Nasib Umat Dipimpin Oleh Sosok Ruwaibidhah: Sedikit Kompetensi, Banyak Relasi

Akan datang masa ketika yang benar justru tampak asing, dan yang salah justru tampak wajar; ketika kebohongan disambut tepuk tangan, sementara kejujuran dicurigai, ketika amanah dipermainkan, dan orang yang khianat malah diberi panggung. Pada saat seperti itu, bukan hanya akhlak yang runtuh, tetapi juga ukuran-ukuran kepantasan dalam memimpin, berbicara, dan menentukan arah hidup bersama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewantiwanti sebuah fase sosial yang sangat menipu.

إنِهََّا سَتأَتِْي عَلَى النَّاسِ سِنوُنَ خَداَّعَةٌ، يصَُدقَُّ فيِهَا الْكَاذِبُ، وَيكَُذبَُّ فيِهَا الصَّادِقُ، وَيؤُْتمََنُ  فيِهَا الْخَائِنُ، وَيخَُوَّنُ فيِهَا الْأمَِينُ،  وَينَْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قيِلَ: وَمَـا الرُّوَيْبِضَة؟ُ قَالَ: السَّفِيهُ يتَكََلَّمُ فِي أمَْرِ الْعَامَّةِ

.

Sesungguhnya akan datang pada manusia tahun-tahun yang penuh tipuan… dan saat itu Ruwaibidhah akan berbicara.” Ditanya, “Siapa Ruwaibidhah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh/sufaha yang berbicara tentang urusan orang banyak.” (Ahmad bin Hanbal, Musnad alImam Ahmad, no. 7912

Ruwaibidhah bukan sekadar orang yang kurang ilmu, ia adalah simbol terbaliknya tatanan. Ketika urusan umat yang seharusnya dipikul oleh ahlinya, justru dipegang oleh yang paling ringan timbangan akalnya dan paling dangkal pertanggungjawaban moralnya. Dalam bahasa hari ini, ia bisa hadir sebagai sosok yang sedikit kompetensi tetapi banyak relasi, tidak matang kapasitasnya, tetapi mahir membangun jaringan, tidak kuat amanahnya, tetapi lihai memoles citra, tidak kokoh integritasnya, tetapi pandai mengambil hati massa. Maka ia berbicara bukan untuk menuntun, melainkan untuk menguasai wacana, bukan untuk meluruskan, melainkan untuk menang. Bukan untuk menguatkan umat, melainkan untuk memperbesar dirinya.

Dan ketika Ruwaibidhah diberi mikrofon, maka kebohongan pun tampak seperti kebenaran, pengkhianatan tampak seperti strategi, manipulasi tampak seperti kepemimpinan. Karena itu, hadits ini bukan hanya berita akhir zaman, tetapi juga cermin. Apakah kita sedang hidup pada masa ketika penilaian kita lebih tunduk pada popularitas daripada kelayakan? lebih percaya pada kedekatan daripada kapabilitas? lebih mengutamakan siapa orangnya daripada apa amanahnya?

Rasulullah juga menggambarkan situasi yang lebih luas, sebuah zaman di mana manusia seperti disaring, hingga yang tersisa justru ampas, komitmen dan amanah bercampur tak menentu, lalu manusia saling bertaut dalam permusuhan, bukan dalam persaudaraan.

يَأتِْي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يغَُرْبَلوُنَ فيِهِ غَرْبَلَةً يبَْقَى مِنْهُمْ حُثاَلَةٌ قَدْ مَرِجَتْ عُهُودهُُمْ وَأمََانَاتهُُمْ وَاخْتلَفَوُا فكََانوُا هَكَذاَ وَشَبكََّ بيَْنَ

.أصََابعِِهِ

 

Akan datang pada manusia suatu zaman, hingga yang tersisa hanyalah hutsalah (orangorang hina/ampas), perjanjian dan amanah mereka bercampur, dan mereka berselisih” (Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad, no. 7049).

Menariknya, hadits ini juga memberi jalan keluar yang sangat realistis. Ketika ruang publik dikacaukan oleh kebisingan, umat diminta memegang yang ma’ruf dan meninggalkan yang mungkar, menata urusan inti, dan tidak menyerahkan urusan besar kepada arus fitnah. Dalam riwayat itu disebutkan, “Kalian ambil yang kalian kenal (kebenarannya), tinggalkan yang kalian ingkari, dan fokus pada urusan orang-orang baik di sekitar kalian, serta tinggalkan urusan umum (yang telah dikuasai kekacauan).”

Di sinilah ucapan Imam al-Junaid terasa seperti kunci yang membuka makna hadits-hadits tadi, sebuah pengakuan pahit, tetapi jujur.

قَالَ الجُنيَْدُ لوَْلََ أنََّهُ يرُْوَى أنََّهُ يكَُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ زَعِيمُ القوَْمِ أرَْذلَهُُمْ مَا تكََلمَّْتُ عَ ليَْكُمْ

 

Seandainya tidak diriwayatkan bahwa pada akhir zaman nanti pemimpin suatu kaum adalah orang yang paling rendah di antara mereka, maka aku tidak akan mengatakannya kepada kalian.” (Ibn al-Jawzi, Sifat al-Safwah, Kairo: Dar al-Hadith).

Maka, masalah Ruwaibidhah sejatinya tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh ketika umat lelah berpikir, lalu menyerahkan urusan besar kepada yang paling pandai bersuara. Ketika kompetensi kalah oleh koneksi, ketika amanah kalah oleh pencitraan, ketika kebenaran kalah oleh algoritma kepentingan. Fenomena acara Mens Rea yang belakangan ramai dibicarakan dapat menjadi contoh bagaimana “ruang umum” mudah sekali berubah menjadi arena kegaduhan. Sebagian menganggapnya kritik sosial-politik yang sah dalam kemasan komedi, sebagian lain memandangnya melampaui batas hingga memantik polarisasi dan perdebatan luas di media sosial.

Semoga Allah menjaga umat ini dari kepemimpinan yang merendahkan, dari suara-suara yang menyesatkan, dan dari kebiasaan menukar amanah dengan relasi, serta meneguhkan kita untuk tetap bersama kebenaran, meski kebenaran tampak sepi. Aamiin Ya Mujiibas Saailiin.