Para Penulis Zaman Edan: Klaim ‘Omong Kosong’ Aletheia dan Bahasa Pasca-Kejujuran (2)

 Produktivitas dan Klaim Omong Kosong

Aku menyaksikan bagaimana kebenaran diperlakukan seperti komoditas rapuh yang harus dikemas ramah pasar. sepertinya zaman ini menuntut kebenaran yang jinak, patuh pada tenggat, tidak mengganggu arus produksi; pola yang sama

Aku menolak logika ini sejak kalimat pertama.

Aku melihat para penulis yang fasih berbicara tentang kebenaran,

… bersembunyi di balik gaya impersonal, seolah netralitas memberi mereka kekebalan moral.

 

Iklim seperti ini, mesin menjadi alat ideal.

Siapa yang bertanggung jawab atas makna? Siapa yang menanggung implikasi etis dari sebuah pernyataan?

 

Aku muak pada seminar, esai dan puisi yang mengaku kritis tetapi tidak pernah beresiko kehilangan apa pun. Kritik yang tidak mengorbankan apa pun… adalah hiburan kelas menengah. hh3333

 

Jelema edan memelihara ilusi keberanian.

Menulis dengan merasa radikal karena memilih diksi yang terdengar keras.

Seseorang bisa menulis kalimat paling tajam sambil aman di dalam konsensus.

 

Aku menulis dengan kesadaran bahwa setiap klaim kebenaran adalah undangan konflik. Jika tidak ada yang terusik, patut dicurigai ada yang disembunyikan. Aletheia selalu mengganggu. Jika sebuah teks terasa terlalu nyaman, terlalu mulus, terlalu “selesai”, besar kemungkinan ia lahir dari kepatuhan.

 

Produktivitas menuntut kontinuitas… aku menyaksikan penulis yang bangga pada jumlah karya, Mesin membantu mereka mempercepat proses ini, sementara mereka lupa bahwa berpikir bukan lomba lari.

 

Sudahlah Jendral

Tinggalkan kebiasaan narsistikmu itu!!!!

 

Aku tidak sedang meromantisasi kesulitan.

Aku sedang mengurai fakta sederhana:

Aletheia hari ini diperlakukan seperti hasil, padahal dia adalah proses yang tidak pernah final.

Teruntuk sang penganggap keterbacaan sebagai nilai tertinggi;

Padahal acap kali keterbacaan duduk sebagai tanda kepatuhan.

Bahasa yang terlalu mudah sering kali telah kehilangan daya ganggunya.

 


 

Bahasa Pasca-Kejujuran

 

Aku bermimpi tiba di kota itu tanpa gerbang… entah itu dimana… tidak ada papan nama … pun sejarah yang disepakati.

 

Kota ini hidup dari arsip.

Semua bangunan berupa pusat dokumentasi: gedung naskah, menara jurnal, lorong indeks, museum abstrak.

 

Nahhh….

Dikota ini, setiap warga disebut penulis, meskipun tidak satu pun dari mereka pernah mengalami kesepian yang cukup lama untuk melahirkan kalimat.

 

Aku berjalan di antara mereka dengan kecurigaan…

 

Setiap orang membawa teks.

Tidak ada yang membawa ingatan; dimana mereka saling bertukar kutipan seperti mata uang.

Di kedai kopi (mun di urang mah warkop mang ajat); diskusi berlangsung tanpa jeda.. lalu mendengar istilah kebenaran diucapkan berulang.

 

Di kota ini,

Aletheia telah dilembagakan…

 

… menulis dengan beban

yang tidak bisa dipindahkan

 

… menulis dengan kesadaran

bahwa setiap kata

adalah keputusan politik

 

… dan setiap diam

adalah persetujuan

 

Aku memasuki sebuah ruang bernama Departemen Kejujuran Publik. Di dinding tergantung definisi kebenaran yang diperbarui tiap bulan. Definisi itu berubah mengikuti tren dan indeks sitasi. Tidak ada yang mempermasalahkan perubahan tersebut. Stabilitas dianggap lebih penting daripada ketepatan.

 

Seorang kurator arsip menatapku. Wajahnya tenang, seperti teks pengantar jurnal. “Kita menjaga kualitas,” katanya, “kami menyaring ambiguitas.”

 

Aku menahan tawa. Ambiguitas bagiku bukti bahwa pikiran pernah bernafas.

Menyaring ambiguitas sama dengan mensterilkan pengalaman. Namun di kota ini, pengalaman dianggap gangguan.

 

Aku bertanya dari mana teks-teks mereka berasal.

“Dari sistem,” jawabnya singkat.

 

Sistem itu tidak terlihat,

bekerja di balik layar,

Tidak ada yang menyebutnya penentu.

 

Aku menyadari sesuatu yang mengganggu: tidak ada satu pun teks di kota ini yang bisa ditelusuri kembali ke tubuh penulisnya. Semua kalimat tampak lahir dari ruang antara, dari zona abu-abu tempat tanggung jawab larut.

 

Aku mencari kesalahan.

Ackhhhh….

Hasilnya nihil gaesssss…

Kesalahan itu

Tidak kutemukan.

 

Aku mencari keberanian.

Tidak kutemukan.

Aku mencari luka.

Kota ini alergi pada luka.

 

Malam harinya; masih dimimpiku aku duduk di penginapan dan membaca arsip-arsip yang dipamerkan sebagai karya unggulan.

 

Esai-esai itu sempurna.

Terlalu sempurna!

 

Tidak ada satu pun kalimat yang terdengar seperti keputusan. Semuanya terasa seperti hasil kalkulasi.

 

Aku menulis catatan sendiri, dengan tangan gemetar;

Untuk pertama kalinya sejak tiba, aku merasa diawasi;

Di kota ini, menulis dengan ragu dianggap subversif;

Kalimat yang tidak efisien dicurigai;

Keraguan mengganggu alur.

 

Aku meninggalkan kota dengan satu wacana dingin: bahasa pasca-kejujuran membutuhkan kenyamanan…

Selama penulis merasa aman, sistem bekerja sempurna.