Dalam Awakened Body, Haviez Ammar memosisikan tubuh bukan sebagai objek representasional, melainkan sebagai struktur kesadaran, yaitu sebuah medan tempat ingatan, etika, spiritualitas, dan relasi ekologis saling bertaut. Tubuh di sini bekerja seperti peta internal: berlapis, penuh getaran, dan tidak pernah stabil. Pendekatan ini tampak jelas melalui pilihan medium drawing dua dimensi yang digarap secara rapat, disiplin, dan intens. Persis sebuah praktik yang menuntut waktu, kesabaran, dan pengendalian diri, sekaligus merefleksikan laku hidup itu sendiri.
Kerapatan garis dalam karya-karya Ammar bukan sekadar persoalan teknis, tetapi berfungsi sebagai metafora kesadaran yang terjaga. Setiap goresan menjadi jejak keputusan; setiap lapisan menjadi endapan pengalaman. Dalam konteks ini, tubuh tidak hanya digambar, tetapi diaktifkan sebagai ruang refleksi etis.
Jejak genealogis Ammar yang pernah mengenyam pendidikan pesantren di Ponorogo dapat diidentifikasi pada objek visual dalam karyanya. Kemudian Bandung sebagai kota dengan dinamika seni rupa yang kuat dan tradisi drawing yang panjang, tempat di mana kesadaran akademis seorang Ammar terbentuk dan terbangun. Pameran ini menegaskan posisi Haviez Ammar sebagai perupa yang konsisten mengolah medium gambar sebagai ruang kontemplasi. Bandung tidak hanya menjadi lokus geografis, tetapi juga konteks kultural yang memungkinkan dialog antara tradisi, eksperimentasi visual, dan wacana kontemporer.
Dari Folklor ke Medan Kontemplatif melalui konografi Reog Ponorogo
Pemilihan ikonografi Reog Ponorogo seperti bulu merak, dadak merak, dan singo barong, menjadi kekayaan konseptual penting dalam praktik Ammar. Namun, kekuatan karya-karyanya justru terletak pada strategi dekonstruksi simbolik. Reog tidak dihadirkan sebagai narasi budaya yang utuh, melainkan dipecah, dipelintir, dan diolah ulang menjadi bahasa visual yang cenderung surrealis.
Bulu merak yang berulang dan bertumpuk sering kali membentuk struktur visual menyerupai tubuh, atau sebaliknya, tubuh manusia melebur ke dalam lanskap ornamen. Di titik ini, Ammar menciptakan ambiguitas antara manusia, hewan, dan simbol. Suatu kondisi liminal yang mencerminkan krisis identitas manusia kontemporer: terombang-ambing antara naluri, kesadaran spiritual, dan tanggung jawab sosial.
Golden Ratio sebagai Kesadaran Komposisional Tersirat
Menarik untuk membaca karya-karya Ammar melalui pendekatan Golden Ratio (φ ≈ 1,618), bukan sebagai formula matematis yang kaku, melainkan sebagai prinsip keseimbangan intuitif. Dalam sejumlah karya seperti Ukel, Sembahyang, dan Manungsa Mung Ngunduh Wohing Pakarti, struktur komposisi menunjukkan kecenderungan pembagian ruang yang mendekati rasio emas.
Bidang utama sering ditempatkan tidak tepat di tengah, melainkan sedikit bergeser, menciptakan ketegangan visual yang harmonis. Fokus utama baik berupa kepala, pusat ornamen, atau akumulasi detail garis, kerap berada pada titik-titik yang secara visual sejalan dengan spiral emas. Hal ini membuat mata penonton bergerak secara alami menyusuri bidang gambar, mengikuti ritme yang terasa organik, seolah komposisi tumbuh dengan sendirinya.

Sacred Simplicity, 2023
Drawing, Pencil On Canvas
100 x 90 x 4 cm
Karya “Sacred Simplicity” (2023) menawarkan dialektika visual yang menarik antara kompleksitas garis pensil dengan kesederhanaan tematik. Meskipun format kanvasnya berukuran (100 x 90 cm) mendekati bentuk persegi (rasio 1.11), Ammar tetap menggunakan logika geometris yang sangat disiplin di dalam ruang komposisinya.
Berbeda dengan karya Ukel yang bersifat ekspansif, “Sacred Simplicity” menggunakan pendekatan Golden Spiral yang lebih memusat (sentripetal). Fokus Introspektif atau titik terkecil dari spiral Fibonacci diletakkan pada area wajah atau figur sentral. Hal ini menciptakan efek psikologis “kesunyian” atau “simplisitas” di tengah keriuhan ornamen di sekelilingnya.
Keseimbangan Dinamis: Meskipun terlihat padat di satu sisi, Ammar memanfaatkan Golden Section untuk membagi area negative space. Ruang kosong ini bukan sekadar sisa kanvas, melainkan elemen vital yang memberikan napas pada karya, sesuai dengan judulnya yang menekankan pada kesederhanaan yang sakral
Secara kuratorial, karya ini menunjukkan kematangan Ammar dalam mengolah emosi. Figur manusia tidak lagi ditampilkan secara utuh, melainkan menyatu dengan elemen flora dan fauna yang disusun berdasarkan proporsi (dekonstruksi bentuk). Ini adalah kritik terhadap ego manusia; bahwa kesederhanaan yang sejati ditemukan saat manusia melebur dengan keteraturan alam. Kerapatan garis pensil yang mengikuti alur rasio emas menciptakan tekstur yang ritmis. Garis-garis tersebut berfungsi seperti “zikir visual” yang berulang, membawa audiens pada frekuensi meditasi yang sama dengan sang seniman saat berkarya.
Sesuai dengan prinsip Gestalt, mata manusia cenderung mencari pola dalam kekacauan. Ammar menyediakan pola tersebut melalui pembagian bidang yang patuh pada hukum geometri. “Sacred Simplicity” membuktikan bahwa kesederhanaan tidak harus berarti kosong, melainkan sebuah kondisi di mana setiap elemen berada pada tempat yang tepat secara matematis dan estetis.

Ukel, 2022
Drawing, Pencil On Canvas
130 x 80 x 4 cm
Dalam karya “Ukel” (2022), Ammar menunjukkan kepatuhan yang luar biasa terhadap struktur geometris semesta. Analisis ini menggunakan instrumen Golden Ratio untuk membedah bagaimana estetika drawing-nya mencapai titik harmoni yang elegan dan intelektual.
Karya ini memiliki dimensi 130 x 80 cm. Jika kita melakukan kalkulasi matematis sederhana (130 / 80 = 1.625), angka ini sangat mendekati konstanta Phi (φ) = 1.618 (The Golden Ratio). Ammar memilih ruang yang secara alami sudah selaras dengan standar keindahan klasik, memberikan kesan megah sekaligus proporsional sebelum garis pertama digoreskan.
Dalam foto analisis, terlihat bahwa garis spiral Fibonacci memandu mata audiens untuk masuk ke dalam pusat massa visual (The Golden Spiral). Titik fokus spiral tersebut melingkar secara presisi dan bermuara pada tumpukan bulu merak yang paling detail. Ini bukan sekadar ornamen; ini adalah “jantung” dari karya tersebut yang merepresentasikan pusat kesadaran manusia dalam tema Gorejat Raga. Garis-garis pensil yang menyerupai sulur-sulur organik mengikuti alur spiral ini, menciptakan efek visual yang dinamis seolah-olah karya ini terus bergerak memutar (mengukel) ke dalam.
Melalui garis grid vertikal dan horizontal, kita dapat melihat bahwa Ammar menempatkan elemen-elemen penting (seperti kaki figur dan aksen kaligrafiti) pada titik-titik persimpangan rasio emas (The Golden Section). Keseimbangan komposisi, penempatan beban visual di bagian tengah bawah yang disangga oleh area kosong di bagian atas menciptakan keseimbangan yang stabil namun tidak kaku.
Penggunaan Golden Ratio membuktikan bahwa Ammar mengadopsi hukum pertumbuhan alam (seperti pola tanaman atau galaksi) ke dalam karyanya. Ini menghubungkan raga (tubuh) dengan kosmos (alam semesta). Dari kacamata teori rupa, kerapatan garis pensil Ammar yang mengikuti pola geometris ini menunjukkan sebuah disiplin spiritual. Ada “irama” yang terjaga, di mana setiap goresan memiliki fungsi ruang yang jelas, mencegah karya yang padat ini menjadi kacau (chaotic).
Karya “Ukel” adalah manifesto teknis Ammar yang menggabungkan kemahiran drawing dengan kecerdasan matematika. Penggunaan Rasio Emas di sini bukan hanya teknik komposisi, melainkan simbolisasi dari keselarasan antara mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (Tuhan/Semesta). Sebuah karya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sakral secara struktur.
Dalam karya Kendhel dan Sacred Simplicity, misalnya, keseimbangan antara ruang padat dan ruang napas (negative space) memperlihatkan kesadaran proporsional yang matang. Kerapatan detail tidak menenggelamkan keseluruhan bidang, melainkan dikontrol melalui pembagian ruang yang terukur, suatu praktik yang selaras dengan prinsip Golden Ratio sebagai harmoni antara kompleksitas dan kesederhanaan.
Ritme Spiritual dan Lapisan Makna dalam Kaligrafiti
Kehadiran elemen kaligrafiti, tersirat dalam jejak menyerupai tulisan, gestur grafis, atau tanda-tanda visual, komposisi ini menjadi lapisan konseptual yang memperkaya karya Ammar. Elemen ini berfungsi sebagai ritme visual, sekaligus sebagai “suara batin” yang menyusup di antara kepadatan garis. Dalam konteks Golden Ratio, kaligrafiti kerap berperan sebagai aksen pengimbang, memecah kepadatan dan mengarahkan alur pandang.

Sapuranusa, 2025
Painting, Mix Media On Canvas
100 x 80 x 4 cm
Lebih jauh, kaligrafiti ini dapat dibaca sebagai residu spiritual dan kultural, mengingat latar pendidikan pesantren Ammar. Tubuh dalam karya-karyanya tidak hanya bekerja secara fisik, tetapi juga sebagai arsip ingatan religius, tempat doa, etika, dan disiplin spiritual berkelindan dengan praktik visual kontemporer.
Menuju Kesadaran Kolektif Melalui Tubuh, Etika dan Ekologi
Relasi tubuh dan alam dalam karya-karya Ammar membuka pembacaan ekologis yang subtil namun tajam. Merak dan singa tidak hadir sebagai simbol eksotis, melainkan sebagai representasi relasi kuasa antara manusia dan alam. Tubuh manusia yang terjerat atau menyatu dengan elemen fauna menyiratkan pertanyaan etis: sejauh mana manusia menyadari dampak tindakannya terhadap lingkungan?
Dalam konteks ini, Awakened Body dapat dibaca sebagai ajakan menuju kesadaran ekologis berbasis etika tubuh. Tubuh yang “terjaga” adalah tubuh yang mampu menimbang laku hidupnya, tidak hanya terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap ekosistem yang menopangnya.
Disiplin Gambar sebagai Laku Hidup
Melalui Awakened Body: Gorejat Raga, Haviez Ammar menegaskan posisinya sebagai perupa yang konsisten menjadikan drawing sebagai ruang kontemplasi filosofis dan etis. Kekayaan karyanya tidak hanya terletak pada kompleksitas visual, tetapi pada kesadaran struktural, baik dalam pemilihan simbol, pengolahan medium, maupun pengendalian komposisi yang selaras dengan prinsip harmoni seperti Golden Ratio.
Dalam rapatnya garis, dalam getaran tubuh, dan dalam keseimbangan yang nyaris matematis namun tetap intuitif, Ammar menghadirkan tubuh sebagai medan refleksi: tubuh manusia, tubuh budaya, dan tubuh alam yang saling terhubung dalam satu kesatuan etis yang hidup.
Detail Pameran:
Judul: Awakened Body; Gorejat Raga
Seniman: Haviez Ammar
Kurator: Wildan F. Akbar
Periode Pameran: 16 Januari – 8 Februari 2026
Lokasi: Clove Hotel, Jl. Awiligar Raya No.2, Cibeunying, Kab. Bandung




