Melacak Arti Kata “Anjay” dalam Manuskrip Abad Ke-15

Tadi malam ketika mengaji kitab Mukhtarol Hadits bersama Ajengan Agi Muhammad di Masjid Al-Jihad, ada santri yang mengeluarkan kata-kata ‘Anjay’, di mana kata-kata ini lama tak hinggap di telinga. Kemudian saya ingat masa lalu tentang apa yang pernah ramai di media.

Kalau kita masih ingat, dulu, ada seseorang bernama Lufti Agizal. Seseorang yang seperti pengakuannya di Podcast Deddy Corbuzier, telah dikenal oleh 150 juta orang. Waktu itu dia jadi viral, terkenal, sabiwir hiji, dibicarakan banyak orang termasuk oleh saya sekarang. Yang jadi cukang lantaran adalah setelah dirinya “mengharamkan” kata “Anjay” untuk dipakai dalam bahasa pergaulan. Kata dia, menurut bisikkan “narasumber tata bahasa” yang ia tanya, dalam bahasa itu ada semantik ada leksikon, “Anjay” adalah semantik, “Anjing” merupakan leksikonnya.

Intinya, “Anjay” adalah plesetan dari “Anjing”. Atau, “Anjay” adalah penghalusan kata “Anjing”. Mengatai orang “dasar anjay!” Itu sama saja dengan bilang “dasar anjing!” Itu tak boleh! Itu tak bermoral! Selamatkan generasi bangsa dari bahasa tutur yang menghujat dan melecehkan sesama manusia! Jadi wajar, sempat tersebar wacana bahwa yang melempar kata “Anjay” akan dipidanakan. Yang langsung ngomong “Anjing” bisa-bisa dihukum lebih berat.

Sebenarnya, Lutfi sendiri percaya, jika kata “Anjay” itu multitafsir. Bisa baik, bisa buruk. Dan ia bilang, kenapa ini multitafsir, sebab dalam kamus bahasa Indonesia pun tak ditemukan kata itu. Namun, kalau mau jujur, aku, kamu, dia, menemui kata “Anjay” itu sesungguhnya baru beberapa hari saja karena diucapkan banyak orang di media sosial. Kata itu memang ada sebelumnya, tapi samar, tidak gamblang!

Plesetan atau penghalusan kata “Anjing” dalam pergaulan sehari-hari, yang kita tahu selama ini cuma “Anjir”, “Anjis”, atau “Ajig”. Pola penghalusan ini dalam cara kita berbahasa itu selalu sama: jika kata asli ketukan hurufnya dari ‘A’ ke ‘I’, maka penghalusannya bakal dari ‘A’ ke ‘I’ lagi. Kalau kata awal ketukan hurufnya dari ‘O’ ke ‘O’, ya penghalusannya jadi ‘O’ ke ‘O’ lagi, seperti “Bagong” (Babi hutan) menjadi “Bagoy”, atau seperti kata “Anjing” dihaluskan jadi anjir, anjis, dan ajig. Tapi “Anjay”? Yang dianggap Lutfi penghalusan dari “Anjing”, ini kan dari ‘A’ ke ‘A’, bukan dari A ke I menjadi ”Anjiy” misalnya. Jadi aneh!

Makanya waktu itu, beberapa orang semisal Ernest, Bintang Emon atau Young Lex menggeledah “kepentingan” Lutfi kepada kata ini. Saya pun senyum-senyum sendiri, karena coba menerka, siapa “narasumber tata bahasa” yang tak Lutfi sebutkan namanya itu, dan memberi fatwa kepadanya bahwa “Anjay” adalah semantik, dan “Anjing” adalah leksikon.

Tapi jujur, sebagai orang yang dulu pernah main ke kebun binatang dan berenang di Taman Lalu Lintas, saya tertarik melacak kata ‘Anjay’ dalam manuskrip-manuskrip abad ke-15. Maka tadi malam, sepanjang delapan jam, saya buka manuskrip-manuskrip dan buku-buku yang ada di perpustakaan saya, baik yang berbahasa India, Inggris, Prancis, Arab, Sunda, Jawa, termasuk sangsakerta. Dan ternyata, saya kaget, sebab kata “Anjay” memang sudah ada pada buku-buku yang ditulis di abad ke-15.

Saya ingin beritahu beberapa.

Meski punya arti berbeda-beda, ini hasil temuan saya setelah riset semalaman:

  1. Dalam buku “Main Hoo Na Alvida Kehna” karya Hazrat Ali Hidayat Khan tahun 1492 M, kata “Anjay” bermakna “Paham” atau “Pikiran”.
  2. Dalam manuskrip “Katyar Kulzat Naatsamrat Khuda” karya Udit Shangkar Narayan cetakan tahun 1542 M, kata “Anjay” artinya “Makanan yang dibuat dari ketan hitam”.
  3. Dalam manuskrip “History of Ancient Languages”, karya Petric Suzzan Eliot tahun 1597 M, kata “Anjay” artinya “Berdegup Kencang”.
  4. Dalam buku “Language and Rebellion” karya Vargass Marquez Neruda tahun 1581 M, kata “Anjay” diambil dari bahasa suku Pernasola di Aborigin, artinya “Payudara”
  5. Dalam kitab “Alkhulud fi Alqalb” karya al-Jahiz bin Muhammad al-Jazari al-Mutawatiri tahun 1550 M, kata “Anjay” dimaknai “Kekuatan Gaib”
  6. Dalam kitab “Bayn Alkhayr Walsahih” karya Abu Muhammad bin Abu Musa al-Maqdisi tahun 1505 M, kata “Anjay” berarti “Pintu Kebaikan”
  7. Dalam naskah “Sanghyang Jagat Winata” yang ditemukan tahun 1472 M di Kabuyutan Garut, kata “Anjay” artinya “Matahari dari Barat”
  8. Dalam naskah “Diri sasampiran Awak Sasampaian” yang ditemukan tahun 1558 M di Kabuyutan Bandung, arti kata “Anjay” adalah “Pohon Beringin”
  9. Dalam naskah “Kasuhun Kalingga Murda” yang ditemukan tahun 1549 M di Gunung Gelap Pameungpeuk, kata “Anjay” artinya “Samudra”
  10. Dalam naskah “Danar Wilis Ngalanglang Jagat” yang ditemukan tahun 1577 M, arti kata “Anjay” adalah “Dataran Rendah”
  11. Dalam buku “Serat Sabda Bahasa Sabda Semesta” karya Puwardi Notonegoro tahun 1523 M, kata “Anjay” artinya adalah “Pukulan”
  12. Dalam buku “Nuswantara Swaksangka” karya Sylado Tembayong Rushdie tahun 1502 M, kata “Anjay” artinya “Ketiak Para Dewa”
  13. Dalam buku “Lochogatho Purwadinyu” karya Empu Batik Madrim tahun 1559, kata “Anjay” bermula dari bahasa Semith, diambil dari dua suku kata: “An” yang artinya “Kita”, “Jay” artinya “Bodoh”. Kita bodoh.
  14. Dalam “Kamus Indonesia-Sangsakerta” karya Raden Pakuwijaya Kusuma tahun 1541, kata “Anjay” punya makna “Air mata”
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .

    Bener kata judul buku Arswendo Atmowiloto, MENGARANG ITU GAMPANG. Hahaha