Hari-hari ini kita disambut oleh kabar yang hampir selalu sama dan menyesakkan dada: pejabat yang kembali tersandung korupsi, perempuan dan anak yang kembali menjadi korban kekerasan, hukum yang kembali tunduk pada penguasa, serta harga-harga yang kembali naik tanpa aba-aba. Bukan beritanya saja yang melelahkan, melainkan kata kembali yang terus berulang. Seolah kita terjebak dalam lingkaran yang tidak punya pintu keluar, dan lama-lama kita mulai berhenti mencarinya, lalu timbul perasaan bahwa semua itu sudah dianggap wajar, bahwa kita perlahan belajar untuk terbiasa dan tidak terkejut. Padahal, ketidakterkejutan itu adalah gejala.
Paparan negatif yang tak henti-hentinya tidak hanya menyesakkan secara emosional, tetapi perlahan mengikis kemampuan kita untuk merespons secara bermakna. Marah, kecewa, sedih, bingung, semua itu adalah sinyal sehat, tanda bahwa kita masih peduli dan mampu merasakan. Permasalahannya adalah, ketika sinyal itu datang terus menerus tapi kita tidak tahu harus melakukan apa, ia menumpuk. Dan tumpukan itulah yang mengubah kepedulian menjadi kelelahan, lalu menjadi mati rasa.
Maka pertanyaan yang sesungguhnya bukan bagaimana cara berhenti peduli, melainkan bagaimana cara untuk tetap peduli tanpa membiarkan kepedulian itu mengikis kita dari dalam.
Radical Acceptance: Menerima Tidak Berarti Menyetujui
Ketika membaca berita betapa banyak hal yang salah di negeri ini, mulai dari ruang sidang hingga ruang kelas, reaksi otomatis yang muncul adalah penolakan. Ada bisikan dalam hati “kenapa hal ini bisa terjadi?” atau “kapan semua ini berakhir?”. Gejolak batin itu wajar, tapi jika dibiarkan tanpa arah, ia akan mengantarkan kita pada kelelahan mental.
Di sinilah konsep Radical Acceptance yang dipopulerkan oleh psikolog Marsha Linehan dalam kerangka Dialectical Behavior Therapy (DBT) menjadi relevan. Konsep ini mengajak kita untuk dapat melihat segala sesuatu dengan apa adanya, sebagaimana mestinya, tanpa penilaian dan tanpa penolakan. Pada intinya Radical Acceptance mengajarkan kita untuk tidak menghabiskan energi dengan terus mengecam fakta. Kita diajarkan untuk menerima kenyataan sepenuhnya, bukan karena kita menyetujuinya, tetapi jika kita terus melawan fakta itu hanya akan menambah penderitaan. Rasa sakit memang tidak bisa kita hindari, tapi penderitaan yang berlarut-larut adalah pilihan.
Menerima secara radikal bukan berarti pasrah, apalagi menormalisasi ketidakadilan. Menerima artinya kita cukup berhenti sejenak dan mengakui bahwa “Ya, korupsi masih banyak terjadi” “Ya banyak hal di negeri ini yang masih perlu dibenahi”. Tanpa penghakiman, tanpa penyangkalan. Cukup bahwa ini adalah kenyataan yang sedang kita hadapi bersama-sama. Sebab hanya dari kenyataan yang kita terima, kita bisa benar-benar melangkah.
Tidak Cukup dengan Menerima
Penerimaan memberikan kita ruang untuk bernafas. Tapi setelah itu, apa yang harus kita lakukan? Di sinilah Ibnu Miskawaih, seorang filsuf Muslim abad ke-10 hadir dengan pertanyaan bagaimana kita bisa mengelola diri setelah menerima kenyataan?
Dalam bukunya Tahziib al-Akhlak, kita punya tiga dorongan: nalar yang ingin memahami, nafsu yang ingin bertindak, dan amarah yang menggerakan keberanian. Kelelahan batin yang kita rasakan hari ini adalah tanda bahwa ketiga dorongan itu tidak seimbang. Kita terus fokus merespons berita buruk dengan amarah, sementara nalar tidak diberi ruang untuk memilah mana yang perlu direspon dan mana yang cukup diterima. Karena amarah yang kehilangan arah tidak berubah menjadi keberanian, ia berujung pada kelelahan yang melemahkan.
Solusinya bukan memadamkan amarah, tapi menemukan keseimbangan atau titik tengah. Dari keseimbangan akan tumbuh hal-hal yang kita butuhkan: kearifan untuk membaca situasi agar tetap realistis, kesederhanaan untuk tidak impulsif dan reaktif, dan keberanian untuk bertindak ketika memang harus bertindak. Keseimbangan ini bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, tapi ia dibangun lewat latihan dan pembiasaan yang dilakukan secara sadar di tengah ketidakpastian
Dua Jalan, Satu Tujuan
Linehan dan Miskawaih hidup di zaman dan tradisi yang berbeda, tapi keduanya sampai pada satu titik yang sama bahwa penderitaan yang berlarut-larut bukan datang dari kenyataan itu sendiri, melainkan dari penolakan terhadap suatu kenyataan yang sudah terjadi. Pendekatan psikologi menekankan untuk kita dapat menerima semua hal apa adanya, tanpa penilaian dan tanpa penolakan. Miskawaih menawarkan solusi bagaimana cara kita mengelola diri setelahnya. Keduanya tidak bertentangan, keduanya saling melengkapi.
Bertahan Juga Bentuk Perlawanan
Jiwa yang seimbang bukan berarti tidak pernah marah atau kecewa, melainkan ia tetap dapat mengontrol perasaan tersebut di tengah ketidaknyamanan yang dirasakan. Kita tidak bisa menghentikan arus berita buruk. Kita tidak bisa juga memaksa para koruptor untuk berhenti atau sistem tiba-tiba menjadi adil. Tapi kita bisa memilih bagaimana merawat diri di tengah semua kekacauan ini, agar jiwa kita tetap sehat, agar kita tidak kehilangan diri sendiri sebelum sempat melakukan apa pun yang berarti. Karena bertahan di tengah dunia dengan segala carut marutnya, dengan jiwa yang masih utuh, adalah salah satu bentuk perlawanan.




