Tuhan Tidak Bermain Dadu (Bagian 4): Ketika Bandar Mengatasnamakan Tuhan

Di Bagian 3 seri sebelumnya dengan judul: ”
Tuhan Tidak Bermain Dadu (Bagian 3): Lantas Mengapa Kita Terus Bertaruh pada Nama-Nya?” kita sepakat pada satu hal yang memalukan: kita semua penjudi.

Kita melempar dadu kehidupan kita kepada sebuah Nama. Entah itu Allah, Tuhan, Semesta, Takdir, atau sekadar “Mungkin Ada Sesuatu”. Kita melakukannya bukan karena kita bodoh, tapi karena tangan kosong itu berat. Butuh gagang untuk memeluk kecemasan.

Tapi cerita tidak berhenti di situ.

Masalahnya dimulai ketika ada yang melihat kita sedang bingung memegang dadu itu, lalu mendekat dan berbisik: “Sini, biar kami yang pegang. Lemparkan ke sini, kami tahu cara membacanya.”

Dan kita kasih. Tentu saja kita kasih.

Karena jujur saja, tawaran itu melegakan. Ada orang yang mau mengambil alih beban menafsir hidup kita. Ada orang yang terlihat begitu yakin di dunia yang isinya cuma orang-orang bingung. Yakin itu menular. Yakin itu terlihat seperti kebenaran.

Dan di celah kelegaan itulah mereka masuk.

Mereka tidak datang dengan tanduk. Mereka datang dengan jawaban.

Awalnya cuma bantu bacain dadu kita. “Oh, hidupmu susah begini karena kamu kurang ini, kurang itu.” Enak didengar. Seolah ada sebab, ada peta. Lalu pelan-pelan, dadunya tidak lagi di tangan kita. Pindah ke tangan mereka.

Kita pikir kita sedang dituntun menuju Tuhan. Padahal kita cuma sedang digiring menuju loket.

Loketnya banyak namanya. Ada yang namanya Majelis Paling Benar. Ada yang namanya Komunitas Orang Selamat. Ada yang namanya Guru Yang Tidak Pernah Salah. Beda spanduk, sama kasirnya.

Di sinilah masalah sebenarnya dimulai.

Bukan ketika kita percaya Tuhan itu ada. Itu naluri. Itu manusiawi.

Masalahnya adalah ketika ada manusia yang merasa punya hak cipta atas Tuhan. Yang merasa jadi distributor tunggal.

Dan kita gak sadar kapan tepatnya kita pindah dari posisi pencari jadi pelanggan.

Ritual Cuci Tangan

Bandar itu pintar. Dia tidak pernah bilang “sembah aku”.

Dia bilang, “sembah Tuhan, lewat aku.”

Itu beda tipis tapi fatal. Dengan begitu kalau dia salah, yang malu tetap Tuhan. Kalau dia berbuat jahat, dia bisa cuci tangan pakai ayat. Tangan dia tetap bersih, nama Tuhan yang belepotan.

Dan kita yang melihatnya belepotan, kita jadi bingung. Yang salah Tuhannya atau bandarnya?

Kebanyakan dari kita akhirnya menyimpulkan: “Ah, ternyata Tuhan sekejam itu.”

Padahal bukan.

Tuhan yang kejam itu bukan Tuhan. Itu bandar yang sedang pakai topeng Tuhan.

Coba perhatiin cara mainnya.

Dia butuh Tuhannya terlihat menyeramkan. Kenapa? Karena kalau Tuhannya ramah, pemaaf, dan gampang ditemui, untuk apa kamu butuh dia?

Jadi dia setting.

Dia bikin Tuhan jadi sosok yang gampang marah, gampang tersinggung, hitungannya rinci, gampang ngirim azab untuk kesalahan kecil. Tuhan yang kayak satpam komplek, bukan kayak rumah.

Setelah kamu takut sama Tuhan buatannya itu, baru dia datang sebagai pahlawan.

“Sini sama saya, nanti saya bantu ngomongin ke Tuhan biar kamu aman.”

Lihat? Dia yang bikin kamu takut, dia juga yang jual obat takutnya. Itulah ritual cuci tangannya.

Kita Yang Akhirnya Ikut Cuci Tangan

Masalahnya tidak berhenti di dia yang cuci tangan.

Masalahnya adalah ritualnya menular.

Karena kita lihat dia. Setiap kali dia salah, dia tidak pernah salah. Yang salah selalu Tuhan yang sedang menguji, atau setan yang sedang menggoda, atau umat yang kurang iman.

Tangan dia tetap bersih terus.

Lama-lama kita yang di bawah jadi belajar. Oh, begitu caranya biar tetap merasa benar.

Dan tanpa sadar, kita mulai ikut.

Kita mulai pakai nama Tuhan juga buat cuci tangan kita sendiri.

Waktu kita jahat sama orang lain, kita bilang, “Ini bukan aku yang jahat, ini aku sedang menegakkan kebenaran.”

Waktu kita malas mikir, kita bilang, “Sudahlah, ini sudah takdir Tuhan.”

Waktu kita gagal, kita tidak bilang “aku salah strategi”. Kita bilang “Tuhan belum kasih jalan.”

Lihat? Kita jadi mini bandar.

Bandar besar cuci tangan pakai ayat biar dia tetap suci.
Kita yang kecil cuci tangan pakai takdir biar kita tetap gak perlu tanggung jawab.

Dan di titik inilah rantai itu jadi sempurna.

Bandar sudah tidak perlu teriak-teriak lagi. Karena kita yang meneruskan tokonya. Kita yang menjaga agar tidak ada yang bertanya. Karena kalau ada yang bertanya dan bongkar tokonya, kita juga harus ngaku kalau selama ini kita juga ikut cuci tangan.

Bandar Takut pada Orang yang Berani Berpikir

Bandar tidak pernah benar-benar takut pada orang yang tidak percaya Tuhan.
Yang paling mereka takutkan justru orang yang tetap mencari Tuhan, tetapi berani berpikir sendiri.

Sebab bandar hidup dari ketergantungan. Selama kita merasa harus selalu ada orang yang menafsirkan Tuhan untuk kita, selama itu pula dagangannya laku.

Mereka menjual kepastian di dunia yang penuh ketidakpastian.

Padahal, tidak semua pertanyaan memang harus dijawab. Ada hal-hal yang justru membuat manusia tetap rendah hati dengan mengakui, “Aku belum tahu.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi bandar, itu ancaman. Karena saat seseorang berani berkata “aku belum tahu”, ia sedang membuka ruang untuk mencari, bukan sekadar menerima.

Mungkin itulah sebabnya bandar paling takut pada orang yang tetap beriman, tetapi tidak mau menyerahkan dadunya kepada siapa pun selain dirinya sendiri.
Sebab sejak saat itu, ia bukan lagi pelanggan. Ia kembali menjadi pencari.

Harga Sebuah Pertanyaan

Tetapi bandar tidak pernah menyerah begitu saja.

Kalau dia tidak bisa menghentikan orang berpikir, dia akan membuat berpikir terasa mahal.

Pertanyaan tidak lagi dijawab.
Pertanyaan diberi harga.

Orang yang bertanya disebut kurang iman.
Yang mengkritik disebut pembangkang.
Yang ragu disebut sedang digoda.

Lalu perlahan kita belajar satu hal yang berbahaya.

Bukan bagaimana mencari kebenaran.
Melainkan bagaimana menghindari hukuman.

Akhirnya kita berhenti bertanya, bukan karena sudah menemukan jawaban, tetapi karena lelah dicurigai.

Padahal setiap pengetahuan yang kita miliki hari ini lahir dari seseorang yang berani bertanya kemarin.

Ironisnya, bandar menikmati keadaan itu.
Semakin sedikit pertanyaan, semakin sedikit pekerjaannya.

Ia tidak lagi perlu menjelaskan.

Ia cukup mengulang, “Pokoknya begitu.”
Dan anehnya, kalimat itu sering terdengar lebih suci daripada penjelasan panjang.
Di titik ini, iman berubah bentuk.

Ia tidak lagi menjadi perjalanan.
Ia menjadi ruang tunggu.

Orang-orang duduk rapi, menunggu jawaban dibagikan dari depan.

Tidak ada yang berani berdiri.

Tidak ada yang berani membuka pintu.

Karena mereka sudah diyakinkan bahwa di luar ruangan hanya ada kesesatan.

Padahal bisa jadi, yang selama ini terkunci bukan pintunya.

Melainkan keberanian kita untuk memutar gagangnya.

Dan mungkin itulah kemenangan bandar yang paling sunyi.

Bukan ketika semua orang percaya kepadanya.

Akan tetapi, ketika semua orang lupa bahwa berpikir juga bisa menjadi salah satu bentuk ibadah.

Ketika Rasa Aman Lebih Mahal daripada Kebebasan

Pada akhirnya, yang dijual bandar bukanlah Tuhan.
Yang dijual adalah rasa aman.
Manusia rela membayar mahal untuk itu.
Bukan hanya dengan uang.

Tetapi juga dengan akal, dengan keberanian, bahkan dengan kebebasannya sendiri.
Sebab berpikir itu melelahkan.

Meragukan diri sendiri itu menyakitkan.
Mengakui bahwa kita mungkin keliru jauh lebih berat daripada menyerahkan seluruh keputusan kepada orang lain.

Maka lahirlah transaksi yang paling sunyi.
“Kamu tidak usah berpikir. Kami yang pikirkan.”

“Kamu tidak usah mencari. Kami sudah menemukan.”

“Kamu tidak usah bingung. Kami sudah punya semua jawabannya.”
Dan kita mengangguk.

Bukan karena semuanya masuk akal.
Melainkan karena hidup memang terasa lebih ringan ketika ada orang lain yang bersedia memikul seluruh beban keyakinan kita.

Tetapi ada harga yang diam-diam dibayar.
Semakin besar rasa aman yang kita beli, semakin kecil ruang kebebasan yang kita miliki.

Pelan-pelan kita tidak lagi takut kehilangan Tuhan.

Kita justru takut kehilangan bandar.
Padahal Tuhan tidak pernah meminta manusia menjadi tawanan.

Yang membuat penjara itu nyaman adalah kita sendiri.

Karena tidak semua kandang dibuat dari besi.

Ada kandang yang dibuat dari rasa aman.
Dan justru itulah yang paling sulit ditinggalkan.

Mengambil Kembali Dadu Itu

Mungkin pertanyaannya sekarang bukan lagi, “Siapa bandar itu?”

Kita sudah terlalu lama sibuk menunjuk orang lain.

Barangkali pertanyaan yang lebih jujur adalah:
“Masihkah daduku ada di tanganku sendiri?”
Sebab selama hidup kita masih ditentukan oleh ketakutan yang dipelihara orang lain, selama kita masih takut berpikir karena khawatir dicap sesat, selama kita lebih percaya pada suara manusia daripada suara hati yang terus mencari, mungkin kita belum benar-benar berjalan menuju Tuhan.

Kita baru berjalan mengelilingi loket.
Mengambil kembali dadu itu bukan berarti merasa paling benar.

Justru sebaliknya. Itu berarti berani memikul tanggung jawab atas setiap keyakinan yang kita pilih.

Berani berkata, “Aku belum tahu.”

Berani mengubah pendapat ketika menemukan kebenaran yang lebih jernih.

Dan berani menerima bahwa mencari Tuhan bukan pekerjaan yang bisa diwakilkan.

Karena iman yang dipinjam mungkin bisa membuat kita tenang.

Tetapi hanya iman yang dicari sendiri yang bisa membuat kita bertumbuh.

Mungkin itulah ironi terbesar dalam seluruh permainan ini.

Selama ini kita mengira sedang mencari Tuhan.

Padahal sering kali yang kita cari hanyalah seseorang yang bersedia berpikir menggantikan kita.

Dan mungkin, sejak awal, Tuhan tidak pernah meminta kita memenangkan permainan ini.

Ia hanya meminta satu hal yang jauh lebih sulit: “Jangan pernah menyerahkan dadu kehidupanmu kepada manusia yang mengaku paling tahu isi pikiran-Nya.”

Seorang akademisi dan intelektual publik yang memosisikan kerja intelektual saya dalam kerangka tradisi pemikiran kiri. Ketertarikan utama saya terletak pada kajian filsafat sosial, ekonomi politik kritis, dan teori budaya sebagai instrumen untuk memahami struktur-struktur yang membentuk kondisi material dan eksistensial manusia. Pekerjaan saya sebagai peneliti independen yang suka mengulik bobroknya negeri ini.