Komedi Politik di Teater Dionisos

Aristophanes yang hidup di Athena abad ke-5 sebelum Masehi, dengan kondisi dan situasi masyarakatnya yang sedang mengalami perang besar, ketegangan sosial, dan dinamika demokrasi langsung yang cukup intens. Dalam situasi tersebut, Aristophanes menulis dan mementaskan komedi-komedi jenaka yang secara terbuka mengolok-olok tokoh politik, kebijakan negara, dan institusi sosial. Nama-nama seperti Cleon, Socrates, dan Euripides menjadi sasaran leluconnya. Hanya saja yang perlu kita cukup hati-hati ialah, apakah komedi-komedi ini dimaksudkan sebagai kritik politik (yang serius)? Apakah Aristophanes bermaksud memengaruhi opini publik dan kebijakan politik melalui drama-teaternya? Ataukah materi politik itu hanya bahan baku untuk hiburan teaternya?

Jika mengacu pada perdebatan isian naskah yang ditulis Aristophanes, cukup banyak tafsiran, misalnya Maclolm Heath dalam esainya Political Comedy in Aristophanes menyebutkan bahwa komedi Aristophanes tidaklah politis, dalam artian berniat memengaruhi politik di luar teater. Meskipun dengan referensi politik kontemporer, komedi tersebut pada dasarnya hanya sebatas fantasi hiburan. Bahkan Martin Suryajaya di bukunya Sejarah Pemikiran Politik Klasik, karya Aristophanes itu mempunyai refleksi politik yang cukup unik, khususnya yang membahas seputar ide-ide kesetaraan, perempuan dan komunisme. Ide-ide itu tertuang dalam naskah seperti Lysistrata, Ekklesiazousai, dan Acharnians. Yang pasti punya tujuan tertentu, dalam bingkai ini ialah membuat penonton tertawa, tanpa tujuan mengubah sikap politik mereka.

Debat tentang niat dan efek komedi politik, tidak bisa dibaca sebagai monopoli studi klasik, pun ia hidup kembali dengan berbagai rupa dan bentuk kontemporer. Di Indonesia, sosok seperti Pandji Pragiwaksono dengan pertunjukan stand-up comedy-nya, khususnya Mens Rea menempatkan diri pada posisi serupa. Pandji secara terbuka mengkritik fenomena politik, sosial, dan agama dengan gaya komedi yang hangat-hangat pereus. Pertanyaan yang kita ajukan di awal ke Aristophanes, mungkin juga dapat diajukan kembali kepada Pandji. Apakah kritik-kritik dalam Mens Rea merupakan bentuk aktivisme politik yang disamarkan sebagai lelucon? Ataukah materi politik itu dipilih justru karena daya provokasinya yang jenaka, yang pada akhirnya bermuara pada nilai hiburan dan komersial?

Komedi Politik ala Aristophanes

Hal yang perlu kita akui pertama-tama bahwa subjek “Aristophanes dan Politik” sudah sangat usang. Namun, kita juga perlu menolak penyelesaian mudah yang memisahkan sama sekali antara “politik” dan “drama”. Setiap teks adalah sistem teleologis; ia diorganisir untuk mencapai suatu tujuan komunikatif tertentu. Karenanya, untuk memahami komedi Aristophanes, kita harus menanyakan resepsi seperti apa yang diharapkan oleh sang penulis, pertanyaan tentang “niat politik” pada akhirnya menjadi tak terelakkan.

Kesulitan kita untuk menjawab pertanyaan itu ialah karena kita adalah “outsider” yang berjarak jauh dari budaya Athena abad ke-5. Nuansa ironi, fantasi, dan distorsi lucu yang mungkin jelas bagi penonton Athena dapat dengan mudah disalah-tafsirkan oleh kita. Karenanya, menekankan pentingnya mencari “kontrol eksternal”, yaitu bukti di luar naskah drama yang dapat membantu mengkalibrasi tafsiran kita sebagai pembaca. Bukti itu bisa mengenai sang penyair, penontonnya, atau konteks produksi dan penerimaan drama.

Di sini saya coba menyadurkan beberapa perdebatan terhadap tafsiran teks-teks drama Aristophanes, seperti Heath terhadap Clouds dan penafsir lain, seperti Dover dan de Ste Croix, yang melihat penggambaran Socrates dalam drama tersebut, yang dijadikan bukti permusuhan Aristophanes terhadap guru para filsuf itu. Mereka membaca drama itu sebagai “ajakan terhadap kekerasan atau undang-undang represif”. Heath menolak pembacaan ini dengan merujuk bukti eksternal dari Platon.

Dalam Symposium, Aristophanes digambarkan berkumpul secara akrab dengan Socrates, Agathon, dan Alkibiades. Mereka adalah lingkaran intelektual yang justru sering diejek dalam komedinya. Fakta ini, menurut Heath menunjukkan bahwa distorsi kasar dan pelecehan di panggung komedi tidak serta-merta mencerminkan ketidaktahuan, ketidakpedulian, atau permusuhan pribadi sang penyair terhadap korban leluconnya. Hubungan pribadi yang baik itu memungkinkan karena ada pemahaman bersama bahwa apa yang terjadi di teater adalah bagian dari permainan komedi, bukan serangan pribadi –yang serius.

Kontrol eksternal lain, datang dari keberhasilan the Knight, yang isinya dipenuhi olok-olokan terhadap Cleon, politisi paling berpengaruh pada masa itu. Namun, drama ini justru memenangkan kompetisi komedi. Bahkan, beberapa minggu setelah kemenangan itu, Cleon tetap terpilih kembali sebagai jenderal. Ini menjadi indikasi kuat, bahwa penonton Athena dapat menikmati, bahkan memberi penghargaan tertinggi, kepada komedi yang menghujat pemimpin mereka, tanpa hal itu mengubah dukungan politik mereka di eklesia—hal yang bisa saja terjadi di Indonesia pada Wapres kita, wkwkwk.

Kenikmatan terhadap komedi, pada akhirnya sering kali bersifat terpisah dari penilaian politik yang serius itu. Fakta ini juga menyiratkan bahwa Aristophanes sendiri mungkin tidak bermaksud penggambarannya tentang Cleon memengaruhi pemilihan. Hiburan adalah tujuannya, dan ia berhasil.

Hal lain pada teks Lysistrata, drama yang dipentaskan pada tahun 411 SM itu, ketika situasi militer Athena sangat buruk. Di sini tidak ada seorang pun di Athena yang secara realistis mengharapkan Sparta membuka negosiasi damai atau menawarkan syarat-syarat yang dapat diterima. Karenanya, mustahil Lysistrata dimaksudkan untuk menganjurkan perdamaian sebagai tujuan yang dapat dicapai di dunia nyata. Mekanisme plot itu sendiri membuktikannya, bahwa perdamaian hanya mungkin terjadi setelah kedua pihak dilumpuhkan oleh pemogokan seksual para perempuan. Ini adalah fantasi murni, pesan perdamaian dalam Lysistrata tidak memiliki bearing langsung terhadap isu-isu debat politik di luar teater. Adegan panjang di mana Lysistrata menyampaikan pidato perdamaian, justru dikelilingi oleh lelucon visual dan verbal yang merendahkan nada seriusnya.

Kita juga perlu mempertanyakan klaim Aristophanes sebagai penasihat atau euboulos. Dalam Parabaseis, Aristophanes sering menyatakan bahwa dia telah memberikan manfaat kepada kota dengan mengkritiknya. Namun, justru klaim-klaim ini biasanya disampaikan dalam nada bercanda dan berlebihan. Di Acharnians, misalnya, klaim bahwa kritiknya telah membuat bangsa-bangsa sekutu berduyun-duyun membayar upeti adalah fantasi yang sangat jelas. Nasihat langsung yang diberikan, untuk tidak menyerahkan Aegina kepada Sparta, justru bertentangan dengan semangat perdamaian yang diusung plot drama. Ini menunjukkan bahwa peran sebagai penasihat dengan cepat diserap ke dalam wilayah komedi murni. Satu-satunya pengecualian adalah berbasis Forgs, di mana Aristophanes dengan serius menganjurkan amnesti bagi mereka yang dicabut haknya setelah kudeta oligarkis 411 SM. Namun, apa yang perlu ditekankan bahwa ini adalah pengecualian yang unik. Nasihat serius itu tidak dikoordinasikan dengan plot fantasi drama yang mengelilinginya, sehingga tidak dapat menjadi dasar untuk generalisasi tentang keseluruhan karya Aristophanes.

Mungkin, komedi Aristophanes adalah politis dalam arti ia mengambil kehidupan politik kontemporer sebagai titik tolak. Realitas politik diambil oleh penyair dan mengalami transformasi yang memalukan menjadi fantasi komedi. Tapi juga, produk dari proses pemfantasian ini tidak dimaksudkan dan memang tidak memiliki efek timbal balik terhadap realitas politik. Komedi tidak memiliki desain terhadap kehidupan politik yang menjadi inspirasinya memang.

Komedi Politik Kini

Lompatan dari teater Dionisos Athena ke klub komedi Jakarta abad ke-21 tentu sangat besar. Konteks sosial, politik, teknologi, dan ekonomi pertunjukan sama sekali berbeda. Namun dialektika inti antara hiburan dan kritik politik tetap hadir. Di Indonesia, genre stand-up comedy telah meledak popularitasnya dalam satu dekade terakhir. Dalam ekosistem ini, muncul komika-komika yang kontennya didominasi oleh observasi dan kritik politik. Pandji Pragiwaksono adalah salah satu figur paling populer di genre ini.

Pandji memang bukan komika baru, bahkan bisa disebut senior yang berkecimpung di dunia hiburan sebagai pembawa acara, musisi, dan penulis naskah. Namun, khusus pada Mens Rea beberapa pekan lalu menandai fokus yang lebih terfokus pada komedi politik. Judulnya sendiri, Mens Rea, istilah hukum Latin yang berarti “niat bersalah”. Ini dengan segera mengajak penonton untuk mempertanyakan niat di balik tindakan, termasuk mungkin niatnya sendiri dalam menyampaikan materi komedi. Dalam acara tersebut, Pandji membahas tema-tema seperti keberpihakan pemerintah, intoleransi, politik identitas, dan hipokrisi elit. Gayanya yang blak-blakan, datanya yang seringkali dirujuk dari berita aktual dan penyampaiannya penuh dengan retorika yang terasah.

Pertanyaan yang tadi kita ajukan pada Aristophanes, tentu kita coba ajukan juga di sini, apakah komedi Pandji dimaksudkan untuk memengaruhi politik di luar panggung? Apakah ia berniat mengubah opini penonton tentang figur atau kebijakan tertentu? Ataukah materi politik itu dipilih terutama karena potensinya untuk menghasilkan tawa dan engagement, dalam attention economy dan industri hiburan modern?

Beberapa faktor mendukung tesis bahwa Pandji memiliki niat politik yang serius. Pertama,  pada konsistensi tema. Pandji tidak hanya sesekali menyentuh politik, ia membangun persona komika yang identik dengan kritik politik. Kedua, pendalaman materi. Ia sering merujuk data, peristiwa spesifik, dan konstruksi argumen yang menunjukkan riset, sesuatu yang tidak selalu dilakukan komika yang hanya mencari punchline. Ketiga, eksplisitasi niat. Dalam berbagai wawancara, Pandji sering menyatakan bahwa komedi adalah mediumnya untuk “menyampaikan kebenaran” atau “membangunkan” penonton. Ia melihat dirinya bukan sekedar penghibur, tetapi juga, dalam tertentu, penyampai pesan sosial.

Namun, dengan menerapkan kerangka pikir ini, kita dapat mempertanyakan kesimpulan itu. Kontrol eksternal apa yang dapat kita gunakan? Salah satunya adalah konteks ekonomi dan media dari pertunjukkan komedi modern. Mens Rea adalah produk yang dirilis di platform streaming (Netflix dan layanan berbayar). Kesuksesannya diukur antara lain dari jumlah penonton, engagement, dan pendapatan. Dalam attention economy, materi yang provokatif, termasuk kritik politik yang tajam, adalah komoditas yang sangat berharga. Ia menarik perhatian, memicu pembicaraan, dan akhirnya meningkatkan nilai komersial. Dengan kata lain, niat untuk menghibur dan meraih suksesi komersial dapat menjadi motivator utama, sementara kritik politik adalah sarana untuk mencapai tujuan itu, bukan tujuan itu sendiri.

Pentingnya menilai koherensi antara pesan yang diklaim dan keseluruhan struktur pertunjukan. Dalam Mens Rea, apakah kritik politik Pandji terkoordinasi dengan sebuah “plot” atau lelucon yang terpisah-pisah? Seringkali, struktur stand-up comedy memang berupa kumpulan observasi dan cerita. Kritik terhadap suatu kebijakan bisa langsung disusul oleh lelucon tentang kehidupan pribadi. Peralihan nada yang cepat ini dapat berfungsi, seperti dalam komedi Aristophanes, untuk “melucuti” keseriusan kritik sebelumnya. Penonton diajak untuk tidak berlama-lama dalam suasana kritik serius, tetapi segera dihibur lagi oleh lelucon berikutnya. Mekanisme ini mirip dengan bagaimana pidato Lysistrata tentang perdamaian dikelilingi oleh lelucon visual yang mengolok-olok.

Faktor penonton juga penting. Apa yang ditunjukkan bahwa penonton Athena bisa menertawakan ejekan terhadap Celon tanpa mengubah dukungan politik terhadapnya. Di Indonesia, dapat diamati bahwa penonton mungkin mendukung suatu figur politik tetapi tetap bisa menikmati lelucon yang mengejek figur yang ia dukung. Mereka menikmatinya sebagai hiburan, bukan sebagai masukan politik. Media sosial memperkuat fenomena ini. Sebuah klip komedi politik bisa diviralkan dan dinikmati oleh orang-orang dari berbagai spektrum politik. Mereka tertawa bukan karena setuju dengan kritiknya, tetapi karena keterampilan komika dalam menyajikan materi tersebut. Hiburan dan politik sekali lagi berada di jalur yang berbeda.

Niat, Persona dan Batas-Batas “Keseriusan”

Perdebatan tentang komedi politik sering terpusat pada kata “serius”.  Penggunaan istilah ini untuk merujuk pada niat untuk memengaruhi politik luar panggung. Dalam menanggapi ini meminjam kritik Michael Silk, bahwa problemnya lebih dari ini, kita harus mendefinisikan ulang apa arti kata “serius” dalam konteks komedi. Bagi Silk, komedi bisa “serius” dalam arti substantif, memiliki kedalaman resonansi, tanpa harus menjadi “serius” dalam arti niat politik yang langsung. Komedi bisa jadi adalah bentuk seni yang kompleks, di mana kritik sosial disampaikan melalui medium lelucon, ironi, dan hiperbola.

Pandji, dalam Mens Rea, tampaknya bermain di wilayah ini. Ia menyampaikan observasi substantif tentang kondisi politik Indonesia, tetapi ia melakukannya dengan semua alat retorika komedi: timing, ecaggerasi, ironi, dan self-deprecation. Selanjutnya, apakah kehadiran perangkat komedi itu sera-merta membatalkan “keseriusan” substansinya? Bisa jadi iya, jika yang dimaksud adalah niat untuk aksi politik langsung. Namun, juga bisa keduanya bisa berjalan bersama. Lelucon adalah kendaraan, substansi kritik adalah muatannya.

Cuma, kita juga perlu berhati-hati dengan persona. Apa yang disampaikan di panggung adalah konstruksi. “Pandji” di atas panggung adalah persona yang mungkin berbeda dari Pandji sebagai individu privat. Persona itu dibentuk untuk menghibur. Dalam konteks ini, bahkan kemarahan atau kefrustasian yang ditampilkan di panggung adalah bagian dari pertunjukkan. Ia dirancang untuk terlihat autentik guna membangun koneksi dengan penonton, tetapi tetap berada dalam bingkai “ini adalah komedi”. Ini mengingatkan tentang bagaimana Aristophanes menyerap peran penasihat ke dalam wilayah komedi murni. Klaim-klaim tentang kebenaran dan niat baik bisa menjadi bagian dari lelucon itu sendiri.

Di sisi lain, tidak dapat disangkal bahwa komedi politik memiliki efek sosial. Ia dapat menormalkan kritik terhadap penguasa, menyediakan kerangka naratif untuk memahami peristiwa politik, atau sekadar melegakan ketegangan masyarakat. Efek-efek ini mungkin tidak direncanakan secara spesifik oleh komika sebagai “niat”, tetapi mereka adalah konsekuensi dari pertunjukan tersebut. Aristophanes mungkin tidak bermaksud menjatuhkan Cleon, tetapi komedinya berkontribusi pada suatu budaya di mana politisi dapat menjadi bahan tertawaan publik. Demikian pula, komedi Pandji mungkin berkontribusi pada suatu suasana di mana kritik terhadap pemerintah disampaikan secara terbuka dan diterima sebagai bagian dari wacana publik yang sehat. Efek ini adalah politis, terlepas dari niat pribadi pelakunya.

Akhir Kata

Kita melihat bahwa komedi Aristophanes, meski sarat dengan materi politik, pada akhirnya merupakan seni pertunjukan yang tujuannya adalah memenangkan kompetisi dan menghibur penonton Athena dalam festival Dionsos. Kritik politik adalah bahan bakunya, tetapi produk akhirnya adalah fantasi komedi yang tidak dimaksudkan untuk secara langsung mengintervensi arena politik. Hubungan personal yang baik dengan sosok-sosok yang diejek, kesuksesan komedi yang menyerang politisi berkuasa, dan konteks produksi yang tidak realistis untuk pesan damai, semua mendukung kesimpulan ini.

Menerapkan lensa ini kepada komedi politik kontemporer seperti yang dilakukan Pandji Pragiwaksono menghasilkan gambaran yang ambigu. Di satu sisi, terdapat indikasi niat untuk menyampaikan kritik substantif. Di sisi lain, logika industri hiburan, struktur pertunjukan stand-up yang terfragmentasi, dan respons penonton yang mencari hiburan terlebih dahulu, semua menunjukkan bahwa materi politik sekali lagi berfungsi terutama sebagai bahan baku untuk komoditas hiburan. Persona “komika politik” adalah sebuah brand yang efektif dalam attention economy.

Mungkin, kita harus selalu skeptis terhadap klaim niat politik murni dalam komedi. Konteks produksi, ekonomi, dan resepsi penonton selalu membentuk dan membatasi niat tersebut. Lalu, komedi politik mungkin paling tepat dipahami bukan sebagai alat propaganda atau aktivisme langsung, tetapi sebagai sebuah ruang simbolik di mana masyarakat dapat bermain-main dengan kekuasaan, mengolah ketegangan politik melalui mekanisme tawa, dan—dalam prosesnya—mungkin secara tidak langsung membentuk iklim politik tertentu.

Aristophanes tidak mengubah kebijakan Athena dengan The Knights-nya. Pandji mungkin juga tidak akan mengubah hasil pemilu dengan Mens Rea-nya. Namun, keduanya, dalam konteks zaman masing-masing, telah menciptakan ruang di mana politik tidak lagi sakral dan menakutkan, tetapi dapat ditertawakan. Dalam demokrasi, kemampuan untuk menertawakan penguasa mungkin bukanlah alat perubahan langsung, tetapi ia adalah penanda kesehatan dari suatu ruang publik yang bebas. Di situlah, mungkin, letak politik sejati dari komedi: bukan dalam niat mengubah, tetapi dalam keberanian untuk menertawakan, dan dalam kebebasan kolektif untuk melakukannya.