Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, hubungan antara generasi tua dan generasi muda seharusnya mengalami perubahan pula. Pola komunikasi yang dahulu dianggap wajar belum tentu relevan untuk diterapkan pada generasi sekarang. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, masih dapat ditemukan pola hubungan yang menempatkan generasi tua sebagai pihak yang selalu benar, sementara generasi muda dianggap tidak memiliki cukup pengalaman untuk menyampaikan pendapat.
Pola semacam ini dapat menjadi salah satu bentuk feodalisme dalam hubungan antargenerasi. Feodalisme tidak selalu hadir dalam bentuk kekuasaan yang besar atau struktur sosial yang formal. Dalam kehidupan sehari-hari, ia dapat muncul melalui kebiasaan menuntut hormat secara satu arah, melarang membantah, meremehkan pendapat yang lebih muda, atau menganggap pengalaman sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.
Ketika “Lebih Tua” Dianggap Berarti “Selalu Benar”
Salah satu bentuk feodalisme yang paling mudah ditemukan adalah anggapan bahwa usia otomatis membuat seseorang lebih benar.
Kalimat seperti “Kamu masih muda, belum tahu apa-apa” atau “Saya lebih tua, jadi saya lebih tahu” mungkin terdengar sederhana. Namun, jika terus-menerus digunakan untuk menghentikan percakapan, kalimat tersebut dapat membentuk pola komunikasi yang tidak sehat.
Pengalaman memang memberikan seseorang pengetahuan. Akan tetapi, pengalaman tidak menjamin bahwa seseorang selalu benar dalam setiap persoalan. Dunia berubah, teknologi berkembang, informasi bertambah, dan kondisi sosial generasi baru tidak selalu sama dengan kondisi yang dialami generasi sebelumnya.
Generasi muda juga perlu memahami bahwa mereka tidak otomatis benar hanya karena memiliki akses terhadap informasi yang lebih baru. Perbedaan generasi seharusnya menjadi
kesempatan untuk saling melengkapi. Generasi tua membawa pengalaman, sedangkan generasi muda membawa perspektif dan pengetahuan baru.
Ketika Anak Dibiasakan Diam, Bukan Berkomunikasi
Sikap feodal dalam keluarga juga dapat mempengaruhi kemampuan komunikasi seseorang.
Anak yang sejak kecil sering mendengar bahwa membantah orang tua adalah tindakan yang tidak sopan mungkin akhirnya belajar bahwa menyampaikan pendapat merupakan sesuatu yang berbahaya. Ia memilih diam daripada menjelaskan apa yang sebenarnya dipikirkan.
Pada akhirnya, anak mungkin tumbuh menjadi seseorang yang kesulitan mengatakan tidak, takut menyampaikan ketidaksetujuan, atau merasa bersalah ketika memiliki pendapat yang berbeda.
Kemampuan berkomunikasi bukan hanya kemampuan berbicara dengan lancar. Komunikasi juga berarti mampu mengungkapkan kebutuhan, menyampaikan keberatan, memberikan alasan, mendengarkan orang lain, dan bernegosiasi ketika terdapat perbedaan.
Jika setiap perbedaan dianggap sebagai bentuk pembangkangan, bagaimana seseorang dapat belajar berkomunikasi secara sehat.
Dampaknya Terhadap Kemampuan Berpikir
Berpikir kritis membutuhkan keberanian untuk bertanya “Mengapa demikian? Apakah benar? Apa alasannya?
Namun, seseorang yang sejak kecil dibiasakan menerima sesuatu hanya karena dikatakan oleh orang yang lebih tua dapat kehilangan kebiasaan untuk mempertanyakan sesuatu.
Bukan berarti anak harus selalu menentang orang tua. Justru sebaliknya, anak perlu diajarkan bagaimana mempertanyakan sesuatu dengan cara yang sopan dan berdasarkan alasan.
Ada perbedaan besar antara membantah tanpa dasar dan berbeda pendapat dengan argumentasi.
Generasi muda mampu berkata “Saya memahami pendapat Bapak/Ibu, tetapi saya memiliki pandangan berbeda karena…” sebenarnya sedang menunjukkan kemampuan berpikir yang sehat.
Feodalisme yang Dibungkus dengan “Sopan Santun”
Hal membuat persoalan ini semakin rumit adalah ketika perilaku feodal dibungkus dengan istilah sopan santun.
Sopan santun memang penting. Akan tetapi, sopan santun seharusnya mengatur cara seseorang menyampaikan pendapat, bukan menghilangkan hak seseorang untuk memiliki pendapat.
Seseorang dapat berbicara dengan sopan sekaligus tidak setuju.
Generasi Tua Juga Perlu Belajar Mendengarkan
Walaupun begitu banyak juga generasi tua yang terbuka terhadap kritik, mau berdiskusi, dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkembang.
Namun, perubahan hubungan antar generasi membutuhkan kesediaan dari kedua pihak.
Generasi muda perlu belajar menghormati pengalaman generasi tua. Sementara itu, generasi tua juga perlu belajar bahwa generasi muda bukan sekedar pihak yang harus menerima instruksi.








