Suatu malam saya duduk bersama beberapa mahasiswa aktivis dalam forum nonton bareng film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Film itu sedang ramai dibicarakan setelah pemutarannya dibubarkan di beberapa daerah. Lucu juga sebenarnya. Di negeri yang begitu santai menghadapi korupsi, tambang rakus, dan janji politik palsu, justru acara mahasiswa duduk lesehan menonton film dianggap cukup berbahaya untuk dibubarkan.
Kadang republik ini memang punya standar ketakutan yang unik
Malam itu suasana terasa sangat kampus. Kopi sachet, rokok yang tidak pernah putus, kipas angin yang bunyinya lebih keras dari moderator, dan mahasiswa yang kalau diskusi sudah mulai panas tiba-tiba merasa dirinya perpaduan antara filsuf, aktivis, dan calon revolusioner. Tapi justru di ruang-ruang seperti itu biasanya percakapan paling jujur lahir.
Filmnya memang bicara soal Papua, tetapi yang membuat forum malam itu hidup bukan hanya soal konflik di timur Indonesia. Yang lebih terasa justru kemarahan kecil yang selama ini dipendam mahasiswa: kenapa negara sering begitu alergi terhadap kritik?
Saya melihat beberapa mahasiswa malam itu bicara dengan nada serius, sebagian emosional, sebagian lagi mulai “tancap gas” dengan teori sana-sini. Dan anehnya saya malah menikmati itu. Sebab di tengah kampus yang makin sibuk dengan administrasi, akreditasi, hibah, dan seminar formal yang kadang lebih banyak basa-basinya daripada isinya, forum seperti itu terasa lebih jujur sebagai ruang belajar.
Di situ saya teringat pada Pramoedya Ananta Toer yang pernah bicara soal idealisme anak muda. Memang kadang mahasiswa itu naif. Kadang terlalu berisik. Kadang merasa bisa menyelamatkan dunia hanya modal diskusi dan kopi dua gelas. Tapi sejarah juga sering bergerak dari orang-orang muda yang awalnya cuma dianggap ribut.
Barangkali itu sebabnya penguasa sering gelisah melihat mahasiswa mulai rajin berdiskusi.
Sebab demonstrasi masih bisa dibubarkan. Spanduk bisa dicopot. Poster bisa diturunkan. Tapi kalau orang sudah mulai terbiasa berpikir dan mempertanyakan sesuatu, itu lebih repot urusannya. Kesadaran tidak bisa dibredel semudah baliho.
Saya jadi teringat juga pada Ivan Illich yang mengkritik pendidikan formal terlalu kaku dan birokratis. Lucunya, hari ini kampus sering kali malah lebih sibuk mengurus stempel daripada membangun keberanian berpikir. Mahasiswa dipaksa rapi secara administrasi, tetapi pelan-pelan takut bersikap.
Maka ketika ada forum kecil yang isinya anak-anak muda mulai bicara soal ketidakadilan, itu terasa seperti barang langka.
Dan mungkin memang itu yang membuat negara panik
Karena film dokumenter hari ini bukan sekadar tontonan. Ia bisa berubah menjadi ruang refleksi bersama. Apalagi di zaman media sosial ketika potongan video, diskusi kecil, atau bahkan meme receh bisa lebih cepat menyebar daripada pidato pejabat.
Negara tampaknya mulai sadar bahwa kreativitas kadang lebih susah dikendalikan daripada demonstrasi jalanan. Kritik hari ini tidak selalu datang dari pengeras suara aksi massa. Kadang ia muncul dari film, musik, stand up comedy, mural, atau obrolan mahasiswa yang berlangsung sampai tengah malam sambil rebutan colokan terminal.
Yang ironis, pembubaran pemutaran film justru membuat film itu semakin terkenal. Orang yang awalnya tidak tahu malah jadi penasaran. Mungkin aparat lupa satu hal: di era internet, larangan sering kali berubah jadi promosi gratis.
Tetapi dari semua itu, ada satu hal yang paling mengganggu pikiran saya malam itu. Kenapa kekuasaan begitu takut pada ruang diskusi?
Padahal mahasiswa cuma duduk menonton film, bukan sedang menyusun kudeta. Tidak ada tank. Tidak ada senjata. Paling berbahaya mungkin hanya teori-teori yang terlalu semangat keluar selepas sesi tanya jawab.
Namun mungkin memang di situlah letak ketakutannya
Kekuasaan selalu lebih nyaman menghadapi rakyat yang sibuk scrolling daripada rakyat yang mulai berdiskusi. Sebab diskusi melahirkan pertanyaan, dan pertanyaan sering kali menjadi awal dari kesadaran.
Malam itu saya akhirnya sadar, forum kecil tersebut sebenarnya bukan sekadar acara nobar. Ia adalah pengingat bahwa kampus seharusnya tidak hanya melahirkan sarjana yang pandai mencari kerja, tetapi juga manusia yang berani mempertanyakan kenyataan.
Sebab ketika negara mulai takut pada film dokumenter dan forum mahasiswa, mungkin yang sedang bermasalah bukan filmnya, melainkan kekuasaan yang terlalu lama hidup tanpa kritik.




