Ketika Menjadi Guru Dianggap Opsi Terakhir

Beberapa waktu lalu dimalam hari, aku menemani seseorang yang sedang Work From Café (WFC). Sambil dia mengerjakan pekerjaannya, kami mengobrol banyak hal, dari pekerjaannya, sekolah, pendidikan, hingga profesi guru. Awalnya aku mengira obrolan itu akan berakhir  seperti diskusi biasa. Ternyata tidak. Ada satu bagian yang membuatku benar-benar berpikir  sampai sekarang. 

Dia bilang, “Kalau nanti aku punya keponakan atau saudara yang mau kuliah, aku nggak bakal  nyaranin mereka masuk jurusan pendidikan. Mending ambil jurusan murni aja.” 

Aku langsung penasaran. 

“Kenapa?” 

Dia menjelaskan kalau jurusan murni, misalnya Fisika Murni, Matematika Murni, Kimia  Murni, atau Biologi Murni, mempelajari bidang ilmunya jauh lebih dalam. Menurutnya,  mahasiswa jurusan pendidikan harus membagi fokus antara mata kuliah bidang ilmu dan mata kuliah kependidikan. Istilahnya, sekitar 50 persen belajar ilmunya, 50 persen lagi belajar  pendidikan. 

Sedangkan mahasiswa jurusan murni benar-benar fokus mendalami ilmunya. Kalau setelah  lulus ingin menjadi guru, tinggal mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG). 

Dia juga menambahkan, “Kalau menurutku, mata kuliah kependidikan itu sebenarnya bisa  dipelajari sendiri. Teori tentang cara mengajar, psikologi pendidikan, strategi pembelajaran,  atau kurikulum kan bisa dibaca sendiri. Jadi lebih untung kalau dari awal ambil jurusan murni.” 

Aku mendengar tanpa menyela. Memang benar, kurikulum jurusan murni biasanya lebih  banyak membahas pendalaman materi dibandingkan jurusan pendidikan.

Tapi kemudian dia mengucapkan satu kalimat yang membuatku benar-benar speechless. “Kalau lulusan jurusan murni mau jadi guru itu bisa. Tapi kalau lulusan jurusan pendidikan  mau kerja di kantor, itu kurang bisa.” 

Aku langsung diam. 

Bukan karena aku tersinggung sebagai lulusan pendidikan. Tapi karena aku menangkap  sesuatu. Seolah-olah profesi guru adalah opsi terakhir. Seolah-olah menjadi guru adalah  pekerjaan cadangan ketika pilihan karier lain tidak berhasil. 

Kalau dipikir-pikir, semua orang mungkin bisa menguasai sebuah ilmu. Tapi belum tentu  semua orang bisa mengajar. 

Mengajar itu bukan sekadar berdiri di depan kelas lalu menjelaskan materi. Mengajar adalah  tentang bagaimana membuat siswa yang awalnya bingung menjadi paham. Bagaimana  menghadapi anak yang tidak percaya diri, anak yang terlalu aktif, anak yang pendiam, atau  anak yang sama sekali kehilangan semangat belajar. 

Aku setuju bahwa teori bisa dipelajari sendiri. Sekarang zamannya internet. Mau belajar apa  pun tinggal buka YouTube, baca jurnal, atau ikut webinar. Tapi apakah membaca teori tentang  mengajar sama dengan benar-benar mampu mengajar? 

Menurutku, jawabannya belum tentu. 

Sama seperti membaca buku tentang berenang tidak otomatis membuat seseorang bisa  berenang. Atau membaca buku tentang public speaking tidak langsung membuat seseorang  percaya diri berbicara di depan ribuan orang. Ada proses latihan, praktik, evaluasi, bahkan  refleksi yang harus dilalui. Begitu juga dengan menjadi guru. 

Mahasiswa jurusan pendidikan tidak hanya belajar teori. Mereka juga belajar bagaimana  menyusun perangkat pembelajaran, membuat asesmen, memahami psikologi perkembangan  peserta didik, melakukan microteaching, hingga praktik mengajar secara langsung di sekolah.

Semua pengalaman itu tidak datang begitu saja hanya karena seseorang membaca buku. Menurutku, kemampuan mengajar adalah perpaduan antara ilmu, pengalaman, dan latihan  yang terus-menerus. 

Hal lain yang membuatku berpikir adalah anggapan bahwa lulusan jurusan pendidikan kurang  cocok bekerja di luar dunia pendidikan. 

Selama kuliah, mahasiswa pendidikan juga belajar komunikasi, kepemimpinan, presentasi,  penelitian, pemecahan masalah, berpikir kritis, hingga bekerja sama dalam tim. Soft skillseperti  itu justru sangat dibutuhkan di banyak bidang pekerjaan. 

Faktanya, tidak sedikit lulusan pendidikan yang bekerja di perusahaan, lembaga pelatihan,  HRD, dunia startup, instansi pemerintah, content creator edukasi, bahkan membangun  bisnisnya sendiri. 

Sebaliknya, banyak juga lulusan jurusan murni yang akhirnya memilih menjadi guru dan  berhasil menjadi pendidik yang luar biasa. 

Artinya, kemampuan seseorang tidak bisa diukur hanya dari nama jurusannya, yang  menentukan adalah bagaimana ia terus belajar setelah lulus. 

Obrolan malam itu membuatku sadar bahwa sampai sekarang masih ada stigma yang  memandang profesi guru sebagai pilihan kedua. Padahal kalau kita mau jujur, semua profesi  hebat di dunia ini lahir karena pernah diajar oleh seorang guru. 

Dokter pernah menjadi murid. 

Insinyur pernah menjadi murid. 

Hakim pernah menjadi murid. 

Peneliti pernah menjadi murid.

Pengusaha sukses pun pernah duduk di bangku sekolah dan belajar dari seorang guru. 

Ironis rasanya ketika profesi yang melahirkan hampir semua profesi justru sering dianggap  sebagai pekerjaan cadangan. 

Menurutku, tidak ada yang salah jika seseorang mengambil jurusan murni lalu menjadi guru  melalui PPG. Jalur itu memang ada dan memiliki tujuan yang baik. 

Begitu pula tidak ada yang salah memilih jurusan pendidikan sejak awal karena memang  memiliki cita-cita menjadi pendidik. 

Keduanya sama-sama berharga. Yang satu memperdalam ilmunya, yang satu memperdalam  cara menyampaikan ilmu. Dunia pendidikan membutuhkan keduanya. 

Aku tidak menulis ini untuk mengatakan bahwa pendapat orang yang mengajakku berdiskusi  salah. Justru aku senang karena obrolan itu membuatku melihat sudut pandang yang berbeda. Namun, dari percakapan itu aku juga belajar bahwa kita perlu lebih berhati-hati ketika  memandang profesi guru. 

Jangan sampai kita tanpa sadar menempatkan guru sebagai “pilihan terakhir”. Karena ketika  profesi guru hanya dianggap sebagai pelarian, kita sedang meremehkan peran orang-orang  yang setiap hari membentuk cara berpikir, karakter, dan masa depan generasi berikutnya. 

Mungkin kita boleh berbeda pendapat tentang jalur pendidikan mana yang lebih baik. Tapi  semoga kita sepakat pada satu hal, bahwa menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan  sebuah profesi yang membutuhkan ilmu, keterampilan, empati, komitmen, dan kemauan untuk  terus belajar. 

Karena pada akhirnya, masa depan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh siapa yang  paling pintar. Tetapi juga oleh siapa yang mengajarkan kepintaran itu kepada generasi  berikutnya.