Tulisan reflektif ini adalah balasan tulisan untuk Bung Reza Fauzi Nazar.
Kegelisahan itu layaknya pisau bermata dua. Ia bisa menjadi berkah, tetapi juga bisa berubah menjadi musibah. Persoalannya bukan terletak pada kegelisahannya itu sendiri, melainkan bagaimana cara kita menavigasikan kegelisahan tersebut. Benar bukan Bung?
Tanpa kehadiran kegelisahan, umat manusia mungkin tidak akan mengenal tokoh-tokoh besar seperti Aristotle, Socrates, Gautama Buddha, Jesus Christ, maupun Muhammad sang nabi. Mereka semua adalah manusia-manusia yang gelisah melihat keadaan di sekelilingnya. Mereka tidak hanyut begitu saja oleh arus zaman. Mereka mendengarkan bagian terdalam dari hati dan kesadarannya, hingga mampu menolak tarikan gravitasi kegelapan sejarah pada masanya.
Pada titik tertentu sejarah selalu bergerak oleh orang-orang yang tidak sepenuhnya nyaman dengan keadaan. Orang-orang yang tidak mampu memejamkan mata ketika melihat ketimpangan, kekosongan makna, ataupun kerusakan moral di sekitarnya. Dan dari kegelisahan semacam itulah lahir pencarian, perlawanan, bahkan peradaban.
Aku sepakat ketika kau mengatakan bahwa membaca dan menjelajahi pemikiran para filsuf besar membutuhkan energi yang tidak sedikit. Bahkan bisa terasa sangat melelahkan. Lebih jauh lagi, tidak jarang seseorang justru tersesat di dalamnya. Mengapa aku mengatakan demikian? Karena aku melihat cukup banyak orang yang membaca dan menjelajahi pemikiran tokoh-tokoh besar, tetapi pada akhirnya malah terpenjara dalam pikirannya dan kemudian kehilangan dirinya sendiri. Sebab pengetahuan, jika tidak diimbangi dengan kejernihan batin, berpotensi untuk melahirkan kesombongan intelektual ataupun kekosongan eksistensial. Kita terlalu sibuk memahami dunia luar, tetapi lupa memahami dunia dalam diri.
Kau juga mengatakan bahwa hidup mestilah dinikmati dan dijalani dengan bahagia. Sebuah kalimat sederhana yang kurasa justru paling sulit untuk benar-benar dilatih dalam kehidupan sehari-hari. Aku pun selalu mencoba mengimplementasikanya. Namun, yang mesti diingat adalah bahwa cara manusia menikmati hidup dan menemukan kebahagiaan tidak pernah bisa diseragamkan. Yang jelas, sejauh yang kutahu, tidak ada manusia di bawah kolong langit ini yang tidak mencari kebahagiaan.
Ada yang mencarinya di diskotik, di café, di lautan, di pegunungan, atau di keramaian kota. Bahkan se-religius dan se-zuhud apa pun seseorang terhadap dunia, pada akhirnya ia tetap sedang mengejar kebahagiaan. Narasi-narasi religius tentang surga, bertemu Tuhan, atau kehidupan setelah kematian, pada dasarnya juga merupakan bentuk harapan akan kebahagiaan yang lebih tinggi.
Karena itu, tentu saja aku sepakat bahwa manusia harus berbahagia. Tetapi pertanyaannya: kebahagiaan seperti apa?
Sebab sejauh yang kupahami, ada kebahagiaan-kebahagiaan sintetis yang semu, yang justru pada akhirnya melahirkan penderitaan. Bukankah banyak manusia yang mengejar kebahagiaan, lalu terikat dan terobsesi olehnya, namun pada akhirnya justru celaka karena hal yang dikejarnya sendiri.
Karena itulah aku sepakat dengan ucapan para bijak yang mengatakan bahwa kemampuan untuk bersyukur dan menikmati kesederhanaan adalah salah satu sumber ketenangan dan kebahagian diri. Ya, diri. Karena pada akhirnya, kegelisahan terbesar manusia lahir dari dalam dirinya sendiri.
Para bijak dari masa lalu seperti Laozi pernah berkata: “Mastering others is strength. Mastering yourself is true power.”
Musuh terbesar manusia sesungguhnya adalah dirinya sendiri. Jika kita mau merenung dengan jujur, berapa kali sebenarnya kita harus bertarung melawan diri kita sendiri? Dan dari sekian banyak pertarungan itu, berapa kali kita menang, dan berapa kali kita justru dipaksa bertekuk lutut di bawah kendalinya?
Sampai hari ini aku menyimpulkan bahwa ketenangan bukan berarti tidak adanya badai dalam diri. Ketenangan adalah kemampuan untuk tetap menerima kenyataan di tengah badai. Seperti slogan yang kugunakan dalam media sosialku kini “Waves Within, Unwavering without”. Hidup memang arena yang ekstrem; tempat manusia ditempa oleh pengalaman, kehilangan, harapan, dan ketidakpastian. Mari kita bergeser sedikit pada pembahasan yang lebih dasar tapi memiliki tempat paling tinggi. Yaitu tentang cinta.
Sampai hari ini aku masih percaya bahwa kebahagiaan tertinggi manusia adalah ketika dirinya dipenuhi oleh energi cinta. Cinta adalah alasan mengapa banyak orang masih mampu bertahan di tengah keras dan absurdnya kehidupan. Sebab jika hidup hanya dijalani dengan akal semata, semakin kita membedah realitas, semakin kita menyadari begitu banyak ketimpangan dan ketidakadilan, dan kontradiksi yang terjadi. Ketahuilah bahwa kehidupan akan menghajar kita. Bahkan tak sedikit juga orang yang sampai babak belur dan diludahi olehnya. Meskipun kenyataanya demikian, kau tentu tau salah satu syair lagu iwan fals yang jika di ambil perasanya bahwa cinta sejati adalah dimana dirimu tetap kuat tak tergoyahkan meskipun kita berkali-kali ditikam dan diterjang badai olehnya. Benar bukan?
……
Bagi seorang yang overthinking sepertiku ini tentu adakalanya kita akan berfikiran bahwa hidup itu tidak adil bahkan pada fase paling radikalnya kita akan mengatakan bahwa Tuhan tidak adil. Namun mungkin pembahasan itu terlalu panjang untuk dibicarakan di sini.
Seringkali aku memaksakan pikiranku untuk memahami apa sebenarnya hidup ini. Terlalu banyak kontradiksi yang kutemukan di dalamnya. Tetapi setelah berkali-kali ditampar kenyataan-kenyataan yang sering kali tidak sesuai dengan idealisme pikiran, aku mulai menyadari satu hal, bahwa dunia dan kehidupan ternyata jauh lebih luas, lebih dalam, dan melampaui kemampuan rasio manusia yang sangat terbatas ini.
Aku teringat pada ungkapan salah satu guru zen yang pernah berkata bahwa:
“Hujan yang turun tidak memerlukan penafsiran.”
Dan aku sangat sepakat dengan ungkapan itu. Bahwa manusialah yang memberi begitu banyak tafsir terhadap hujan itu. Dari sanalah lahir beragam makna, sudut pandang, bahkan pertentangan. Padahal sejatinya hujan hanyalah hujan. Tapi memang, untuk menjelaskan sesuatu yang kompleks, manusia tidak punya banyak alat selain bahasa. Bahasa menjadi medium untuk mengikat ide dan realitas. Namun sekuat apa pun bahasa mencoba menjelaskan kehidupan, ia tetap hanyalah pendekatan, bukan realitas itu sendiri. Karena jika realitas saja begitu luas dan rumit, bagaimana mungkin ia sepenuhnya bisa ditangkap dan disederhanakan oleh kata-kata. Mungkin karena itulah manusia terkadang perlu berbicara panjang, menulis artikel ilmiah yang rumit, atau refleksi-refleksi mendalam dengan bahasa yang terasa berat hanya untuk mengeluarkan kegelisahan yang ada di dalam dirinya dan pikiranya. Tentu saja itu bukan berarti kita harus selalu hidup dalam bahasa yang kaku, ilmiah, puitik, atau seperti yang kau sebut terlalu mendakik-dakik di setiap ruang kehidupan.
Pada akhirnya, mungkin hidup memang bukan untuk dipahami sepenuhnya, melainkan untuk dijalani dengan kesadaran, diterima dengan lapang, dan dicintai meski ia sering kali tidak masuk akal. Aku ingin mengutip salah satu ungkapan bijak Tiongkok klasik
天行健,君子以自强不息
(Tiān xíng jiàn, jūnzǐ yǐ zì qiáng bù xī)
“Langit bergerak dengan kekuatan yang tak henti,
demikian pula orang mulia mesti terus memperkuat dirinya.”
Coba perhatikan baik-baik ungkapan itu: “Orang mulia mesti terus memperkuat dirinya”. Atau dalam bahasa modernnya, self-cultivation.
Bukankah agama Islam pun mengajarkan manusia untuk menjadi pribadi yang mulia? Aku tak akan masuk terlalu jauh ke ranah etika atau akhlak dalam Islam, sebab dalam hal itu kau jauh lebih fasih dan memahami. Namun aku ingin sedikit menjelaskan inti dari konsep self-cultivation, sebab konsep ini mendapat perhatian yang sangat serius dalam tradisi Konfucianisme yang telah mewarnai peradaban Tiongkok selama ribuan tahun, bahkan jauh sebelum Islam hadir di sana. Self-cultivation atau dalam bahasa Mandarinnya disebut:
修身 (Xiū shēn) Jika diterjemahkan secara sederhana, ia berarti “membina” atau “mengolah diri.” Namun makna ini sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar pengembangan diri modern yang sering hanya berpusat pada produktivitas, pencapaian, dan kesuksesan personal.
Bagi tradisi Konfusianisme, manusia tidak dilahirkan dalam keadaan sepenuhnya matang. Ia harus ditempa. Hatinya harus diluruskan, pikirannya harus dijernihkan, emosinya harus dikendalikan, dan karakternya harus terus diperhalus. Sebab kekacauan dunia, pada akhirnya, sering kali berakar dari kekacauan manusia terhadap dirinya sendiri. Ada satu ungkapan terkenal dalam salah satu Kitab induk Konfucianisme yaitu The Great Learning:
修身齐家治国平天下 (Xiū shēn qí jiā zhì guó píng tiānxià)
“Bina dirimu, tata keluargamu, atur negaramu, lalu damaikan dunia.”
Di sinilah konsep self-cultivation menjadi sesuatu yang sangat filosofis dan eksistensial. Ia bukan sekadar tentang menjadi “lebih sukses,” tetapi tentang menjadi manusia yang lebih sadar, lebih matang, dan lebih mampu berdamai dengan dirinya sendiri sebelum masuk ke arena pertarungan yang lebih luas: masyarakat, negara, bahkan dunia. Hal ini berbeda dengan Taoisme yang cenderung lebih naturalis dan mengikuti gerak alam semesta, ajaran Konfusius lebih menekankan manusia untuk aktif menata kehidupan sosial dan menyebarkan kebajikan di dunia. Tetapi sebelum itu semua, manusia terlebih dahulu harus mampu menata dirinya sendiri. Karena itulah tradisi Konfusianisme sebenarnya melihat politik bukan hanya sebagai soal kekuasaan, melainkan soal etika diri dan kontrol diri. Negara yang rusak dianggap sebagai refleksi dari rusaknya moral elite dan gagalnya manusia mengolah dirinya sendiri. Mungkin pada titik inilah aku mulai memahami bahwa sebesar apa pun cita-cita manusia, sekeras apa pun perjuangannya mengubah dunia, semuanya akan mudah runtuh apabila hati dan batinnya sendiri masih berantakan. seperti diriku ini.
Terimakasih banyak bung atas pengingat yang sederhana, tapi sering kita lupakan. Bahwa “Hiduplah dengan bahagia”. Tentu kita mesti mengingat hal itu dan mensyukuri setiap lompatan-lompatan peristiwa dan pengalaman-pengalaman hidup yang bermakna. Sekecil apapun itu.
Aku jadi teringat kembali satu ungkapan bijak Tiongkok klasik yang rasanya sangat tepat untuk menjadi penutup dari refleksi ini:
欲成大事,先修其心
(Yù chéng dà shì, xiān xiū qí xīn)
“Mereka yang ingin mencapai hal besar, harus terlebih dahulu memperbaiki hatinya.”
Seperti yang kau tahu bahwa aku ingin mencapai hal yang sangat amat besar. Maka sudah tentu aku harus dan mesti memperbaiki hatiku dan mempersiapkan jiwaku, benar bukan ?
Bandung
-Faz
09-05-1026






