Saat sedang asyik membaca buku Filsafat, tiba-tiba ponsel bergetar. Ternyata ada notifikasi masuk dari kawan yang membagikan tulisan di media sosial tentang kepergian Romo Mudji Sutrisno, SJ.
Kabar kematian itu menghadirkan duka yang mendalam dan mengingatkan pada warisan intelektual berharga agar hidup dijalani dengan lebih terarah, sekalipun lewat jalan sunyi, sepi tanpa basa-basi.
Wawan Gunawan, pegiat lintas iman, Direktur (Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian Nawang Wulan) ini menuliskan,
Terima kabar duka dari Kang Ipong Witono, bahwa Romo Mudji wafat pukul 20.43 malam tadi di RS Carolus Jakarta. Turut sedih dan merasa kehilangan. Saya mengenal Romo Mudji mungkin sejak SLTA, melalui talkshow yang ditayangkan TVRI. Saat Reformasi dan pasca Reformasi semakin sering melihatnya di TV.
Setelah kuliah mulai baca tulisan-tulisannya di Kompas, lalu membeli buku-bukunya. Hingga saya sedikit-sedikit tahu mengenai beliau. Sampai pada akhirnya Kang Ipong mempertemukan kami pada sebuah acara di Universitas Maranatha Bandung. Bersama Romo Kiayi Asep Salahudin dan Raka prabu Tisna Sanjaya sama-sama mengisi sebuah acara.
Sebelum naik panggung kami berbicara banyak. Tentang demokrasi, politik, pengalamannya di KPU, cerita kegiatan di kampus, dan mengenai dialog antar agama. Kesan saya Romo seorang yang kontemplatif dan kritis. Terbuka dan menghormati anak muda. Menyemangati dan sangat rendah hati. Saya ngefans.
Lalu Romo memberi saya hadiah, beberapa print out makalah, dengan tambahan pesan tulis tangan, kemudian dibubuhi titi mangsa dan tekenan. Sejak itu, beberapa kali chat, Romo mengundang saya pada pembukaan pameranya di TIM, “kumandang ing sepi” Saya datang. Pulang dapat oleh-oleh buku dan CD. Di kosan saya baca, isinya sunyi. Goresan-goresan sederhana, tetapi mendalam hanya dengan warna hitam saja berlatar putih yang luas.
Sketsa yang mengesankan penemuannya paling dalam, di palung jiwa, ihwal di balik simbol yang dia hidup hanya untuknya. Percakapannya dengan sunyi, dalam sunyi, menemukan yang sunyi. Hanya ada dia dan Dia. Di Perahu, di Samudera, di Candi, bahkan di lapangan bola, semasa ia masih kecil.
Saya seperti sedang membaca tasawuf. CD-nya sering saya putar menemani perjalanan. Isinya puisi Romo yang dimusikalisasi secara ciamik. Mengajak dialog degan hati sendiri. Syahdu dan tetap kritis.
Salah satunya tentang tempat ibadah yang kedinginan karena kehilangan fungsi sosial. Di sini jelas, kesunyian adalah perjalanannya ke dalam, agar keluar bisa memberikan pencerahan untuk kehidupan. Berpihak kepada kebenaran. Berani memperjuangkan keadilan. Selamat jalan Romo, malam ini, saya yang merasakan, “kumandang ing sepi” itu. (Facebook @wawan.gunawan.71619)
Jejak Romo
Memang dunia intelektual dan kebudayaan Indonesia kehilangan sosok seorang figur pemersatu. Romo Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisno SJ, seorang Imam Jesuit, akademisi, budayawan, dan mantan anggota KPU, dikenang sebagai sosok yang secara konsisten menjembatani sekat antara iman dan nalar, tradisi dan modernitas, serta ruang gereja dan gelanggang sosial.
Lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 12 Agustus 1954, akar kebudayaan Jawa sangat kental membentuk sensitivitasnya. Kedekatan awal dengan Gereja membawanya pada panggilan religius, yang ditempuh melalui pendidikan di Serikat Yesus (SJ).
Pendidikan doktoral filsafat di Universitas Kepausan Gregoriana, Roma, memperkaya wawasannya dengan tradisi pemikiran Barat. Sekembali ke Indonesia, mendedikasikan diri sebagai pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta. Di ruang kelas, dikenal sebagai dosen yang menantang mahasiswa berpikir kritis.
Pada awal era reformasi, pernah terjun langsung ke ruang publik dengan menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pengalaman singkat ini memperkaya tentang etika dalam demokrasi. Ya, demokrasi bukan sekadar prosedur, melainkan praktik moral yang membutuhkan kejujuran dan keberpihakan pada yang lemah.
Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, Romo Mudji gigih merawat pluralisme. Dengan mempraktikkan dialog lintas iman sebagai kerja sehari-hari untuk mendengar, memahami, dan menghormati. “Agama seharusnya menjadi sumber perdamaian,” merupakan prinsip yang membuatnya diterima luas, melampaui batas komunitas Katolik.
Bagi banyak generasi murid dan kolega. Seorang guru yang membimbing dengan keteladanan tekun membaca, jujur berpikir, dan rendah hati berdialog. Warisan terbesarnya barangkali bukan pada satu buku tertentu, melainkan pada cara berpikir yang ia tularkan: kritis tanpa sinis, religius tanpa eksklusif, dan rasional tanpa kehilangan rasa.
Kepergian Romo Mudji Sutrisno SJ meninggalkan duka sekaligus warisan intelektual yang tetap hidup. Di tengah dunia yang rentan terbelah, pesannya untuk terus berpikir jernih, beriman dengan rendah hati, dan merawat kemanusiaan, tetap relevan untuk disematkan. (Antara dan Media Indonesia 29 Desember 2025)
Ketua Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Simon Petrus Lili Tjahjadi, mengenang koleganya sebagai orang yang mencintai kebijaksanaan. “Beliau saya kenang sebagai sahabat dalam filsafat yang selalu saja berusaha, dengan aneka talenta yang ia miliki, memasyarakatkan filsafat dengan memfilsafatkan masyarakat. Gaya bicaranya lugas, tapi kosa kata dan diksi yang dipakai cenderung susastrawi. Padahal bahasa filsafat amat ketat dengan logika, koherensi, dan sistematika. Ada kemiripan dengan gaya Romo Mangunwijaya. Saya langsung mengendus ‘Itu gaya khasnya! Bisa mudah masuk ke publik.” (Kompas, 29 Desember 2025)
Teladan yang Menginspirasi
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan duka cita atas wafatnya Romo Mudji Sutrisno. Saat mendatangi Kapel Kolese Kanisius, Selasa (30/12/2025). Kapel dipenuhi para rohaniwan, akademisi, sahabat lintas iman, murid-murid almarhum yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Doa-doa dipanjatkan, mencerminkan rasa kehilangan mendalam atas kepergian sosok pemikir besar yang dikenal menjembatani iman, budaya, dan kemanusiaan.
Nasaruddin Umar mengenangnya sebagai sahabat dialog lintas iman yang tulus dan konsisten memperjuangkan nilai kemanusiaan universal. Romo Mudji Sutrisno bukan hanya seorang teolog dan filsuf, tetapi peziarah pemikiran yang selalu membuka ruang perjumpaan antar iman.
“Saya merasa kehilangan sahabat diskusi lintas iman. Beliau adalah pribadi yang menghadirkan agama sebagai kekuatan pemersatu, bukan pemisah. Banyak percakapan kami yang berangkat dari perbedaan, tetapi selalu berujung pada kemanusiaan”.
Perjalanan persahabatan mereka diwarnai dialog-dialog mendalam tentang makna iman dalam kehidupan sosial, etika publik, hingga tanggung jawab agama dalam menjaga perdamaian dan keadaban bangsa. Romo Mudji, selalu menempatkan iman sebagai sumber kebijaksanaan yang membumi dan membela martabat manusia.
“Beliau mengajarkan bahwa iman yang sejati tidak berhenti di altar, tetapi hadir dalam keberpihakan pada keadilan, budaya, dan kemanusiaan. Sosok seperti beliau sangat langka.”
Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi dunia intelektual dan dialog lintas iman di Indonesia. Namun, warisan pemikiran dan keteladanan hidup almarhum diyakini akan terus menginspirasi generasi penerus.
Dengan harap agar nilai-nilai persaudaraan lintas iman yang selama ini diperjuangkan Romo Mudji dapat terus dirawat sebagai fondasi kebangsaan Indonesia yang majemuk. “Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih menerima amal kebaikan beliau dan memberikan penghiburan serta kekuatan bagi keluarga dan semua yang ditinggalkan.” (https://kemenag.go.id)
Mari kita membaca tulisan Eko B Harsono yang berjudul “Pulangnya Sang Penenun Cahaya: Mengenang Romo Mudji Sutrisno”
Di antara deretan buku filsafat dan sapuan kuas yang belum mengering, hari ini ada hening yang tak biasa bagi saya. Sang gembala kata, Prof. Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisno, S.J., telah menyelesaikan ziarah panjangnya. Beliau tidak hanya pulang membawa jubah imamatnya, tetapi juga membawa ribuan bait puisi dan warna-warna yang pernah ia goreskan untuk mempercantik wajah kemanusiaan yang sering saya diskusikan bersamanya.
Ingatan saya melayang kembali ke tahun 1996. Sebagai wartawan di Harian Suara Pembaruan, saya mengenal beliau bukan sekadar sebagai narasumber, melainkan sebagai guru yang sabar. Setiap kali saya meminta beliau menulis artikel opini atau menjadi narasumber, beliau selalu menyambut dengan kejernihan berpikir yang luar biasa. Beliau adalah intelektual yang membumi, yang mampu menerjemahkan rumitnya filsafat menjadi narasi yang bernyawa di bawah pena saya.
Pertemuan-pertemuan di Kantor Kementerian Pendidikan semakin mempertegas kekaguman saya. Namun, yang paling membekas adalah perjumpaan di Stasiun Dukuh Atas beberapa tahun lalu. Di tengah hiruk-pikuk stasiun, beliau dengan ketulusannya mengajak saya membesuk Almarhum Arswendo Atmowiloto di RS Santo Carolus. Di sana, saya melihat sisi lain dari seorang Romo Mudji, seorang sahabat yang setia, yang memahami bahwa persahabatan adalah ibadah yang paling nyata.
Satu pesan yang akan selalu saya jaga di dalam batin adalah saat beliau berucap: “Mas Eko, urip iku murup.” Sebuah pengingat bahwa hidup itu harus menghidupi, harus menyala, dan menjadi berkat serta manfaat bagi banyak orang. Pesan itu kini menjadi warisan berharga bagi saya untuk terus melanjutkan api yang pernah beliau nyalakan.
Kini, beliau telah menyusul para suhu menulis saya; Mas Arswendo, Tino Saroenggalo, dan Ibu Poppy Donggo dalam sebuah perjamuan abadi di surga. Romo Mudji telah mengajarkan saya bahwa menjadi religius berarti menjadi berbudaya, dan menjadi intelektual berarti tetap memiliki hati yang peka. Selamat jalan, Romo Profesor. Sugeng tindak menuju keabadian. Terima kasih telah mewarnai kanvas hidup saya dengan kebijakan, kasih, dan nyala api yang takkan pernah padam. (https://news.schoolmedia.id)
Mengeja Wajah Kebudayaan Pondasi Peradaban
Bila kita membaca Sepatah Pengantar dalam buku Membaca Rupa Wajah Kebudayaan menegaskan suatu bangsa yang besar itu tidak akan melupakan tradisi, budaya, kepercayaan sendirinya. Pasalnya, kehadiran budaya (kebudayaan) menjadi pilar menyangga keberlangsungan Negara Indonesia tercinta ini.
Kebudayaan sebagai tindakan yang diberi makna oleh manusia, entah ia orang biasa maupun “orang terpelajar” akan selalu menampilkan “wajah- wajah”-Nya bagi sesama.
Karena itu di tangan para terpelajar dibuatlah sistematisasi rasional kebudayaan sebagai sistem makna yang diacu manusia untuk memaknai perjalanan hidupnya. Mulai dari Cliffort Geertz, Talcot Parsons, para Fungsionalis menegaskan pentingnya ‘fungsi kebudayaan’ dalam masyarakat.
Sebagai proses memberi makna pada hidupnya, manusia menjadi subjek pelaku dan menyadari kebudayaan adalah kerja atau laku tindakan. Sebagai buah-buah tindakan memaknai maka muncullah karya-karya budaya.
Baik sebagai proses maupun sebagai hasil; sesama-sesama pelaku kebudayaan yang sama-sama the signifying creatures atau homo significans, akan menampilkan wajah-wajah kebudayaan itu.
Dalam tulisannya Membaca Wajah-Wajah Kebudayaan, Romo Mudji menegaskan bahwa membaca kebudayaan tidak cukup dilakukan melalui pendekatan kuantitatif semata. Menuntut pembacaan kualitatif yang disertai dialog hati ke hati, karena kebudayaan hidup dan bergerak dalam ruang makna yang dialami manusia.
Mengingat luas dan kayanya tahapan kebudayaan, pemahaman bahwa budaya merupakan dinamika yang terus-menerus dalam menjalani kehidupan, maka ketika kebudayaan diposisikan sebagai proses sadar untuk mengindonesia, diperlukan perumusan strategi yang matang. Strategi itu berangkat dari sebuah visi yang mampu mengolah keragaman keindonesiaan, baik yang bersumber dari identitas etnik, agama, maupun kepercayaan harus menjadi agenda cita dan aksi peradaban.
Visi ini selaras dengan mukadimah Konstitusi 1945 dan dijabarkan dalam politik kebudayaan, yakni format bernegara yang demokratis, adil, beradab, serta menjunjung kepastian hukum. Tentunya, membaca kebudayaan tidak berhenti pada penumpukan seminar (tulisan) tentang keindonesiaan, melainkan menuntut pengolahan dan pembacaan yang cerdas atas realitas Bhinneka Tunggal Ika Indonesia.
Kemenangan peradaban yang menyejahterakan Indonesia hanya mungkin terwujud apabila setiap identitas kultural memberi kontribusi nilainya. Kejawaan, misalnya, perlu menyumbang nilai kebijaksanaannya; kekristenan dan kekatolikan menghadirkan proses humanisasi; dan semuanya bertemu dalam dialog panjang dengan keislaman yang membawa rahmat bagi Indonesia. Demikian pula kehinduan, kebuddhaan, kepercayaan asli Nusantara, bersama unsur kultural lainnya yang dituntut membaca pekerjaan rumah peradaban Indonesia yang adil, sejahtera, dan beradab.
Hidup bersama semestinya disyukuri sebagai kekayaan, bukan diperebutkan secara serakah dalam konflik yang saling mencabik dan justru menenggelamkan Indonesia. Selama ini, kita dihadapkan pada tugas bersama untuk membaca kebudayaan secara dinamis dalam bingkai peradaban, bukan dalam tarik-menarik kepentingan yang saling menghancurkan.
Dengan demikian, membaca kebudayaan dalam bingkai peradaban harus menjadi ikhtiar berkelanjutan, yang memberi visi dan aksi nyata demi kesejahteraan keindonesiaan yang utuh dalam rajutan kebhinekaan. (Mudji Sutrisno, 2014: 5, 11–12)
Dalam tulisan lainnya, terutama pada Kata Pengantar dalam buku Kisi-Kisi Estetika. Yang ada pada tiap orang dan tiap kebudayaan adalah cita rasa seni untuk menikmati hidup, mengapresiasi, bahkan menyikapi kenyataan. Inilah estetika dengan sumber utama ruang; batin dalam diri manusia maupun kebudayaan.
Maka dari itu, estetika dengan ruang batin, baik eksplisit muncul dalam kesenimanan dan karya-karya ekspresi seni maupun implisit “pasif” di mana tiap orang menikmati kenyataan sebagai yang indah, yang asri, tidak pernah akan ditaklukkan oleh kekerasan penjara fisik atau tekanan sistem kekuasaan totaliter sekejam dan semenindas apa pun.
Estetika dalam ‘muara ruang kemerdekaan batin untuk mencipta inilah yang kita kenali sebagai ruang proses kreatif bagi seniman maupun orang kebanyakan untuk bercita rasa asri seni.
Estetika semacam inilah yang di tiap kebudayaan, bila dirawat dan diberi oksigen penghidup, akan tampil sebagai penjaga peradaban manusia. Artinya, ia akan menjadi katarsis setiap kali kejenuhan masyarakat memuncak. Tak akan menjadi kritik sosial ketika tata susunan sosial kejam dan tidak berkeadaban.
Estetika ini akan menjadi tempat lindung, suaka budaya bisu diam, ketika berkesenian dipaksa-paksa oleh negara atau sistem. Ia juga akan menjadi tempat bertahan hidup dengan seni humoristik, menertawakan rezim atau diri sendiri dan mengkarikaturkan kebodohan-kebodohan serta kesewenangan kekuasaan.
Dengan cara humor, atau bahasa mini ekspresi, bahkan bisu pantomim, atau bahasa foto, gambar dan lukisan, estetika-estetika ini menjadi potret diam dan saksi bisu kelaliman dalam resistansi keberanian-keberanian untuk bertahan hidup.
Pertanyaan langsung yang mengikuti adalah mengapa iklim budaya, sosial, dan politik di Indonesia kecil porsinya buat perhatian dan tumbuhnya seni ini? Pertama, karena pengertian seni sendiri sudah disempitkan dalam hasil-hasil benda seni, tradisi dan ‘monumen-monumen candi hingga makna estetika sebagai daya dinamis kreativitas peradaban dikebiri.
Kedua, dalam iklim kalkulasi nilai amat material dan ekonomis dekade-dekade lalu, hanya seni fisik, ekonomis, dan selebritislah yang dikenal. Ketiga, kita sedang di simpang jalan masa transisi reformasi ketika krisis-krisis nilai moral, nilai seni, krisis kepemimpinan serta kepercayaan satu sama lain dalam berbangsa mengalami tingkat keparahan yang akut, tajam, di satu pihak.
Di pihak lain, terbukalah celah untuk mengidupkan lagi posisi estetika sebagai ‘muara batin proses kreatif perawat kehidupan, yaitu penjaga peradaban agar tetap manusiawi. Kumpulan tulisan-tulisan ini hanyalah usaha amat kecil untuk mengajak merawat peradaban lewat sudut kepekaan estetika jenis ini. (F.X. Mudji Sutrisno, S.J., 2014:5-6)
Merawat Ingatan Kolektif
Kini, sosok yang berhasil menjembatani dunia iman, kebudayaan, dan realitas sosial secara kritis yang membumi telah tiada. Hanya tulisan, puisi, dan sketsanya menjadi jejak pemikiran dan spiritualitas yang terus hidup abadi.
Sungguh maha karyanya mengingatkan kepada kita tentang pentingnya iman yang mesti hadir secara lembut melalui seni, refleksi, dan kepekaan pada kehidupan sehari-hari. Mari kita membaca tiga pusi yang diambil dari Semai Kata (Kanisius, 2024) untuk merawat ingatan kolektif atas keragaman Indonesia.
Doa Rajut
Di tengah kontras antara deras
curah hujan vs. hening
ranting-ranting asa pohon
saat pandermi ini.
semoga
hening sujud
tetap tekun meredam
merajut daya hidup
dari-Mu dalam sikap
ducinaltum
“menyelam ke relung dasar”
di tengah kontras curah hujan
(deras) vs. kering-keringnya
ranting pohon saat pandemni ini,
semoga dalam hening sujudnya,
tetap dirajut/direnda
tenunlah sikap
asa pada daya
hidup-Mu
meski tak mudah,
Hadirlah Ya Tuhan
gaung bersama
kar bapak ibu guru
merdu
dimasa adven
sudah berlalu
tinggal hati yang menanti
hadirnya Dia
ditengah kami,
di kegelisahan hati
karena mata raga
kerap menjadi tuan
hingga mata jiwa tertutup
debu abu kekotoran
terjal jalan itu
buat menuju-Mu.
hadirlah datanglah
Tuhan sayup-sayup
terdengar menghilang
karena usailah
sudah misa
adven kami
Karena Cinta
kiriman kopimu
ungkapan hatimu
yang kuterima
di pagi ini.
untuk mulai hari
penuh gembira
penuh suka
dan
penuh bahagia
dambamu
dan harapanku pula.
6/12/2025





