Ketika dunia begitu ramai, aku menyeyapkan diri darinya. Dari lahan menara gading, aku mencoba turun dan menyelami kehidupan. Ceritu itu dimulai, saat diriku mengunjungi sebuah pasar hari Minggu tak seperti biasanya, pasar yang bukan berkutat pada perniagaan saja, melainkan pasar yang menopang keberlanjutan diskursif keilmuan yang kian mencekik hari demi harinya, Pasar Minggu namanya.
Didorong oleh kakiku, aku mencoba menguji niat untuk menghadiri perjamuan pertama kalinya, kesempatan itu muncul ketika tema diskusi pemberangusan buku mencuat ke publik. Diskusi kali itu terhubung dengan empat narasumber, dimulai dari artian buku bagi para narasumber hingga pertanyaan-pertanyaan audiens yang hadir. Sesudah diskusi terlaksanakan, memantau situasi yang saat itu memanas, mulai dari penangkapan massa aksi pasca demonstrasi hingga pemberedelan buku. Pasar itu menutup diri dengan aksi simbolis pengutukan pemberedelan buku.
Selepas diskusi yang diselenggarakan, kesempatan perak menghampiriku untuk berekreasi dalam pasar Minggu. Awal kalinya, aku diajak mengopi bersama, hingga pembicaraan berlanjut pada diriku yang ditawari untuk bergabung dalam pasar Minggu. Hati kembali membara, ketika niatku surut diterpa angin menara gading, seakan-akan golden tiket Indonesian Idol diberikan padaku saat itu.
Pertama kalinya aku berekreasi di dalamnya, aku terkejut ketika mengetahui aku si bawang putih di pasar Minggu. Bawang putih ini, tak seperti di dongeng yang dicampakkan oleh bawang merah, melainkan dikerumuni dan diajak untuk berselancar. Suka ria hati menyelimutiku, seakan-akan awan kinton sedang menungguku untuk dinaiki. Aku mencoba untuk berbaur dengan om-om dan teteh-teteh yang ada di pasar Minggu. Mengamati barang yang dijual walau tak ada duit yang dipegang, aku mencoba berkenalan diri dengan setiap orang.
Setelah berkenalan diri, aku kembali duduk di kursi kayu tanpa cat. Mengheningkan suara sembari mendengarkan diskusi yang disajikan kala itu. Tak luput, mendinginkan diri dengan segelas kopi susu Jante. Nikmat suasana disana, sering menghilangkan kesumpekan hidup di menara gadingku. Serasa waktu memangkas botak detik, hari Minggu dirasa cepat berlalu, hingga aku terpaksa kembali menghadapi kesumpekan lingkungan menara gading.
Bagiku, pasar Minggu selalu menjadi tempat pelarian dari gelisah gunda gulana yang melanda. Mulai dari percakapan ngalor-ngidur, aku bisa memuaskan diri di tempat yang jauh dari dedengkot kebajikan. Tak hanya itu, aku juga mendapatkan begitu banyak kabel penghubung untuk mengetahui roda dunia berputar. Juga hasrat terpendamku, terlampiaskan dipermukaan dunia. Ketika urusan menara gading sering membuatku menjadi orang lain, pasar Minggu hadir sebagai tempat jati diriku lahir. Aku tak sedikit pun merasa lelah berkeliling di dalam pasar Minggu, karena aku tak harus seperti robot yang dipaksa membuat jurnal akreditasi di dalamnya.
Harapanku terhadap pasar Minggu, seperti minggu-minggu sebelumnya, tetap bergulir dengan kejenakaan dan hadir untuk menemani kehidupan menara gadingku yang penuh kesumpekan. Terus berada menghiasi Bandung dengan segala kejelimetannya, karena setiap orang Bandung mesti punya tempat pelampiasan diri dari dor-dar kehidupan Bandung. Tetap berselancar di setiap pekan, mengadakan rutinitas diskusi dan kegiatan-kegiatan menarik lainnya. Juga semakin banyak yang mengetahui dan menjamah pasar Minggu yang hadir di sekitaran Gedung Ajip Rosidi. Terakhir, selalu mengadakan diskon untuk aku khususnya, karena dompetku tak melulu terisi kertas rupiah.
Terakhir sebagai bawang putih di pasar Minggu, aku merasa tempat ini selalu rekomen bagi gen Z yang sumpek dengan dunia. Karena di pasar Minggu, selalu hadir kegiatan-kegiatan kreatif untuk dijajal. Juga jangan lupa, banyak barang-barang yang memanjakan mata untuk di telusuri. Terakhir sebagai penutup kali ini, aku ingin menuliskan kehadiran pasar Minggu, dalam sebuah puisi yang ditulis dipelipir jalan ketika mudik. Menceritakan kesenangan, dan kehadiran pasar Minggu yang dapat mengembalikan mood swing gen Z.
Selamat satu tahun bagi Pasar Minggu Bandung,
Semoga tahun-tahun berikutnya masih tetap bergulir dan semakin penuh oleh barudak Bandung, sekian puisi sebagai penutup:
Minggu Tua tetap Muda
Minggu dan aku air larut
Tak luput kopi penaut
Tempat bersua dan bertaut
Hadir jasa tak terpaut
Aku, minggu tumpuk buku
Buku, baju, bako, atas meja kayu
Temani suara tamu, jante kopi susu
Tupai lalu-lalang, datang kupu-kupu
Layung kuning temani hari
Sekawan terus datang menghampiri
Lelah hati tak muncul lagi
Ditemani suka ria Minggu pagi
Hadir Minggu sorak gembira
Jumpa kawan seraya suara pembicara
Hujan badai tak halang pembuka
Minggu pasar jadi acara





