Educate Your Daughter, Educate Your Son 

Beberapa waktu lalu, aku kepikiran untuk cari teman baru lewat suatu aplikasi yang terhubung  dengan Instagram. Tujuanku sederhana kok, cuma mau memperluas relasi, ketemu orang orang baru, dan kalau bisa berteman. Bahkan aku juga nggak asal ngajak kenalan, aku lihat  dulu profilnya, postingannya, baru aku putuskan orang itu cocok untuk diajak berteman atau  tidak. Karena aplikasi itu terhubung dengan Instagram, Ibuku bisa melihat apa yang aku tulis. 

Kemudian ibuku menelepon, kurang lebih katanya seperti ini. 

“Hati-hati kalau ketemu cowok, kalau bisa ajak cewek juga.” 

“Jangan bedua.” 

“Nanti kalau ternyata dia udah punya pacar gimana?” 

“Cowok itu kadang pura-pura baik.” 

“Jangan terlalu murah senyum sama cowok.” 

Aku tahu semua ucapan itu muncul karena rasa sayang. Aku juga tahu, sebagai orang tua wajar  kalau beliau khawatir. Apalagi aku sedang merantau jauh dari rumah.  

Tapi jujur aja, yang aku rasakan saat itu bukan sekedar diingatkan. Aku merasa sedang  diinterogasi. Yang paling bikin sesak, aku merasa nggak dipercaya.  

Sebagai seseorang yang udah dewasa, dan belajar hidup mandiri di luar pulau, rasanya capek kalau setiap kali ingin mengenal orang baru, yang muncul duluan pasti daftar kemungkinan  buruk. 

Dari situ muncul pertanyaan. “Kenapa ya banyak anak perempuan tumbuh dengan begitu  banyak larangan ? 

“Jangan pulang malam.” 

“Jangan mudah percaya.” 

“Jangan terlalu ramah.”

“Jangan ini.” 

“Jangan itu.” 

Aku paham, semua nasihat itu muncul bukan tanpa alasan. Memang dunia itu nggak selalu  aman. Ada orang yang suka memanfaatkan kebaikan orang lain, ada yang melakukan  pelecehan, ada yang memanipulasi. Orang tua juga setiap saat melihat berita tentang hal-hal  seperti itu, jadi wajar kalau mereka semakin khawatir.  

Tapi kadang timbul pertanyaan, kenapa beban untuk mencegah semuanya lebih banyak dipikul  oleh anak perempuan? Seolah-olah kami harus selalu waspada, harus selalu menjaga diri. Masalahnya adalah masih ada orang yang memilih untuk tidak menghormati batasan orang  lain. 

Iya, didiklah anak perempuan supaya bisa menjaga dirinya sendiri. Ajarkan mengenali situasi  yang beresiko, dan tahu kapan harus pergi dari situasi yang membuat mereka merasa nggak  nyaman. 

Tapi jangan berhenti sampai di situ. 

Didik juga anak laki-laki.  

Ajarkan bahwa menghormati batasan orang lain adalah bentuk kedewasaan. Ajarkan bahwa  menjadi laki-laki bukan berarti boleh mengendalikan, memaksa, atau memanfaatkan  kepercayaan orang lain. 

Menurutku, masyarakat yang aman nggak bisa dibangun hanya dengan membuat perempuan semakin waspada. Masyarakat yang aman juga dibangun dengan membesarkan laki-laki yang  tahu cara menghormati sesama manusia. 

Aku nggak ingin hidup di mana anak perempuan tumbuh dengan rasa takut. Aku ingin hidup  di mana anak perempuan bisa berteman, belajar, bekerja sama, dan membangun relasi dengan  siapa saja tanpa terus-menerus dibayangi rasa curiga. 

Di sisi lain, kau juga nggak ingin semua laki-laki dipandang buruk hanya karena ulah sebagian orang. Masih banyak laki-laki baik yang menghormati Perempuan, menjaga kepercayaan, dan  memperlakukan orang lain dengan baik. Mereka juga pantas diperlakukan, tanpa  digeneralisasi.  

Kalau setiap kali anak perempuan keluar rumah kita selalu berkata “Hati-hati ya”, bukankah  seharusnya, dengan kesungguhan yang sama, kita mengajarkan anak laki-laki untuk menjadi  alasan mengapa perempuan merasa aman, bukan alasan mengapa mereka harus selalu  waspada? 

Karena dunia yang lebih baik bukan cuma tercipta dari kalimat “Hati-hati ya.” 

Tapi juga dari kalimat, 

“Hormatilah orang lain.” 

Educate your daughter, educate your son, karena semuanya sama-sama penting.