Catatan
Aku menulis cerita ini sebagai alegori yang terlalu nyata.
Kota tanpa penulis adalah potret zaman: ruang di mana teks berlimpah,
Mesin tidak merampas kebenaran; manusialah yang menyerahkannya demi efisiensi.
Bahasa pasca-kejujuran ditandai oleh tiga gejala utama:
pertama, penghapusan posisi subjek;
kedua, fetisisme struktur;
ketiga, penyangkalan tanggung jawab.
Aku hidup di antara kalimat yang tidak pernah memilih
mereka disusun, lalu dilepas
tanpa pernah tahu apa yang mereka korbankan
Kata-kata kini bekerja seperti buruh kontrak
efisien, patuh, meski tanpa sejarah kelam
mereka tidak mengenal malam
tidak mengenal ragu
tidak mengenal harga dari sebuah pengakuan
Datang dengan wajah asing
Karena terlalu lama dipinjam tanpa izin
Bahasa yang Mengaku Hidup
Aku kembali menulis setelah menyadari satu hal yang paling memalukan dari zaman ini:
Manusia berbohong karena malas berpikir… terhampar teks-teks yang mengaku reflektif, mengaku personal… lahir dari pengalaman.
Aku menyebutnya bahasa yang telah diawetkan sebelum mati.
Di titik ini, mesin hanya mempercepat sesuatu yang sudah basi.
Aku membedah satu teks, lalu teks lain. Polanya konsisten:
– tidak ada posisi yang berbahaya
– tidak ada pernyataan yang berpotensi merusak relasi
– tidak ada kalimat yang membuat penulisnya kehilangan tempat
Seperti itulah…
… tulisan yang lahir dari ketakutan sosial,
Aku muak!!! pada penulis yang menyembunyikan keterlibatan mesin sambil berkhutbah tentang kejujuran… Mesin lebih jujur daripada manusia yang memakainya.
Mesin tidak pernah mengklaim pengalaman;
Aku menulis dari posisi sebaliknya…
Aku mengakui ketergantungan zaman…
Aku mengakui intervensi teknologi…
Aku menolak menghapus tanggung jawab…
Padahal pengakuan adalah satu-satunya bentuk kekuatan yang tersisa…
Tanpa itu, bahasa menjadi suara tanpa Alamat,
Cukup bergema saja…
Bari gaje;
… bahwa pernah ada
seseorang;
… yang tidak sepenuhnya menyerah
Dan posisi selalu lebih berbahaya…
daripada jawaban,
Titik.
(Des).








