Ilmu Kalam Bisa Ngukur Isi Kepala Sufi Gituh?

Ada satu hal penting yang sering kelewat saat membicarakan tasawuf, terutama saat sudah masuk wilayah hakikat, kasyaf, dan pengalaman spiritual. Posisi ini lah Ilmu Kalam punya kedudukan yang sangat penting. Imam al-Ghazali menyebut Ilmu Kalam sebagai al-ilmu al-kulli/ilmu yang bersifat universal. Sementara tafsir, hadis, fiqih, usul fiqih, bahkan tasawuf, berada pada wilayah juzi, alias parsial. Bukan berarti ilmu-ilmu itu rendah atau nggak penting, tapi masing-masing punya batas objek kajian serta bermuara pada hasil ilmu kalam.

Mufasir membahas makna Al-Qur’an, muhaddits meneliti riwayat, faqih membahas perbuatan mukallaf, sedangkan sufi membahas perjalanan batin dan pengalaman ruhani. Nah, sebelum semua itu berjalan, ada pertanyaan yang lebih mendasar seperti dari mana kita tahu bahwa Al-Qur’an benar-benar wahyu Allah? Bagaimana kita memastikan konsep tentang Tuhan, kenabian, alam, dan akhirat itu masuk akal serta sesuai dengan dalil? Di sinilah Ilmu Kalam bekerja.

Mutakalim membahas apa itu maujud dengan definisi keberadaan itu sendiri. Ia menguji konsep wajib, mustahil, mungkin, sebab dan akibat, hingga hubungan antara Tuhan dan makhluk. Gampangnya, Ilmu Kalam seperti sistem yang menjadi dasar cara berpikir. Aplikasi boleh macam-macam tapi sistemnya harus sehat. Sebab itu klaim metafisika yang muncul dari pengalaman spiritual tetap perlu diuji melalui akal, dalil, dan prinsip akidah. Kalau kata Habib Ali baqir segaf tuh “ Kasyaf gak mungkin bertentangan dengan akal. Justru Kasyaf memperkuat konklusi hukum akal”

Persoalan muncul saat sebagian ajaran sufi wujudi membawa tafsiran yang dianggap bertabrakan dengan fondasi Asy’ariyah dan Maturidiyah. Misalnya klaim tentang Iblis sebagai muwahhid ( ahli tauhid) , Fir‘aun yang dianggap mati dalam kesucian, atau gagasan bahwa Tuhan membutuhkan makhluk agar mengenal diri-Nya. Diksi semacam ini nggak cukup dibela hanya dengan berkata, “Ini rahasia para wali” atau “Ini hasil kasyaf.” Status wali bukan pengganti dalil.

Begitu juga sanad dan nama besar nggak otomatis membuat sebuah gagasan benar. Prinsipnya justru sederhana kayak lihat dulu dalilnya, cek konsepnya, uji konsekuensinya. Imam Ghazali sendiri bahkan setelah menempuh perjalanan tasawuf dan menulis Ihya Ulumiddin, tetap menempatkan Ilmu Kalam sebagai ilmu universal. Pengalaman batin boleh di hormati tapi ketika sudah berubah menjadi pernyataan tentang Tuhan dan realitas ia tetap harus melewati pengujian akal dan akidah.