Saya Marxis, Karena itu Saya Menolak LGBT

Dalam beberapa dekade terakhir, isu LGBT telah menjadi salah satu tema yang paling banyak diperbincangkan dalam ruang publik global maupun di negara kita. Bagi sebagian kalangan pihak, LGBT dipahami sebagai perjuangan hak-hak individu dan pengakuan identitas. Namun, bagi sebagian pemikir Marxis, persoalan tersebut tidak dapat dilepaskan dari analisis yang lebih mendasar mengenai struktur ekonomi, relasi produksi, dan dinamika kapitalisme modern.

Tulisan ini tidak berangkat dari sudut pandang agama maupun moral konservatif. Sebaliknya, tulisan ini mencoba melihat fenomena LGBT melalui kacamata Marxisme, khususnya materialisme historis.

Materialisme Historis dan Cara Pandang Marxis

Salah satu fondasi utama Marxisme adalah materialisme historis. Karl Marx berpendapat bahwa perkembangan masyarakat ditentukan oleh kondisi material dan hubungan produksi yang membentuk kehidupan sosial manusia. Dalam kerangka ini, struktur ekonomi menjadi basis yang memengaruhi lahirnya berbagai institusi sosial, budaya, hukum, dan politik yang sering disebut sebagai superstruktur.

Melalui pendekatan tersebut, seorang Marxis cenderung memandang berbagai fenomena sosial bukan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan sebagai produk dari kondisi historis tertentu. Dengan demikian, pertanyaan yang muncul bukan hanya mengenai identitas seksual atau gender, melainkan kondisi sosial apa yang memungkinkan isu tersebut menjadi pusat perhatian masyarakat modern.

Bagi seorang Marxis, perubahan kesadaran manusia tidak pernah terjadi di ruang kosong. Kesadaran selalu memiliki hubungan dengan realitas material yang melingkupinya. Karena itu, berbagai bentuk identitas sosial perlu dianalisis dalam kaitannya dengan struktur ekonomi yang sedang bekerja.

Dari sudut pandang materialisme historis, tidak ada fenomena sosial yang dapat dipahami hanya melalui penjelasan moral, psikologis, atau biologis semata. Setiap fenomena lahir dan berkembang dalam konteks sejarah tertentu yang dibentuk oleh relasi produksi dan perubahan struktur masyarakat. Oleh karena itu, seorang Marxis akan berusaha menempatkan berbagai perdebatan mengenai identitas, termasuk identitas seksual dan gender, dalam kerangka perkembangan masyarakat kapitalis modern.

Dalam masyarakat feodal, misalnya, kehidupan individu sangat ditentukan oleh posisi sosial yang relatif tetap. Hubungan ekonomi, politik, dan budaya berjalan dalam pola yang berbeda dengan masyarakat kapitalis. Ketika kapitalisme berkembang dan menghancurkan banyak ikatan tradisional, individu memperoleh ruang yang lebih luas untuk mendefinisikan dirinya. Mobilitas sosial meningkat, urbanisasi meluas, dan hubungan-hubungan lama yang berbasis komunitas perlahan tergantikan oleh hubungan yang lebih individualistik. Perubahan-perubahan inilah yang kemudian menciptakan kondisi sosial baru yang memengaruhi cara manusia memahami identitas dirinya.

Marx dan Engels pernah menulis dalam Manifesto Komunis bahwa kaum borjuis telah menghancurkan hubungan-hubungan sosial tradisional dan menggantinya dengan hubungan yang didasarkan pada kepentingan ekonomi. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kapitalisme tidak hanya mengubah cara manusia bekerja dan berproduksi, tetapi juga mengubah cara manusia memandang dirinya sendiri serta hubungannya dengan orang lain. Dalam konteks ini, berbagai bentuk identitas modern dapat dipahami sebagai bagian dari transformasi sosial yang lebih luas yang terjadi seiring perkembangan kapitalisme.

Cara pandang Marxis juga mengingatkan bahwa kesadaran manusia memiliki karakter yang dinamis. Apa yang dianggap normal, wajar, atau bahkan tabu dalam suatu periode sejarah belum tentu memiliki makna yang sama pada periode sejarah lainnya. Sejarah menunjukkan bahwa norma-norma sosial selalu mengalami perubahan seiring perubahan kondisi material masyarakat. Karena itu, analisis Marxis tidak berangkat dari asumsi bahwa suatu identitas muncul secara tiba-tiba atau semata-mata karena pilihan individu, melainkan mencoba menelusuri faktor-faktor historis yang melatarbelakangi kemunculannya.

Pendekatan ini sekaligus membedakan Marxisme dari berbagai pandangan yang terlalu menekankan individu sebagai pusat penjelasan. Bagi seorang Marxis, individu memang memiliki peran dalam sejarah, tetapi individu selalu bertindak dalam kondisi-kondisi yang tidak mereka pilih sendiri. Dengan kata lain, kebebasan manusia selalu berada dalam batas-batas yang ditentukan oleh struktur sosial yang ada. Oleh sebab itu, ketika membahas isu identitas, fokus utama analisis Marxis bukan hanya pada pengalaman personal, melainkan juga pada kondisi ekonomi, politik, dan budaya yang membentuk pengalaman tersebut.

Dalam perkembangan pemikiran Marxis kontemporer, pendekatan materialisme historis tetap menjadi alat analisis yang penting untuk memahami perubahan masyarakat modern. Ia mendorong kita untuk melihat hubungan antara fenomena-fenomena yang tampak terpisah dengan struktur sosial yang lebih luas. Dengan demikian, berbagai perdebatan mengenai identitas dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih komprehensif, yaitu sebagai bagian dari dinamika sejarah yang terus bergerak dan berubah mengikuti perkembangan kondisi material masyarakat.

Politik Identitas dan Kritik Marxis terhadap Kapitalisme

Berangkat dari materialisme historis, fokus utama Marxisme sesungguhnya bukanlah identitas individu, melainkan hubungan produksi yang membentuk kehidupan sosial. Karena itu, banyak pemikir Marxis memandang bahwa perdebatan mengenai identitas sering kali menjadi kurang produktif ketika terlepas dari persoalan kelas dan ketimpangan ekonomi yang lebih mendasar.

Dalam masyarakat kapitalis modern, berbagai identitas sosial kerap menjadi bagian dari arena politik yang sangat menonjol. Perdebatan mengenai ras, agama, etnisitas, gender, maupun orientasi seksual sering mendominasi ruang publik. Sementara itu, isu-isu seperti konsentrasi kepemilikan modal, eksploitasi tenaga kerja, ketimpangan pendapatan, dan privatisasi sumber daya publik justru tidak selalu mendapatkan perhatian yang sama besar.

Dari perspektif Marxis, kondisi tersebut layak dikaji secara kritis. Bukan karena persoalan identitas dianggap tidak penting, melainkan karena terdapat risiko bahwa perhatian masyarakat terpecah ke dalam berbagai perdebatan identitas sehingga mengaburkan persoalan struktural yang menjadi sumber ketidakadilan sosial. Dalam situasi seperti itu, kritik terhadap kapitalisme dapat kehilangan daya dorongnya karena perhatian publik terserap pada konflik-konflik yang lebih bersifat simbolik.

Karl Marx sendiri menempatkan persoalan kelas sebagai kontradiksi utama dalam masyarakat kapitalis. Menurutnya, selama alat-alat produksi masih dikuasai oleh segelintir kelompok pemilik modal, berbagai bentuk ketimpangan akan terus direproduksi. Oleh sebab itu, perjuangan emansipasi sosial tidak dapat berhenti pada pengakuan identitas semata, tetapi harus menyentuh perubahan struktur ekonomi yang melahirkan ketidaksetaraan.

Pandangan ini kemudian melahirkan kritik dari sebagian kalangan Marxis terhadap kecenderungan politik kontemporer yang lebih menekankan representasi identitas dibanding transformasi ekonomi. Bagi mereka, keberhasilan menghadirkan keragaman identitas dalam ruang publik belum tentu berarti berkurangnya eksploitasi kelas. Seorang pekerja tetap dapat mengalami ketidakadilan ekonomi meskipun identitasnya telah diakui secara sosial.

Atas dasar itu, pendekatan Marxis berupaya mengembalikan perhatian pada pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang menguasai alat produksi, bagaimana kekayaan didistribusikan, dan siapa yang memperoleh manfaat terbesar dari sistem ekonomi yang berlaku. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dianggap lebih penting untuk memahami akar persoalan sosial dibanding hanya berfokus pada identitas sebagai fenomena yang berdiri sendiri.

Kapitalisme dan Komodifikasi Identitas

Dari sudut materialisme historis, kapitalisme tidak berhenti di pabrik dan barang. Ia juga memproduksi “kebutuhan” dan “identitas” baru, lalu menjualnya.

Saat struktur keluarga, agama, dan komunitas tradisional melemah, pasar masuk mengisi ruang kosong itu. Lahirlah “pasar identitas”. Seksualitas dan gender yang dulu ranah privat, sekarang dikemas jadi segmen pasar. Industri mode, musik, film, media sosial, bahkan kampanye politik ikut bermain di dalamnya.

Bagi Marxis, ini bukan pembebasan. Ini bentuk komodifikasi jilid dua. Kapitalisme mengubah perbedaan manusia jadi produk dengan nilai tukar. Logo pelangi, gaya hidup tertentu, narasi “jadi dirimu sendiri”, simbol-simbol identitas diproduksi massal, lalu dijual dengan harga premium.

Akibatnya konflik sosial bergeser. Yang tadinya benturannya sangat jelas: pemilik modal vs pekerja, berubah jadi perang antar segmen konsumen identitas. Sementara orang sibuk memilih, membeli, dan memperdebatkan identitas… struktur kepemilikan alat produksi tetap aman, tidak tersentuh.

Singkatnya: identitas dijual, kelas dilupakan.

Engels, Keluarga, dan Reproduksi Sosial

Dalam karyanya Asal-usul Keluarga, Properti Pribadi, dan Negara, Friedrich Engels berusaha menjelaskan hubungan antara keluarga, reproduksi, dan perkembangan masyarakat.

Bagi Engels, bentuk keluarga tidak bersifat tetap, melainkan berkembang mengikuti perubahan kondisi ekonomi dan hubungan produksi. Keluarga memiliki fungsi penting dalam reproduksi sosial, yaitu proses mempertahankan dan melanjutkan kehidupan masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sebagian pembaca Marxis kemudian menggunakan pemikiran tersebut untuk mempertanyakan bagaimana perubahan konsep keluarga dan reproduksi memengaruhi keberlangsungan masyarakat secara keseluruhan.

Namun perlu dicatat bahwa karya Engels sendiri lebih banyak menjelaskan asal-usul historis institusi keluarga daripada memberikan aturan normatif mengenai bagaimana manusia harus menjalani kehidupan pribadinya.

Meskipun ada kelompok yang mencoba menarik kesimpulan dari pemikiran Engels untuk mendukung perubahan konsep keluarga yang mencakup hubungan sesama jenis, saya sebagai penolak pandangan tersebut melihat adanya perbedaan mendasar.

Dalam kerangka pemikiran Engels, reproduksi sosial tetap dijelaskan sebagai fungsi yang secara historis terikat pada persatuan laki‑laki dan perempuan, yang menjadi dasar pewarisan harta serta kelanjutan kelompok masyarakat.

Engels tidak pernah menghapuskan fungsi biologis dan sosial yang melekat pada bentuk keluarga asal tersebut; ia hanya menelusuri bagaimana bentuk itu berubah seiring sistem produksi.

Pemakaian pemikirannya untuk membenarkan penghapusan atau penggantian inti keluarga itu dianggap sebagai penyimpangan dari inti analisisnya.

Bagi saya, reproduksi sosial tetap tidak dapat terpisah dari kemampuan alami untuk melahirkan dan meneruskan keturunan hal yang tidak dimiliki oleh hubungan sesama jenis.

Oleh karena itu, meskipun mengakui analisis sejarah Engels, saya menolak kesimpulan yang mengubah kerangka analisisnya menjadi dukungan terhadap gagasan LGBT.

Perubahan bentuk keluarga yang dibahas Engels bersifat menyesuaikan kondisi ekonomi, bukan menghapuskan fungsi dasar reproduksi yang menjamin kelangsungan masyarakat.

Menggunakan namanya untuk membenarkan hal tersebut dianggap sebagai penafsiran yang terbalik, yang memisahkan teori dari kenyataan sosial dan biologis yang menjadi landasan analisisnya sendiri.

Emansipasi Manusia Menurut Marxisme

Tujuan utama Marxisme bukanlah pengakuan identitas tertentu, melainkan pembebasan manusia dari berbagai bentuk alienasi, eksploitasi, dan dominasi kelas. Marx membayangkan masyarakat di mana manusia dapat berkembang secara bebas tanpa terhambat oleh hubungan sosial yang menindas. Oleh karena itu, ukuran keberhasilan emansipasi dalam perspektif Marxis bukan terutama pada pengakuan simbolik, tetapi pada perubahan kondisi material yang memungkinkan manusia hidup secara lebih merdeka dan setara.

Dari sudut pandang saya sebagai pemikir Marxis, perjuangan yang mengangkat identitas LGBT justru menyimpang dari inti emansipasi tersebut. Ia terperangkap dalam tuntutan pengakuan hukum dan budaya semata, tanpa menyentuh akar penindasan yang bersumber dari sistem ekonomi. Lebih dari itu, pemikiran ini tidak sejalan dengan fungsi dasar reproduksi sosial yang menjadi landasan keberlangsungan masyarakat, sebagaimana telah diuraikan dalam analisis Engels.

Dalam pandangan Marxis, emansipasi sejati harus menjamin kelanjutan kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Reproduksi sosial kemampuan meneruskan keturunan dan tenaga kerja baru merupakan syarat mutlak bagi terwujudnya masyarakat bebas dari eksploitasi. Hubungan yang tidak memiliki kemampuan alami ini tidak dapat menjadi dasar tatanan sosial yang memajukan seluruh kelas masyarakat, melainkan hanya menonjolkan kepentingan kelompok sempit.

Selain itu, penekanan pada identitas LGBT memecah kesatuan perjuangan kelas buruh. Ia mengubah fokus dari perombakan sistem produksi menjadi perselisihan antar-kelompok identitas, sehingga melemahkan kekuatan bersama untuk melawan penindasan kapitalis. Bagi saya, menerima dan memajukan gagasan ini sama saja dengan mengubah arah pemikiran Marxisme menjadi tuntutan borjuis yang tidak mengubah apa pun mengenai ketimpangan materi yang dialami mayoritas rakyat.

Sebagai seorang Marxis, penolakan saya terhadap paham LGBT berangkat dari materialisme historis: fokus perjuangan harus pada basis ekonomi, bukan pada superstruktur identitas. Sepanjang esai ini saya argumenkan bahwa kapitalisme modern justru memanfaatkan identitas termasuk identitas seksual sebagai komoditas baru. Ketika konflik sosial bergeser menjadi “perang antar segmen konsumen”, kontradiksi utama antara pemilik modal dan pekerja jadi teralihkan.

Sementara itu, emansipasi sejati menurut Marx-Engels bukan pengakuan simbolik, melainkan pembebasan dari alienasi dan eksploitasi kelas. Reproduksi sosial yang menjamin kelanjutan masyarakat secara historis terikat pada keluarga laki-laki dan perempuan sebagai unit produksi tenaga kerja baru. Karena itu, memajukan gagasan LGBT berarti memecah kesatuan kelas buruh dan mengubah arah Marxisme menjadi tuntutan borjuis yang tidak menyentuh kepemilikan alat produksi.

Singkatnya: saya menolak LGBT bukan karena kebencian secara pribadi kepada mereka yang menyatakan diri mereka sebagai kaum LGBT, melainkan karena dari kacamata Marxis, ia mengaburkan persoalan kelas, memperkuat komodifikasi kapitalis, dan menjauh dari tujuan akhir Marxisme masyarakat tanpa kelas yang benar-benar merdeka.

Seorang akademisi dan intelektual publik yang memosisikan kerja intelektual saya dalam kerangka tradisi pemikiran kiri. Ketertarikan utama saya terletak pada kajian filsafat sosial, ekonomi politik kritis, dan teori budaya sebagai instrumen untuk memahami struktur-struktur yang membentuk kondisi material dan eksistensial manusia. Pekerjaan saya sebagai peneliti independen yang suka mengulik bobroknya negeri ini.