Antara Gadget dan Wajah Manusia: Tinjauan Etika atas Fenomena Phubbing di Perguruan Tinggi Keislaman

Pernahkah Anda berada dalam sebuah percakapan, namun lawan bicara Anda sibuk menatap layar smartphone-nya? Atau sebaliknya, pernahkah Anda menyadari bahwa justru Anda yang melakukan hal itu kepada orang lain? Inilah yang dalam dunia akademis disebut phubbing — sebuah kata gabungan dari phone dan snubbing yang secara harfiah berarti mengabaikan seseorang demi telepon genggam. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan sepele. Ia adalah cerminan dari pergeseran nilai dalam relasi sosial manusia di era teknologi digital.

Seiring meluasnya penggunaan smartphone dan kemudahan akses internet, phubbing menjadi semakin lazim dijumpai — bahkan di ruang-ruang yang seharusnya menjunjung tinggi interaksi bermartabat, seperti ruang kelas, kantor pelayanan, dan rapat akademik. Lantas, bagaimana kondisi nyata perilaku phubbing di lingkungan perguruan tinggi Islam? Dan apa yang data kuantitatif bisa ungkapkan tentang dimensi etisnya? Essay ini berangkat dari penelitian yang dilakukan terhadap 198 responden dari dua Perguruan Tinggi Keislaman Negeri (PTKIN) di Jawa Barat: UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.

Apa Kata Data: Potret Phubbing di PTKIN

Penelitian ini menggunakan metode mixed methods — memadukan survei kuantitatif dengan analisis kualitatif — untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh. Survei disebarkan kepada 250 responden, namun yang mengisi secara penuh sebanyak 198 orang, yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan staf kependidikan berusia 19–50 tahun. Penetapan jumlah sampel mengacu pada tabel Krecjie dan Morgan, yang lazim digunakan dalam penelitian berpopulasi besar.

Dari data yang terkumpul, tiga aspek utama phubbing diukur berdasarkan instrumen Phone Snubbing Scale (Phub-S) dari Reza I.F., yakni: (1) kecenderungan mengabaikan orang lain demi gadget (ignore others and switch to gadgets), (2) ketergantungan pada gadget (dependency on gadgets), dan (3) keterputusan dari lingkungan sosial (social disconnectedness).

Hasilnya cukup mengejutkan — dan justru menjadi titik yang menarik untuk ditelaah. Ketergantungan pada gadget menempati angka tertinggi di antara ketiga aspek, yakni sebesar 44%. Artinya, hampir separuh responden mengakui bahwa mereka memiliki ketergantungan terhadap gadget yang cukup signifikan. Aspek mengabaikan orang lain demi gadget berada di angka 29%, sementara aspek keterputusan sosial justru paling rendah, yakni hanya 27%.

Bila digambarkan dalam sebuah komposisi: dari setiap 100 responden, sebanyak 44 orang memiliki ketergantungan tinggi pada gadget, namun hanya 29 yang benar-benar mengalihkan perhatian ke gadget saat berbicara dengan orang lain, dan hanya 27 yang merasa terputus dari lingkungan sosialnya. Ada kesenjangan yang menarik di sini: orang-orang ini ’kecanduan’ gadget, tapi tidak serta-merta mengabaikan orang di sekitar mereka.

Sumber: data pribadi penelitian, 2024

Mengapa Ketergantungan Tinggi, Tapi Pengabaian Rendah?

Temuan di atas memunculkan pertanyaan penting: bagaimana bisa seseorang sangat bergantung pada gadget, tapi tetap hadir secara sosial dalam percakapan? Jawaban atas pertanyaan ini tidak bisa dilepaskan dari konteks di mana penelitian ini dilakukan: lingkungan pendidikan Islam.

Sebagian besar mahasiswa di PTKIN memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Dalam tradisi pendidikan Islam klasik, khususnya yang merujuk pada kitab Ta’lim al-Muta’allim karya Az-Zarnuji, terdapat pengajaran yang sangat menekankan adab atau etika terhadap guru. Mengabaikan guru yang sedang berbicara tidak hanya dianggap tidak sopan, tetapi dipercaya dapat menghilangkan keberkahan ilmu. Nilai ini rupanya terinternalisasi dengan kuat dan menjadi rem sosial yang efektif terhadap perilaku phubbing — khususnya dalam konteks relasi mahasiswa dengan dosen.

Hal ini dikonfirmasi oleh data kualitatif dari penelitian: sebagian besar responden yang tidak melakukan phubbing kepada dosen beralasan takut “kualat” jika tidak bersikap hormat. Faktor ini menjadi penjelas mengapa angka social disconnectedness begitu rendah — bukan karena orang tidak membutuhkan gadget, melainkan karena nilai-nilai etika sosial yang tertanam kuat membuat mereka tetap memilih untuk hadir.

Wajah Orang Lain sebagai Tanggung Jawab Moral

Untuk memahami fenomena ini lebih dalam, kita perlu merujuk pada pemikiran filsuf Emmanuel Levinas. Bagi Levinas, pertemuan dengan “wajah” (face) orang lain bukan sekadar melihat raut muka seseorang secara fisik. Wajah dalam pengertiannya adalah kehadiran yang menyentuh kesadaran kita akan tanggung jawab moral. Ketika kita berhadapan dengan orang lain, kita tidak bisa bersikap acuh — karena kehadiran mereka menuntut pengakuan dan respons dari kita.

Levinas pernah menulis:

“Tanggung jawab saya tidak dapat dipindahkan; tidak seorang pun dapat menggantikan saya. Tanggung jawab adalah apa yang merupakan kewajiban atas saya secara tepat — dan apa yang secara manusiawi tidak dapat saya tolak.”

Dalam konteks phubbing, mengalihkan perhatian ke gadget saat seseorang berbicara kepada kita berarti kita menolak untuk “melihat wajah” mereka — kita mengingkari tanggung jawab moral yang muncul dari kehadiran mereka. Ini bukan sekadar ketidaksopanan; dalam kerangka Levinas, ini adalah kegagalan eksistensial untuk menjadi manusia yang utuh.

Menariknya, data dari penelitian ini justru menunjukkan bahwa mayoritas responden — meski bergantung pada gadget — masih mempertahankan kesadaran akan “wajah” orang lain dalam interaksi mereka. Ini menunjukkan bahwa internalisasi etika sosial, baik yang berasal dari tradisi keislaman maupun dari nilai budaya lokal, mampu menjadi penyeimbang dari tarikan teknologi yang begitu kuat.

Phubbing Bukan Soal Gadget, Tapi Soal Pilihan Etis

Satu hal yang paling penting dari seluruh temuan ini adalah ini: phubbing pada dasarnya bukan soal seberapa banyak kita menggunakan gadget, melainkan soal pilihan moral yang kita buat dalam setiap momen interaksi sosial. Data menunjukkan bahwa ketergantungan pada gadget (44%) tidak otomatis berujung pada pengabaian orang lain (29%) atau keterputusan sosial (27%). Ada ruang di antara keduanya — dan ruang itu diisi oleh kesadaran etis.

Inilah yang membuat hasil penelitian ini penting dan relevan, tidak hanya untuk lingkungan pendidikan Islam, tetapi juga untuk diskursus etika teknologi yang lebih luas. Teknologi tidak pernah netral secara moral; cara kita menggunakannya mencerminkan siapa kita dan nilai apa yang kita pegang. Ketika seseorang memilih untuk meletakkan gadgetnya saat berbicara dengan orang lain, itu bukan tindakan kecil — itu adalah pernyataan moral tentang penghargaan terhadap kemanusiaan.

Di sisi lain, kita tidak bisa menutup mata terhadap angka 44% ketergantungan gadget yang cukup tinggi. Ini adalah sinyal bahwa meski perilaku phubbing secara eksplisit masih terkendali, pondasinya — yakni ketergantungan yang dalam pada perangkat digital — sudah mengakar. Tanpa intervensi etika dan pendidikan yang tepat, bukan tidak mungkin angka pengabaian sosial akan turut meningkat seiring dengan penguatan ketergantungan ini.

Merawat Kehadiran di Tengah Hiperaktivitas Digital

Penelitian tentang phubbing di PTKIN Jawa Barat ini mengajarkan kita satu hal yang sederhana namun mendalam: kehadiran adalah bentuk penghormatan tertinggi yang bisa kita berikan kepada orang lain. Di era di mana layar selalu ada dalam genggaman, memilih untuk hadir sepenuhnya dalam sebuah percakapan adalah tindakan yang semakin membutuhkan kesadaran dan keberanian moral.

Data menunjukkan bahwa nilai-nilai etika — baik yang berasal dari tradisi keislaman seperti Ta’lim al-Muta’allim, maupun dari pemikiran filosofis seperti etika tanggung jawab Levinas — bukan sekadar ajaran abstrak. Ia bekerja nyata dalam kehidupan sehari-hari, membentuk pilihan-pilihan kecil yang menentukan kualitas relasi antarmanusia. Selama kesadaran itu tetap hidup, harapan bahwa teknologi dapat kita gunakan secara bijak dan bermartabat masih sangat terbuka.

Yang perlu terus kita pertanyakan bukan: “Sudah berapa lama kita menatap layar hari ini?” Melainkan: “Sudah berapa kali kita benar-benar menatap wajah orang yang ada di hadapan kita?”


Catatan: Essay ini disarikan dari artikel jurnal “Kajian Etika Fenomena Phubbing pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Keislaman Negeri Jawa Barat” oleh Arip Budiman dan Putri Anditasari (UIN Sunan Gunung Djati Bandung), yang diterbitkan dalam Jurnal Yaqzhan. Data kuantitatif diperoleh melalui survei terhadap 198 responden dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, tahun 2024.

Menyukai aktivitas membaca, menulis esai dan puisi, serta berdiskusi mengenai isu-isu filsafat, sosial, dan keagamaan kontemporer.