Tarekat Biliariyah

Sepanjang hidup saya, hanya tiga olahraga yang dahulu sekali acap dan kadang-kadang sampai sekarang masih sregep dilakukan: sepakbola, bulutangkis dan tenis meja. Jadi bilyard atau biliar, tak sekalipun pernah saya mainkan secara live langsung menghadapi seorang lawan. Paling, sesekali saya memainkannya (game application) di komputer, atau laptop. Justru karena tak pernah memainkan biliar, dan pasti karena nggak mudheng mahir memahami tata cara, aturan-aturan, apalagi filosofi permainan itu, menjadi menarik bagi saya untuk melihatnya dalam nuansa tadabbur.

Tadabbur, dalam khazanah perkembangan ilmu dan Islam kita, berbeda –dan jelas kalah populer– dengan tafsir. Jika tafsir memerlukan metodologi yang konon akademis-ilmiah, tadabbur cukup mensyarati adanya hikmah atau manfaat kedekatan pelakunya dengan Allah Swt. Tafsir sangat kaku dan rigid dalam rangka menyingkap kebenaran, tadabbur tidak dibebani keharusan lahirnya kebenaran. Pendek kata, dalam nuansa tadabbur: bukan ilmu tapi rindu. Jadi ini tadabbur! Ini hanya bagian dari kerendahatian untuk senantiasa diajarkan ‘iqra’ oleh-Nya sebagaimana kalimat letterlijk dalam Alquran literer-Nya: afala yatadabbarunal qur’an.

Dalam permainan biliar, yang konon ada yang berjenis Carom, English Billiard dan Pool, diperlukan konsentrasi tinggi di samping fisik yang prima. Tentu saja tak hanya biliar, hampir semua permainan, pekerjaan yang kita lakukan haruslah ditarekati dengan konsentrasi yang tepat. Silahkan pilih permainan jenis yang mana, dalam Pool misalnya, ada nomor bola 15, 9 atau 8, perorangan atau tim. Yang jelas bola-bola biliar itu harus disodok, diarahkan, sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, untuk dimasukkan ke dalam lubang. Bola-bola itu berwarna-warni. Bola-bola itu adalah lingkaran-bulatan kesejarahan atau peran lokal kita masing-masing. Sekali lagi ini analogi; sekedar tadabbur! Bola itu bisa bernama NU, Muhammadiyah, Ormas, Ornop, OKP, Parpol, organisasi, paguyuban, lembaga, institusi, dan lain-lain. Dan coba perhatikan: bola-bola itu disodok dengan tongkat cue (jangan bayangkan tongkat Musa alaihissalam yang diperkenankan-Nya untuk membelah lautan!) dengan didahului oleh bola ‘[berwarna] putih’. Putih seringkali disimbolkan sebagai cahaya, kesucian: meski bukan berarti warna yang lain non cahaya, kesucian dan kekudusan.

Semua entitas ciptaan Tuhan, baik yang terlihat dan tak terlihat, yang zhahir dan yang bathin, adalah cahaya. Sebab, kalau bukan cahaya, apa dong! Allah sendiri meyatakan diri-Nya sebagai cahaya, Allahu nuurussamawati wal ‘ardhl… Maka ciptaan-Nya pastilah cahaya. Putih, di sini, anggap saja, hanya dipinjam saja untuk mewakili sirr cahaya itu (dan mohon Anda tak usah memperdebatkan apakah benar putih warna kesejatian itu!), yang pada kelanjutannya diperankan oleh manusia dan makhluk-makhluk lainnya untuk disebut sebagai warna-warna lain. Itupun melalui konsensus, permakluman, bahwa hipotesis penataan manusia menyebut ini hijau, menamakan warna biru, merah, kuning, dan seterusnya. Bola putih dalam biliar digunakan untuk menyodok, mengarahkan, menghantam bola-bola lain guna memasuki lubang. Tak sadarkah kita pun di’begitu’kan dalam hidup kita oleh Pemilik Putih, Maha Juragan kita?

Kita seolah-olah merasa ada, padahal diadakan; merasa bisa, padahal dikuasakan; menjalankan, padahal diperjalankan. Kita bisa berpikir, mengolah, menyusun rencana-rencana; padahal yang berlaku adalah kehendak-Nya. Begitu bunyi ayat literer-Nya. Yang menjadi persoalan di pentas kehidupan kita hari-hari ini adalah bola-bola, lingkaran-lingkaran itu merasa sebagai cahaya sebenarnya, bukankah mereka semua –termasuk kita di dalamnya adalah pantulan dari cahaya-Nya?

Dalam biliar, terakhir, bola-bola itu sesudah dipakai bermain atau melanjutkan permainan berikutnya, selalu dirapikan dengan ‘rak biliar’ atau triangle ball rack. Kayu atau boleh berbahan lain, yang berbentuk segitiga. Lingkaran-lingkaran atau bola –dibingkai (framed)– dalam segitiga. Bagaimana jika segitiga itu kita anggap sebagai pola perhubungan cinta kasih-sayang rahman rahim antara Allah, Muhammad (kekasih paling kekasih-Nya dan kita (hamba)? Lingkaran hidupmu, hidupku, dan hidup kita sebaiknya tetap dan senantiasa dalam bingkai ‘segitiga cinta’ itu. Bukan sebaliknya, lingkaran-lingkaran kesejarahan hidup kita malah menggerus, mendistorsi, mendisposisi, mendislokasi, mendisorientasi, menegasikan Allah, Rasulullah, dan kita sendiri sebagai khalifah di muka bumi. Semoga kita tak adigang adigung adiguna terhadap lingkaran-lingkaran kita; mengerdilkan lingkaran-lingkaran lain dan latah lupa akan ‘segitiga cinta’ serta menafikan peran-Nya dalam meja biliar kehidupan kita.

Mudah-mudahan hal itu tidak terjadi pada kita, atau malah sudah menjadi-jadi!