Mewujud Menjadi Cahaya (Kepada Dewi Amalia Purnama)

Kekasih..
Lama aku tak menyapamu melalui aksara, melalui ejaan kata dan sekuntum bunga. Bukan karena aku lupa, bukan karena tak setia, tapi beginilah ternyata dunia rumah tangga: membunuh kegilaan dalam mencinta. Rupanya, dengan menikahimu aku memasuki kelahiran kedua, menghapus jejak kelahiran pertama. Dan pasti akan beda!

Kekasih..
Kini kita tak lagi menjadikan cinta sebagai benda, tapi kata kerja. Apalagi ketika lahir kedua anak kita, lalu membenamkan pada mereka nama; Sabda dan Arka. Apakah ada wujud cinta yang lebih cinta selain mereka? Kau dan aku sepakat sama-sama: tak ada! Meski pada akhirnya, Arka harus pulang kepada Allah-nya mendahului kita.

Kekasih…
Kau adalah seorang sarjana. Kepadaku kau harus memberi maaf tak terkira, sebab aku belum mengizinkanmu mencari uang di luar sana. Untuk sementara, tak perlu kau sedih dan putus asa, apalagi merasa tak guna, sebab menghasilkan uang atau tidak bukan penentu utama, siapa yang lebih mulia di antara kita.

Kekasih..
Kepadaku kau pernah bertanya, “Lalu ilmu yang kupunya harus diberikan pada siapa?”, berikanlah pada yang merobek rahimmu hingga menderita, yakni anak kita. Kaulah sesungguhnya guru pertama untuknya, paling utama, bukan aku atau mereka yang ada di luar sana.

Kekasih..
Ajarkan mereka olehmu apa yang tergugus dalam terang dan gulita, beritahu mereka jika setiap benda punya makna, papah mereka untuk paham bahwa segala sesuatu tersemat nyawa. Dan tanamkan pada pori-pori jiwanya, kalau semua yang ada, tak pernah sia-sia, dicipta atas nama Cinta! Robbana maa kholakta haadza bathila..

Kekasih…
Aku tahu menjadi ‘Ibu Rumah Tangga’ hari ini memang tak bikin bangga, gelar itu menjelma menjadi sesuatu yang hina. Bahkan untuk menyebutnya saja, selalu harus menyelipkan kata ‘hanya’. Padahal setiap melihatmu sedang mengurusku dan anak kita, betapa aku jadi curiga, jika sorga akan dipenuhi ibu-ibu rumah tangga. Karena menjadi seperti kalian para lelaki tak bisa. Tak bisa!

Kekasih..
Derajatmu dan derajatku adalah sama, tak perlu berunding siapa nomor satu siapa nomor dua. Dari getarmu aku menjadi doa, dari keringatmu aku menjadi mantra, dari air matamu aku menjadi cakrawala, dan dari detak sukmamu aku mampu kembali menjadi manusia, setelah sebelumnya ditusuk-tusuk luka dunia!

Kekasih..
Aku lelaki biasa, tak ada limpahan harta, tak punya gundukan emas permata, tapi kau harus percaya, aku menampung bendungan air mata yang siap menderas kapan saja, memiliki endapan doa yang setiap saat bisa kau pinta, demi menyaksikanmu bahagia. Di dada, di jiwa, di sukmamu juga, tak akan kubiarkan ada secuil derita.

Kekasih..
Meski tak lewat puisi atau prosa, hari ini izinkan aku merayumu lagi lewat kata, bahwa meski kau perempuan yang sederhana, dirimu telah mewujud menjadi cahaya.

Kepadamu. Cinta.