. Karena itulah dibutuhkan istilah baru, yakni psikopolitik, untuk menangkap bentuk kekuasaan yang menembus jauh ke dalam hasrat, motivasi, dan bahkan alam bawah sadar manusia—wilayah yang menurut Han luput sepenuhnya dari perhatian Foucault.
Kelalaian Foucault ini, bagi Han, berakar dari kesalahpahaman yang lebih dalam: Foucault memandang “biopolitik”—yakni upaya manusia membentuk dan menyempurnakan dirinya sendiri sebagai semacam karya seni—sebagai praktik yang berlawanan dengan kekuasaan dan dominasi. Padahal, justru di titik itulah neoliberalisme menemukan senjata yang paling ampuh. Dorongan untuk terus-menerus mengoptimalkan diri, yang tampak begitu personal dan bebas, sesungguhnya adalah bentuk eksploitasi diri yang paling efisien yang pernah diciptakan, sebab tidak ada lagi majikan dari luar yang perlu dilawan—manusia neoliberal adalah majikan sekaligus budak bagi dirinya sendiri.
Han lantas menunjukkan bagaimana bentuk baru kekuasaan ini bekerja secara konkret. Ia menyebutnya “kekuasaan yang cerdas” (smart power)—kekuasaan yang tidak lagi berkata “tidak” dan menegasikan kehendak, melainkan berkata “ya” dan merayu kehendak itu agar bergerak sesuai arah yang diinginkan. Tombol “Like” menjadi lambangnya yang paling telak: sebuah gestur ketundukan kecil yang justru dialami sebagai kesenangan dan partisipasi, bukan sebagai kepatuhan. Karena kekuasaan semacam ini tidak memaksa, melainkan membujuk dan memuaskan, ia menjadi nyaris tak kasatmata—dan justru di situlah letak kekuatannya yang sesungguhnya. Manusia yang dikuasainya bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang dikuasai; ia merasa sedang bebas memilih.
Kelicikan kekuasaan yang ramah ini juga tampak dalam bagaimana Han membaca ulang buku terkenal Naomi Klein, The Shock Doctrine. Klein menggambarkan bagaimana rezim neoliberal—lewat sosok seperti ekonom Milton Friedman—memanfaatkan momen keterkejutan dan bencana untuk memaksakan reformasi pasar bebas, mirip dengan eksperimen kejam psikiater Ewen Cameron yang menghapus ingatan pasiennya lewat sengatan listrik demi menanamkan “kepribadian baru”. Namun Han berargumen bahwa Klein sesungguhnya keliru memahami cara kerja psikopolitik neoliberal yang sesungguhnya. Sengatan listrik, penyiksaan, dan segala bentuk kejut bersifat negatif—ia melumpuhkan dan mengosongkan jiwa lewat kekerasan. Psikopolitik neoliberal justru bekerja dengan cara yang sebaliknya: bukan lewat “obat pahit” yang dipaksakan, melainkan lewat rayuan yang menyenangkan hati. Ia tidak melumpuhkan hasrat, melainkan mendahuluinya, membacanya, dan mengarahkannya sebelum hasrat itu sempat disadari.
Kemampuan untuk mendahului dan mengarahkan hasrat inilah yang, bagi Han, mencapai puncaknya dalam fenomena media sosial dan pengumpulan data raksasa yang disebut big data. Berbeda dengan panoptikon klasik ala Jeremy Bentham—yang mengurung dan mengawasi narapidana secara paksa dari luar—panoptikon digital hari ini dijalankan secara sukarela oleh penghuninya sendiri. Kita membuka diri, memamerkan hidup kita, dan membagikan data pribadi kita bukan karena dipaksa, melainkan karena dorongan batin untuk dilihat dan diakui. Big Brother, kata Han, tidak lagi perlu mengawasi kita dari kejauhan seperti dalam novel Orwell; ia kini cukup bersikap ramah, dan kita sendiri yang akan menyerahkan segalanya. Pengawasan berubah menjadi pengarahan (steering): dengan menganalisis pola perilaku jutaan manusia, kekuasaan tidak hanya bisa mengetahui apa yang telah kita lakukan, tetapi memprediksi—bahkan membentuk—apa yang akan kita lakukan, jauh sebelum kesadaran kita sendiri sempat mengambil keputusan. Bagi Han, inilah krisis kebebasan yang paling mendasar: bukan lagi sekadar privasi yang terancam, melainkan kehendak bebas itu sendiri yang mulai kehilangan maknanya.
Namun Han tidak berhenti pada kritik sosiologis. Ia juga menyerang klaim filosofis di balik euforia big data—gagasan bahwa dengan cukup banyak data, manusia akhirnya bisa mencapai pengetahuan yang sempurna tentang dirinya sendiri dan dunia. Dengan meminjam kerangka logika Hegel, Han menunjukkan bahwa data yang melimpah hanya mampu menghasilkan korelasi statistik—pengetahuan paling primitif, yang sekadar menyatakan “begitulah adanya” tanpa pernah benar-benar memahami “mengapa begitu”. Big data bersifat aditif: ia hanya bisa menjumlahkan dan menumpuk, tetapi tidak pernah sampai pada kesimpulan yang bermakna, sebagaimana sebuah narasi atau kisah hidup memiliki alur dan akhir. Karena itu, kata Han dengan nada yang hampir getir, zaman big data yang mengklaim dirinya sebagai zaman pengetahuan absolut sesungguhnya adalah zaman kebodohan absolut—zaman yang kehilangan “Roh” (Geist), kehilangan kemampuan untuk benar-benar berpikir dan memahami, sekaligus buta terhadap hal yang justru paling menentukan sejarah manusia: peristiwa yang tak terduga, yang unik, yang tidak bisa dihitung oleh statistik mana pun.\
Di ujung bukunya, Han menawarkan sebuah jalan keluar yang tidak biasa. Ia berpaling pada Deleuze dan Nietzsche untuk merumuskan apa yang disebutnya “idiotisme”—sikap sang idiot atau orang bodoh, sosok yang sejak Socrates dan Descartes selalu menjadi figur pemberontak dalam sejarah filsafat, karena berani berpikir di luar arus konsensus dan keseragaman. Di tengah masyarakat transparansi yang menuntut agar segala sesuatu terus dikomunikasikan, dibagikan, dan diseragamkan, Han melihat harapan justru pada sosok yang berani menjadi asing, aneh, dan sunyi—yang menolak untuk terus-menerus larut dalam arus komunikasi tanpa henti yang menjadi ciri utama masyarakat digital kita.
Refleksi Kritis: Merenungkan Manusia Modern
Membaca kembali argumen Han hari ini, hampir satu dekade setelah buku ini pertama kali terbit, kita sulit untuk tidak merasa bahwa ia sedang menggambarkan diri kita sendiri dengan sangat akurat—bahkan mungkin lebih akurat dari yang ia bayangkan saat menulisnya.
Ambil saja fenomena budaya self-improvement dan hustle culture yang begitu mendominasi ruang digital kita: aplikasi pelacak kebiasaan, target harian yang harus dicentang satu per satu, konten motivasi yang menuntut kita untuk selalu “menjadi versi terbaik dari diri sendiri”.
Semua itu terasa begitu personal dan penuh semangat kebebasan, padahal—jika kita mengikuti logika Han—ini persis apa yang ia sebut sebagai kompulsi optimalisasi diri yang berasal dari dalam, bukan dari luar. Tidak ada atasan yang memerintahkan kita untuk bangun jam empat pagi, berolahraga, membaca buku, dan mengejar produktivitas maksimal; kita sendiri yang menuntutnya dari diri kita, dan justru karena itu tuntutan tersebut terasa tak berbatas dan tak pernah cukup. Ketika kita gagal memenuhinya, yang muncul bukanlah kemarahan pada sistem, melainkan rasa bersalah dan malu pada diri sendiri—persis seperti yang diperingatkan Han: masyarakat yang membuat penghuninya berbalik menyerang dirinya sendiri, bukan melawan struktur yang menindasnya.
Begitu pula dengan algoritma media sosial yang kita gunakan setiap hari. Fitur seperti gulir tanpa akhir (infinite scroll), notifikasi yang muncul di waktu-waktu acak, dan sistem rekomendasi konten yang begitu memahami selera kita—semua ini adalah wajah kontemporer dari “kekuasaan yang cerdas” yang digambarkan Han. Kita tidak pernah merasa dipaksa untuk membuka aplikasi tersebut; kita merasa “ingin”, merasa “bebas memilih” untuk terus menggulirkan layar. Namun di balik rasa bebas itu, ada sistem yang telah mempelajari pola perilaku kita jauh lebih dalam daripada yang kita sadari sendiri, dan mengarahkan perhatian kita ke arah yang paling menguntungkan bagi platform tersebut secara komersial. Inilah yang oleh Han disebut sebagai pergeseran dari sekadar mengawasi menjadi mengarahkan—dan kini, dengan kehadiran kecerdasan buatan generatif yang mampu memprediksi preferensi kita bahkan sebelum kita menyadarinya, argumen Han tentang psikopolitik digital terasa semakin sulit dibantah.
Kritik Han terhadap mengenai big data sebagai “pengetahuan tanpa pemahaman” juga menemukan gaungnya dalam berbagai perdebatan mutakhir seputar bias algoritma, gelembung informasi (filter bubble), dan disinformasi yang menyebar lewat platform digital. Kita hidup di tengah lautan data yang belum pernah ada presedennya dalam sejarah manusia, namun anehnya, kualitas pemahaman kolektif kita terhadap persoalan-persoalan penting—perubahan iklim, kesehatan mental, polarisasi politik—justru terasa semakin dangkal dan terpecah-pecah. Barangkali inilah yang dimaksud Han sebagai hilangnya “Roh” di zaman data: kita memiliki lebih banyak informasi daripada generasi mana pun, tetapi belum tentu memiliki lebih banyak kearifan untuk memahaminya secara utuh.
Meski demikian, ada baiknya kita tidak menelan seluruh argumen Han begitu saja tanpa jarak kritis. Gaya penulisannya yang aforistik dan sarat kutipan filsafat memang memikat dan sering kali menohok, tetapi juga rentan menjadi terlalu general. Ketika Han menyatakan bahwa kelas sosial telah “lenyap” di bawah rezim neoliberal karena setiap orang kini menjadi pengusaha bagi dirinya sendiri, ia berisiko mengabaikan kenyataan bahwa ketimpangan ekonomi struktural dan eksploitasi tenaga kerja yang keras dan nyata—terutama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia—masih sangat hidup dan jauh dari kata “imaterial”. Tidak semua orang memiliki kemewahan untuk menjadi “ular” yang bebas menciptakan ruang geraknya sendiri; banyak yang masih terjebak sebagai “tikus tanah” dalam pengertian yang sangat harfiah, bekerja di pabrik dan gudang dengan jam kerja yang kaku dan diawasi ketat. Selain itu, tawaran solusi Han berupa “idiotisme”—sikap menolak konformitas secara personal—terasa agak rapuh sebagai jalan keluar, karena persoalan yang ia gambarkan sesungguhnya bersifat sistemik dan struktural, sesuatu yang sulit diselesaikan hanya lewat keberanian individu untuk menjadi berbeda.
Kesimpulan
Psychopolitics karya Byung-Chul Han bukan sekadar kritik terhadap media sosial atau kapitalisme digital semata, melainkan sebuah undangan untuk mempertanyakan kembali sesuatu yang selama ini kita anggap sudah pasti: makna kebebasan itu sendiri. Lewat perjalanan argumennya—dari tikus tanah yang berubah menjadi ular, dari biopolitik Foucault yang bergeser menjadi psikopolitik, dari kekuasaan yang mengancam menjadi kekuasaan yang merayu, hingga big data yang menjanjikan pengetahuan namun justru mengantar pada kekosongan—Han menunjukkan bahwa manusia neoliberal hari ini sesungguhnya adalah penjaga sekaligus tahanan bagi dirinya sendiri, mengawasi dan mengeksploitasi jiwanya sendiri dengan penuh sukacita, tanpa perlu ada penindas dari luar yang memaksanya.
Terlepas dari sejumlah kelemahan, terutama kecenderungannya untuk menggeneralisasi dan minimnya tawaran solusi yang benar-benar struktural, buku ini tetap menjadi alat berpikir yang sangat tajam untuk membaca kehidupan digital kita hari ini—mulai dari budaya produktivitas yang tak pernah puas, algoritma yang membaca hasrat kita lebih baik daripada kita sendiri, hingga euforia data raksasa yang mengaburkan batas antara pengetahuan dan ketidaktahuan. Pada akhirnya, Han mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri, di tengah segala kesibukan mengoptimalkan diri dan membagikan hidup kita ke dunia maya: benarkah kita sedang bebas, ataukah kita hanya sedang dibebaskan untuk menundukkan diri kita sendiri dengan cara yang jauh lebih halus dan lebih sulit disadari daripada penindasan mana pun sebelumnya?
Referensi by book
“Psychopolitics: Neoliberalism and New Technologies of Power karya Byung-Chul Han”







