Bisa dibilang, mungkin saya seorang pencinta buku. Ada kepuasan tertentu ketika memegang buku baru, mencium aroma kertasnya, dan membalik halaman per halamannya. Kegiatan membaca selain terasa lebih fokus dibanding gawai dengan berbagai notifnya, juga berasa lebih keren saja. Buku cetak bagi saya, memberi kenyamanan yang sulit ditemukan pada berkas digital. Perasaan ini bertahan cukup lama, bahkan ketika saya menjadi kolektor kitab-kitab turas di pondok dulu.
Belakangan, bisa jadi kenyamanan itu cukup agak diusik gara-gara baca buku Ekososialisme karya Kohei Saito. Sebetulnya filsuf muda dari Jepang ini awalnya memang lebih terfokus pada proyek MEGA-2, di mana mengurai kembali teks-teks Marx dari awal hingga akhir hayatnya, dan tentu mengubah persepsi saya terhadap Marx, di mana pada catatan-catatan akhir hayatnya, Marx lebih memfokuskan diri pada persoalan ekologi, dan bahwa yang dipersoalkan dari Saito, yang merusak lingkungan tak hanya Kapitalisme, tapi Sosialisme ala Soviet pun ala Tiongkok, tidak lebih sama pada persoalan perusakan lingkungan.
Gambaran ini, mengingatkan saya pada kondisi bahwa kertas yang menjadi bahan dasar buku, yang kita tahu berasal dari serat pohon. Proses produksinya membutuhkan kayu, air, energi, dan bahan kimia pemutih serat untuk jadi kertas dalam jumlah besar. Data FAO dan WWF menggambarkan bahwa industri pulp dan kertas termasuk salah satu konsumen kayu komersial terbesar di dunia. Untuk memproduksi satu ton kertas, dibutuhkan sekitar 10 sampai 20 pohon dewasa dan puluhan ribu liter air. Produksi kertas global mencapai ratusan juta ton per tahun. Angka-angka itu menempatkan buku sebagai bagian dari tekanan terhadap hutan.
Sialnya, gelisah tak tuntas di situ. Beberapa minggu lalu, sejumlah perusahaan teknologi yang mengembangkan Akal Imitasi (AI) dilaporkan membeli jutaan buku fisik. Buku-buku itu dipindai untuk dijadikan data pengembangan dan pelatihan untuk kecerdasan mesin. Selain proses pemindaiannya dengan cara dipangkas di bagian jilid, pada proses digitalisasi rampungnya pun, sebagian buku tidak disimpan, bahkan dihancurkan. Artinya, buku tidak lagi dicetak untuk dibaca manusia, tetapi untuk dikonsumsi mesin sebagai data.
Terbaru, di tanah yang kita bela ini, muncul rencana pencetakan ulang buku ajar sekolah dalam skala nasional. Program ini disoroti karena bahasa itu keluar dari pihak yang mempunyai pabrik industri kertas yang sempat mangkrak. Terlepas dari benar atau tidaknya dugaan tersebut, isu ini memperlihatkan bahwa buku selalu berada dalam tarik-menarik kepentingan ekonomi dan politik.
Buku yang semula saya anggap sebagai benda sederhana untuk menyimpan pengetahuan dan bungkus bala-bala, kini menjadi titik temu antara ekologis, industri, teknologi dan kekuasaan. Dengan catatan saya masih tetap mencintai buku fisik, dengan kondisi yang memaksa saya untuk mengurai kembali dampak dari kebiasaan membaca yang selama ini dilakoni.
Buku dan Industri Kertas
Buku cetak umumnya menggunakan kertas yang berasal dari serat kayu. Mayoritas bahan baku itu diambil dari pohon. Industri pulp dan kertas menjadi salah satu konsumen kayu komersial terbesar di dunia. FAO menuliskan sekitar 40 % kayu komersial global digunakan untuk produksi kertas. Angka ini mencakup berbagai jenis kertas, termasuk kertas koran, kemasan, tisu, dus, dan buku.
Produksi kertas global berada pada kisaran 400 juta ton per tahun. Jumlah itu terus bertambah dalam lima tahun terakhir. Produksi sebesar itu membutuhkan pasokan kayu yang stabil. Dampaknya terlihat pada pembukaan lahan untuk hutan tanaman indusrti (HTI). Di banyak negara, kebutuhan serat kayu mendorong konversi hutam alam menjadi lahan monokultur. WWF mencatat bahwa perluasan hutan tanaman industri jusrtu sering kali menggantikan hutan alam yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi.
Proses pembuatan kertas juga membutuhkan air dalam skala besar. Untuk memproduksi satu ton kertas, dibutuhkan sekitar 20.000 sampai 30.000 liter air. Pabrik kertas menggunakan bahan kimia untuk memisahkan serat kayu dan memutihkan kertas. Limbah cair dari proses ini juga mencemari sungai jika tidak diolah dengan betul. Environmental Paper Network menempatkan industri pulp dan kertas sebagai salah satu penyumbang utama pencemaran air di beberapa negara berkembang.
Indonesia masuk dalam daftar produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Data KLHK dan asosiasi industri menunjukkan produksi pulp Indonesia mencapai belasan juta ton per tahun. Sebagian besar hasil produksi itu diekspor. Sisanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, termasuk kertas buku, kertas fotokopi, dan kemasan. Perluasan hutan tanaman industri di Sumatra dan Kalimantan menjadi pemasok utama bahan baku. Sebagian lahan yang dipakai berasal dari hutan alam yang sudah terdegradasi. Sebagian lainnya berada di lahan gambut. Konversi lahan gambut melepaskan karbon dalam jumlah besar dan mempercepat perubahan iklim, bahkan kadurukan.
Untuk buku saja, konsumsi kertas di Indonesia bisa dihitung secara kasar. IKAPI misalnya, menunjukkan jumlah eksemplar buku cetak yang terbit setiap tahun berada pada kisaran puluhan juta. Jika satu buku rata-rata memakai 0,5 kilogram kertas, maka 50 juta eksemplar buku membutuhkan 25.000 ton kertas per tahun. Angka ini belum termasuk kertas untuk sampul, pembungkus, dan buku impor. Jumlah itu memang kecil dibandingkan konsumsi kertas kemasan, bahkan honor penulis lebih menyedihkan. Namun, buku tetap menjadi bagian dari permintaan kertas yang terus berjalan.
Saya memahami bahwa tidak semua kertas buku berasal dari penebangan liar. Sebagian besar produsen besar memakai kayu dari hutan tanaman industri yang ditanam khusus untuk dipanen. Sertifikasi FSC juga menjamin kayu berasal dari hutan yang dikelola secara lestari. Meskipun begitu, hutan tanaman industri tetap membawa dampak ekologis. Monokultur mengurangi keanekaragaman hayati. Penggunaan pupuk dan pestisida mencemari tanah. Jenis pohon seperti eukaliptus menyerap banyak air dan menurunkan muka air tanah.
Upaya yang Wallahu A’lam
Hutan tanaman industri sering disebut sebagai solusi karena tidak menebang hutan alam. Lahan ditanami satu jenis pohon seperti akasia atau eukaliptus yang dipanen dalam siklus pendek. Namun, sistem ini menciptakan monokultur. Keanekaragaman hayati di lahan monokultur jauh lebih rendah dibandingkan hutan alam. WWF menyebut penurunan keanekaragaman hayati pada hutan tanaman industri bisa mencapai 80 persen. Jenis pohon seperti eukaliptus juga menyerap banyak air. Di beberapa daerah, keberadaan hutan tanaman industri menurunkan muka air tanah dan mengganggu pasokan air masyarakat sekitar. Sebagian hutan tanaman industri dibangun di lahan gambut. Konversi lahan gambut melepaskan karbon dalam jumlah besar. Jadi, hutan tanaman industri tetap memiliki dampak ekologis yang serius.
Kertas daur ulang juga sering dianggap sebagai jawaban. Memakai kertas bekas berarti mengurangi jumlah pohon yang ditebang. Bahkan mendaur ulang satu ton kertas bisa menghemat sekitar 17 pohon. Namun, proses daur ulang tetap membutuhkan energi, air, dan bahan kimia. Tinta pada kertas bekas harus dihilangkan melalui proses de-inking. Proses ini menggunakan bahan kimia seperti soda api dan deterjen. Limbahnya harus diolah agar tidak mencemari air. Serat kertas juga tidak bisa didaur ulang selamanya. Setiap daur ulang memperpendek serat. Setelah lima sampai tujuh kali, serat menjadi terlalu lemah untuk dipakai kembali. Artinya, kertas daur ulang tetap membutuhkan serat baru dari pohon.
Alternatif serat non-kayu seperti bambu, ampas tebu, dan jerami mulai dikembangkan. Sumbernya bukan dari hutan, melainkan dari sisa pertanian atau tanaman budidaya. Namun, bahan baku ini umumnya berasal dari pertanian intensif. Pertanian intensif memakai pupuk kimia dan pestisida yang mencemari tanah dan air. Proses pengolahan serat non-kayu juga tidak selalu lebih mudah. Beberapa jenis serat non-kayu memiliki kandungan lignin yang sulit dihilangkan. Pengolahannya membutuhkan bahan kimia lebih banyak daripada kayu lunak. Dengan demikian, serat non-kayu bukan solusi yang sepenuhnya bersih.
Buku digital terlihat seperti jalan keluar karena tidak memakai kertas sama sekali. Namun, perangkat untuk membaca buku digital memiliki jejak ekologis sendiri. E-reader dan tablet dibuat dari logam langka yang ditambang dengan dampak lingkungan besar. Produksi satu perangkat e-reader menghasilkan jejak karbon yang setara dengan 30 sampai 70 buku fisik, tergantung pada intensitas pemakaian. Setelah rusak, perangkat menjadi limbah elektronik yang sulit didaur ulang. Buku digital juga membutuhkan server dan pusat data untuk menyimpan serta mengunduh berkas. Pusat data mengonsumsi listrik dalam jumlah besar. Sebagian besar listrik dunia masih berasal dari energi fosil.
Lalu Apa?
Kenyamanan saya terhadap buku fisikk memang tetap belum bisa digantikan. Selain bisa mencaci penulisnya, juga mencurat coret tiap halaman yang sulit dipahami. Hanya saja, kenyamanan selalu punya harga tawar. Setiap buku baru dengan bau segarnya, juga pastinya menambah permintaan kertas. Setiap buku baru dengan keplakan suara kertasnya, juga menambah beban produksi yang melibatkan pohon, air, energi, bahan kimia, dan tenaga penulis yang dibayar ikhlas.
Namun yang pasti, berhenti membaca tidak pula menjadi solusi untuk kita tetap menjaga alam raya, apalagi dibumbui dalih-dalih ekoteologis untuk tetap waras nan beriman. Hanya saja ini mah, mungkin tradisi periwayatan dari mulut ke mulut dengan menjaga integritas diri supaya menjadi informasi atau ilmu yang absah, jadi salah satu tradisi ilmu yang ramah lingkungan.
Sisanya Silakan Cek
- https://www.worldwildlife.org/our-work/forests/pulp-and-paper/
- https://www.fao.org/home/en/
- https://environmentalpaper.org/
- https://www.ikapi.org/
- https://fsc.org/en
- https://papercalculator.org/




