Isu gender yang semakin kompleks serta terfragmentasi dalam dunia baru, membuat sebagian orang skeptis dalam gerakan feminisme di era ini. Penawaran lensa baru dari dua tokoh — Judith Butler, dan Julia Kristeva — meredefinisi kita untuk memahami gender. Gender yang sering dikaitkan dengan hasil dari seks, sosial, budaya, dan politik sebagai isunya, ditolak secara mentah-mentah oleh kedua tokoh ini. Menurut Butler: gender merupakan suatu performativitas bersifat sebagai tindakan pengulangan, menempatkannya dalam sesuatu yang dinamis — permasalahan ini disinggung dalam bukunya yang berjudul Performative Acts and Gender Constitution: An Essay in Phenomenology and Feminist Theory. Lebih jauh, Butler menjelaskan bahwa gender bukanlah kata benda melainkan kata kerja, gender merupakan suatu tindakan dan bukanlah keberadaan. Lalu, bagaimana pendapat Kristeva mengenai masalah gender. Kristeva menjawab, gender merupakan language game. Menurutnya, feminist lama terlalu berkutat dalam pengistilahan gender yang terbentuk karena budaya, sosial, dan politik. Sehingga, menciptakan sebuah dogma baru yang membentuk negasi maskulinitas atau boleh disebut sebuah politik identitas — dikutip dalam Sanglah Institute oleh I. A. Dea Ikka Wardhani. Kemudian, Kristeva menyebutnya sebagai double burden yang dibentuk para feminis sendiri terhadap perempuan, selanjutnya, ia berkata biarlah perempuan menjadi dirinya sendiri, kritik ini dilontarkan oleh Kristeva dalam Woman’s Time (1981).
Melalui kedua tokoh ini, para feminis new era diajak untuk memasuki ranah katarsis baru yang disebut Language Game atau Écriture Feminine. Wittgenstein mengungkap arti Language Game sebagai penolakan atas makna konvensional pada teks, dan menyebutnya sebagai interpretasi cair pada suatu teks. Selaras dengan Witggenstein, Mikhael Bakhtin menambahkan: sering kali bahasa dimaknai sebagai satu bahasa atau konvensionalisasi bahasa, sehingga menciptakan kemiskinan interpretasi. Sedangkan Écriture Feminine, disebarluaskan oleh Helene Cixous dalam The Laugh of the Medusa. Écriture Feminine, menurutnya merupakan gaya penulisan feminin bersifat unik, disimbolkan sebagai pengganggu konvensional, citra baru, dan perusak tatanan dalam ranah linguistik. Dengan itu, terciptalah suatu pembahasan gender melalui bahasa, karena bahasa merupakan ajang kontestasi yang membuahkan marginalisasi dan stereotip.
Perlawanan Bahasa Perempuan
Menelisik perlawanan dengan bahasa bukanlah suatu hal yang asing lagi. Karena, bahasa selalu menimbulkan dikotomisasi atau bahkan trikotomisasi. Sebab itu, para perempuan era sekarang memulai sebuah pemberontak melalui bahasa. Awal pemberontakan, melalui analisis teori performativitas yang dicetuskan oleh Judith Butler. Teori ini bermula saat Butler terinspirasi dari salah satu filsuf yaitu J.L Austin, Austin menyebut bahwa: performativitas merupakan ujaran seperti “Saya berjanji” atau “Saya bersedia” dalam konteks tertentu, seperti perjanjian menyimbolkan suatu tindakan. Oleh karenanya, suatu tindakan tidak dapat terpisah dari linguistik, yang menyebabkan linearitas antara sebuah tindakan dan linguistik.
Melalui pengertian J.L Austin, gender memasuki ranah baru. Butler menyebutkan bahwa: gender bukanlah sebuah pemetakan subjek dari yang sudah ada — contoh kontruks sosial, atau alamiah, melainkan sebuah pembentukan dari bahasa yang membuat seseorang terdefinisikan, atau objektifikasi pada sesuatu yang menciptakan sebuah gender. Dengan kata lain, gender merupakan sebuah pembentukan dari bahasa, dan bahasa itulah yang membuatnya nyata. Butler pun menambahkan, gender merupakan pengulangan tindakan yang linear dari masa ke masa yang membentuk sebuah penciptaan, pembentukan, dan kenyataan. Maka dengan kebiasaan itu, performativitas gender tercipta — Di ambil dari tulisan Judith Butler dalam Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity, dan Performative Acts and Gender Constitution: An Essay in Phenomenology and Feminist Theory.
Setelah mengetahui arti performativitas, pemberontakan kedua dapat ditelusuri melalui semiotika gender yang diusung oleh Julia Kristeva. Kristeva dengan Language Game, mengusung gender dalam ranah bahasa yang lebih kompleks. Menurutnya, gender tercipta karena bahasa yang merepresentasikan budaya, sosial, dan seks. Sehingga, bahasalah alat utama untuk merepresentasikan ketimpangan. Oleh karena itu, bahasa yang membentuk seseorang itu perempuan atau lelaki (baca: Feminis atau Maskulin). Melalui elaborasi teori Lacan, Kristeva membentuk pengertian semiotik yang unik, semiotik merupakan tempat ruang psikis yang ada sebelum ruang simbolik, tidak terdefinisi oleh aturan dalam tatanan simbolik, dorongan dari alam bawah sadar, bersifat pra-oedipal, atau simbolik, dan lebih dominan dalam jiwa perempuan daripada lelaki.
Semiotika gender lebih jauh, merupakan sebuah pemberontakan terhadap Saussurean. Saussurean yang mengatakan bahwa masa pra-oedipal merupakan masa yang indah karena mengikuti insting, ditentang oleh Kristeva. Ia menyatakan, bahwa pra-oedipal merupakan gejala kedekatan dan Language Game, tetapi ketika ia memasuki ranah simbolik atau Oedipal disitulah konstruksi bahasa dominan mulai mendefinisikan sang anak, sehingga terjadilah perang dominasi antara sang ayah dan ibu. Setelah masuk tatanan simbolik, terjadilah pendefinisian subjek oleh pemenang dominasi bahasa, dan mulai memasuki tahap sosial dengan The Other atau pemisahan. Kristeva mendasarkan pemisahan ini sebagai Abjection, Abjection atau keterhinaan sendiri muncul karena rasa alam bawah sadar yang meyakini atas subjektivitas rapuh. Sehingga, ketika situasi batas ini tercapai, terjadilah sebuah ambivalensi, meredefinisikan kembali arti dari gender. Keterhinaan ini juga dapat didorong oleh tekanan sosial, atau politik bahasa yang terinternalisasikan pada subjek dan mengaburkan tatanan simbolik. Sebab itu, Kristeva mengatakan bahwa bahasalah yang menyebabkan ketimpangan gender. Karenanya, pembahasaan seseorang disebut subjektivitas rapuh, karena bahasa yang terinternal dalam dirinya dapat diserang kapan pun oleh alam bawah sadar, sehingga menciptakan Chaos — Kristeva memberontak dengan bukunya “Desire in Language”.
Sastra dan Pemberontakan Gender
Sastra yang merupakan language game selalu menyimbolkan gender yang termaktub dalam suatu teks. Oleh karenanya, pemberontakan gender dapat ditelusuri dengan pencermatan teks. Sastra yang merupakan cerminan The Other, selalu menjelma sebagai pelampiasan bagi subjektivitas rapuh. Karena tekanan sosial, agama, dan politik, subjektivitas rapuh dapat menyamarkan keberadaannya dalam sastra. Melalui teori performativitas yang menyatakan bahwa gender merupakan konstruk bahasa yang terinternalisasi dari waktu ke waktu secara linear, sehingga menciptakan sebuah pembentukan identitas dan kenyataan. Begitu pun dengan semiotika gender, yang menyatakan bahwa gender merupakan permainan bahasa yang menciptakan sebuah identitas sosial pada subjek, dapat ditelusuri melalui karya sastra.
Teori post-feminisme, menambah dinamika dalam perkembangan sastra. Melalui dua teori tersebut, karya sastra yang mempunyai unsur intrinsik — penokohan dan alur — dapat mengungkap keberadaan gender pada suatu teks. Teori performativitas dan semiotika gender dapat ditelusuri, melalui bagaimana seorang penulis menyimbolkan tokoh dengan berbagai sifat, dan identitas sosial, juga alur cerita yang menggambarkan perubahan. Selain itu, gaya penulisan seseorang dapat menentukan pembentukan gender dalam suatu teks sastra. Gender yang berhubungan dengan linguistik, memasuki ranah gaya kepenulisan dalam menciptakan karya sastra. Keautentikan gaya kepenulisan, dapat menentukan bagaimana identitas gender dibentuk sedemikian rupa oleh seorang penulis. Seperti dalam novel Animal Farm, ketika hewan digambarkan dengan memakai pita, menggarap, dan berperang, membentuk peranan tertentu sehingga menciptakan sebuah gender dan identitas sosial. Secara ringkas performativitas dan semiotika gender merupakan teori yang mengangkat isu gender. Permasalahan gender yang selalu dilatarbelakangi oleh kondisi sosial, budaya, dan politik, didekonstruksi oleh Judith Butler dan Julia Kristeva. Menurut mereka, fondasi ketimpangan gender, ataupun penciptaan gender dimulai dari ranah fundamen, yaitu bahasa. Unsur bahasa yang kompleks, menciptakan keadaan sosial, budaya, dan identitas sosial. Sehingga, permasalahan gender menuju era baru yaitu Language Game.






