Otoritas interpretasi merupakan salah satu persoalan fundamental dalam sejarah tafsir Al-Qur’an. Dalam hal ini, sebelum menjawab pertanyaan terkait “metode apa yang paling valid dalam menafsirkan Al-Qur’an?” para sarjana Muslim pertama-tama berusaha menjawab pertanyaan “siapa yang berhak menafsirkan Al-Qur’an?”. Observasi empiris dari Ali ibn Abi Thalib terkait penggunaan, termasuk penyalahgunaan, ayat-ayat Al-Qur’an pada era formatif Islam mengeksplisitkan bahwa teks suci senantiasa membutuhkan mediasi manusia untuk menerjemahkan kandungannya, dan bahwa mediasi interpretatif yang tidak disandarkan pada otoritas penafsiran akan berisiko menjadikan teks sebagai instrumen pembenaran manusia belaka. Jawaban terkait wewenang penafsiran sangat menentukan bagaimana struktur, kontur, dan orientasi dari penulisan teks tafsir.
Dalam tradisi Syiah terkenal satu doktrin fondasional terkait otoritas penafsiran yang membagi realitas tekstual antara Al-Qur’an al-Shamit (Al-Qur’an yang diam) dan Al-Qur’an al-natiq (Al-Qur’an yang berbicara).
Dimensi wahyu mencakup tanzil (turunnya Al-Qur’an sebagai teks wahyu) dan ta’wil (penjelasan makna serta maksud terdalam wahyu). Karena Al-Qur’an hadir sebagai teks, ia sering disebut Al-Qur’an Al-Shamit (Al-Qur’an yang diam) yakni wahyu yang memerlukan penjelas agar kehendak Allah dapat dipahami secara benar dibutuhkan Al-Qur’an Al-Natiq (Al-Qur’an yang berbicara) yaitu otoritas yang menjelaskan dan menafsirkan kandungan wahyu. Hal ini diperkuat oleh hadits at-Tsaqalain yang diriwayatkan Imam Muslim, di mana Nabi meninggalkan dua pusaka sekaligus, Kitab Allah dan Ahlul Baitnya. Penyandingan keduanya menunjukkan bahwa pemahaman agama tidak cukup hanya berpegang pada teks Al-Qur’an, tetapi juga memerlukan rujukan kepada pihak yang memiliki otoritas dalam menjelaskan maknanya.
Antara Al-Qur’an dan Ahlul Bait mustahil terpisah untuk menginterpretasikan maksud tuhan. Al-Qur’an al-Shamit dimaksudkan teks itu sendiri serta memerlukan mediasi/wasilah demi dipahami manusia; pada konteks ini berperan penafsir atau Al-Qur’an al-natiq (berbicara) bersumber dari ucapan atau perbuatan para Imam , baik dari segi lahir maupun bathin. Imam ali As. secara eksplisit dan terabadikan oleh nahjul balagoh menyatakan tatkala berargumen melawan khawarij jika quran hanyalah tulisan yang berada diantara dua sampul; hal itu justru memerlukan proses hermenutika demi menyambungkan maksud tuhan kepada manusia seperti yang dilakukan nabi Muhammad juga para Imam. Oleh karena itu, tradisi penafsiran syiah niscaya memusatkan pendapat para imam sebagai pusat tata surya interpretasi yang mengandaikan otoritas mutlak dalam mengakses makna firman tuhan, terutama terkait apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an.
BESAR DALAM BERPERAN NAMUN SELALU TERPINGGIRKAN
Kajian tafsir Syiah menunjukkan bahwa otoritas interpretasi Al-Qur’an secara teologis berpusat pada para Imam. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Meir M. Bar-Asher (Bar-Asher, 1981) dan Sajjad Rizvi (Rizvi, 2011), yang menegaskan adanya hubungan erat antara konsep Imamah dan legitimasi penafsiran. Jadi, dalam tradisi Syiah, persoalan siapa yang punya otoritas menafsirkan Al-Qur’an nggak bisa dilepaskan begitu saja dari persoalan Imamah. Imam bukan cuma dipandang sebagai figur politik atau pemimpin umat, tetapi juga punya posisi penting dalam menjelaskan dan mengungkap makna Al-Qur’an.
Secara historis, perkembangan tafsir Syiah kemudian mengalami perubahan. Tradisi penafsiran pada masa pra-gaibah lebih banyak bergerak melalui riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada para Imam. Setelah masa gaibah, pola tersebut mulai mengalami pergeseran menuju pendekatan yang lebih rasional. Perubahan ini sebagaimana dianalisis oleh Maria M. Dakake (Dakake, n.d.) dan Andrew Rippin (Rippin, n.d.). Artinya, perjalanan tafsir Syiah nggak berhenti pada model riwayat saja, tetapi perlahan berhadapan dengan kebutuhan untuk menggunakan penalaran dalam memahami teks.
Di sisi lain, ada pula pendekatan esoteris yang melihat bahwa Al-Qur’an nggak hanya mempunyai makna lahir, tetapi juga menyimpan makna batin. Di sinilah konsep ta’wil menjadi penting, termasuk gagasan tentang Al-Qur’an yang berbicara. Pemikiran semacam ini mendapat perhatian dari M.A. Amir-Moezzi (Amir-Moezzi, 2013), Diana Steigerwald (Steigerwald, 2017), dan Mahmoud Ayoub (Mahmod Ayoub, n.d.). Dengan begitu, penafsiran nggak sekadar berhenti pada apa yang tampak dari susunan kata dan ayat, tetapi juga berusaha menggali lapisan makna yang lebih dalam.
Dari sisi metodologis, perkembangan hermeneutika tafsir Syiah bisa dilihat sebagai usaha mempertemukan dua kutub: otoritas tradisional dan rasionalitas. B. Todd Lawson (Lawson, 2013) menunjukkan bagaimana tafsir Syiah berinteraksi dengan teologi dan filsafat dalam proses tersebut. Jadi, ada semacam tarik-menarik antara mempertahankan otoritas riwayat dan membuka ruang bagi penggunaan akal. Perdebatan ini kemudian semakin jelas dalam perbedaan antara pendekatan Akhbari dan Usuli. Akhbari cenderung tekstualis dan menempatkan riwayat sebagai pijakan utama, sementara Usuli memberikan ruang lebih luas bagi rasionalitas dan ijtihad. Dinamika tersebut menunjukkan bagaimana tafsir Syiah terus merespons perubahan sosial dan intelektual sepanjang sejarahnya (Lawson, 2017).
CATATAN SUMBER
Amir-moezzi, M. A. (2013). The Silent Qur ’ an and the Speaking Qur ’ an : History and Scriptures through the Study of Some Ancient Texts *. 108, 143–174. https://doi.org/10.1163/19585705-12341283
Bar-asher, M. M. (1981). The Authority to Interpret the Qurʾan. 57.
Dakake, M. M. (n.d.). THE FORMATIVE DEVELOPMENT OF SHI ʿ I QUR ’ ANIC EXEGESIS. 253–269. https://doi.org/10.4324/9781315885360-27
Lawson, B. T. (2013). B. Todd Lawson. XII, 235–239.
Lawson, B. T. (2017). Akhbiri Shi ’ i approaches to ta / sir.
Mahmod Ayoub. (n.d.). [M. Ayoub] The Silent Qur’an and the Speaking Qur’an.pdf.
Rippin, A. (n.d.). What Defines a ( Pre-modern ) Shiʿi Tafsīr ? Notes towards the History of the Genre of Tafsīr in Islam , in the Light of the Study of the Shiʿi Contribution. 126, 435–437.
Rizvi, S. (2011). T w elv er Shī ʿ ī Ex ege sis.
Steigerwald, D. (2017). Twelver Shı ʿ ̄ ı ̄ Ta ʾ wı l ̄.








