Rasa Rasakan Rasakan Rasa!

Pernahkah Anda berterima kasih terhadap sebuah kata? Atau banyak kata. Dalam beberapa detik, menit, jam, dalam sehari: berapa jumlah kata yang Anda rasakan, pikirkan, ucapkan, tuliskan dan seterusnya. Misal, terhadap kata ‘rasa’. Apa itu rasa? Perasaan, dzauq atau feeling; belum lagi jika ia disemat-sandingkan dengan kata-kata lain. Rasa manis, asam, pahit, pedas; rasa sedih, gembira, nelangsa, bangga; rasa memiliki, bersalah, cinta, kasih, dan sebagainya.

Meliputi pula ke rasa, pertanyaan semisal apa itu manis, asam, pahit, pedas? Apakah manis itu gula? Pedas itu cabe? Adakah manis yang lain tidak dalam gula; pedas dalam cabe? Jangan-jangan selama ini kita –sadar atau tidak– memilih salah satu laskar atau panji peradaban manis. Laskar Madu, Panji Tebu, atau Front Gula. Ini baru kita, di antara atau antero kita sehari-hari. Belum lagi disambungkan dengan industrialisasi yang memperdagangkan ‘manis’ itu. Jadilah, yang kita saksikan adalah ‘pertarungan’ jualan produk, rasa, nuansa manis di pasar-pasar kebudayaan kita. Produsen ‘manis’ A menganggap produknya yang paling manis, sembari menjelekkan produk-produk lain saingannya. Bahwa kita yang asli manis, dan yang selain kita manisnya dibikin-bikin. Demikian dan seterusnya.

Yang lebih parah, jangan-jangan pertarungan (rasa) manis itu kita pentaskan pula dalam kehidupan kita beragama dan berkeumatan dalam lingkup mikro maupun makro. Bahwa rasa beragama kitalah yang paling manis. Merasa paling Islam, paling religius, paling Pancasilais, paling intelektual-ilmiah, paling dan paling selanjutnya.

Maafkan saja tulisan ini –dan ampuni penulisnya– jika memperumit hal-hal yang seharusnya tidak ‘begitu rumit’ bagi Anda. Tetapi apa itu rumit? Bukankah kemudahan adalah sebuah kerumitan itu sendiri. Bukankah tidak rumit atau rumit itu sendiri adalah suatu masalah? Jika kita punya uang, bukankah itu suatu masalah; terlebih lagi jika tidak punya alias bokek, masalah banget! Tidakkah masalah itu terletak bagaimana cara kita memperlakukannya: berdasarkan akal dan nurani kita? Ah, terserah Anda untuk melakukan sidang majelis untuk menghukumi tulisan yang tak jelas arahnya ini.

Yang jelas, betapa tak berkuasanya kita terhadap diri kita sendiri. Bisakah kita mengatur regulasi distribusi nutrisi atas apa yang kita makan terhadap tubuh kita? Berapa untuk protein, kalsium, karbohidrat, dan lain-lain? Bisakah kita menjadwal kapan kita harus buang air kecil dan besar? Bisakah dan bisakah. Betapa gaib dan mayanya segala sesuatu di luar diri kita, di sekitar kita, atau bahkan di dalam diri kita sendiri. Betapa kita jarang menziarahi diri kita yang di dalam, sebab terlalu asik kita mengembara untuk menemukan ‘kita’ di luar diri kita.

Beragam kata, term, istilah, konsep, teori, paradigma, dan sebagainya, mengepung kita sehari-hari. Untuk mengerti kata, misalnya, ‘sukses’ saja kita meminjam pengertian, pemahaman dan penggambarannya dari orang lain; di luar diri kita. Bahwa sukses, atau meminjam bahasa Jawa disebut secara enteng ‘wis dadi wong’ atau in Sundanese ‘tos janten jalmi’ berisi dengan berbagai ukuran, standar, patokan, dan atribut-atribut yang ujung-ujungnya ‘materialistik’. Harus punya pekerjaan tetap, rumah, mobil dan seterusnya. Pernahkah iseng-iseng Anda memikirkan kata ‘cantik’: sejak kapan ia dipakai oleh kebudayaan manusia sampai pada pengertian atau konsepsinya sekarang. Hubungkan ia dengan produksi kosmetik pertama di dunia, dengan ajang pemilihan ratu kecantikan, dan lain-lain. Jangan-jangan konsep cantik itu sedemikian rupa dibangun untuk kepentingan politik dagang, atau ideologi tertentu. Silahkan cek! Sebab, di beberapa suku bangsa, komunitas masyarakat tertentu di suatu negara, masih terdapat dan konsep cantik yang dihayati dan diyakini secara terus menerus yang tidak sama atau bahkan bertentangan dengan cantik dalam perindustrian dunia hiburan, perdagangan kosmetik dan lain-lain. Bukankah cantik terdapat di dalam kepala dan dadamu? Kalau tak percaya, buktinya para lelaki, suami-suami, masih setia dan menyayangi pasangannya masing-masing. Bayangkan jika semua lelaki tergoda dan terseret dengan kecantikan ala artis, pesohor, supermodel dan lain-lain.

Bersyukurlah sambil terus berusaha menjalin kemesraan dengan-Nya Swt. Sebisa-bisanya, sekena-kenanya. Bukankah Ia Maha Segala atas segalanya. Ia Guru Sejati kita: alladzi ‘allama bil qalam, ‘allamal insaana maa lam ya’lam. Mengapa kita beragama, bertuhankan Ia, tapi hampir tak pernah mengakui dan merasakan peran-Nya sebagai Tuhan.

Astaghfirullah, rasa rasakan; rasakanlah rasa!