Kekhawatiran mengenai otentisitas al-Qurʿān menjadi suatu fenomena di dunia akademisi historis modern. Al-Azami menemukan berbagai serangan dari beberapa Orientalis atau sejarawan Barat terhadap keabsahan sumber sejarah yang menjadi argumen keaslian al-Qurʿān. Kemudian beliau mencoba menjawab tantangan tersebut dalam buku yang berjudul “The History of the Quranic Text from Revelation to Compilation“. Dibangun dalam tiga bagian yang memuat 20 bab, al-Azami membela keyakinan bahwa teks yang dipegang hari ini memang sama dengan apa yang diturunkan kepada Nabi ﷺ.
Buku ini memuat tiga bahasan untuk menjawab satu hal. Bagian pertama menjelaskan analisis sejarah yang dilakukan secara pribadi lewat sumber primer. Bagian kedua membandingkan “kekokohan” historis al-Qurʿān dengan Perjanjian Lama dan Baru. Kemudian, bagian terakhir menncoba menunjuk titik masalah historisitas Naṣ di Barat yang didominasi oleh bias. Al-Azāmi ingin menyampaikan bahwa kekhawatiran ini berasal dari iklim kesejarahan al-Qurʿān di Barat yang terlalu skeptis dan berat sebelah Ketika menimbang otentisitas al-Qurʿān.
Al-Azāmi memulai bukunya dengan pendahuluan yang mengeksplisitkan latar belakang historiografi Barat sebagai masalah Utama. Tesis yang diterbitkan oleh Toby Lester yang berjudul “What is the Qurʿān” melayangkan kritik bagi muslim, bahwa mereka tidak mampu membela keaslian teks utama secara akademis. Al-Azāmi tidak menyetujui tesis Lester. Sebagai seorang peneliti Islam yang mengenyam Pendidikan di dunia Islam sekaligus Barat (al-Azhār, 1955 dan Chicago, 1966), al-Azāmi berniat membantah tuduhan tersebut dengan menulis monograf yang bersumber pada teks turāth dengan lensa akademik popular pada milieu-nya. Karya-karya sebelumnya menunjukkan bahwa monograf ini bukan respon pertama al-Azāmi terhadap serangan skeptis Barat terhadap historisitas Islam.
Bagian pertama “The History of the Quranic Text” membahas alur sejarah al-Qurʿān secara kronologis dengan penyajian yang diharapkan mampu memenui tantangan Lester. Al-Azāmi memulai pemaparan dengan menyajikan konteks Arab pada masa pra-Islam, pilihan yang cukup elegan karena menyesuaikan dirinya dengan tren intelektual pada masa kini, yakni studi Late Antiquity. Hal senada ditunjukkan dengan analisa filologis dan perbandingan manuskrip. Setelah memberikan beberapa konteks yang dianggap memadai sebagai bangunan argumen, al-Azāmi menarasikan kronologi teks al-Qurʿān dalam pemahaman konvensional Islām, tetapi dibalut dengan gaya akademik.
Gaya yang dimaksud terletak pada beberapa aspek. Al-Azāmi melakukan verifikasi sumber primer dan sekunder, argumen yang koheren dengan klaim, kemudian pengakuan atas pandangan para ʿulama yang tidak satu suara mengenai aspek detail historiografi al-Qurʿān. Gaya selanjutnya adalah sistematika pembahasan per bab yang cukup konsisten, dimulai dari masalah, eksplorasi, pembahasan, pandangan yang berkonflik, dan diakhiri dengan kesimpulan. Penyusunan monograf dengan kerangka ini menjadi bukti keseriusan sekaligus fokusnya al-Azāmi untuk membela bahwa historiografi al-Qurʿān yang dilakukan internal Islām dapat mengikuti tren akademi di Barat.
Monograf ini mampu menyajikan pandangan historis umat Islām dalam gaya akademik Barat. Tapi analisa mendalam memang membuka beberapa asumsi yang tersembunyi atau bahkan disembunyikan berdasarkan pandangan pribadi al-Azāmi. Setidaknya, buku ini mampu mengurangi kekhawatiran yang muncul pada penganut Islām kontemporer, meskipun nilai temuannya kemudian dipertanyakan oleh sejarawan Barat. Walhasil, kontribusi al-Azāmi bagi bidang kajian ini terletak pada menerjemahkan pandangan historis muslim tentang al-Qurʿān ke dalam arena diskursus Islamic Studies Barat.






