Membicarakan cinta melalui puisi-puisi Aan Mansyur dalam Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau rupanya membawa kita melampaui batas-batas romansa. Semula, saya mengira buku ini akan menyodorkan kisah-kisah usang tentang sepasang kekasih, rindu yang meradang, atau debar perasaan di antara dua insan. Namun, semakin jauh lembaran dibalik, cinta justru menyeret saya ke tempat-tempat yang tak terduga. Ke duka kehilangan seorang kawan, ke pusar rahim seorang ibu, hingga ke sudut kedai kopi tempat seseorang mencoba mengeja nama Tuhan.
Di tangan Aan, cinta menjadi entitas purba yang menolak diberi satu nama pasti. Ia bisa merengkuh dengan hangat, tetapi di saat bersamaan menyisakan lubang luka bagi yang mengalaminya. Ia mampu membuat seseorang bersikeras bertahan hidup, sekaligus memaksanya menatap lekat-lekat hal-hal yang tak sanggup dipahami oleh akal. Puisi-puisi dalam antologi ini membongkar bagaimana cinta merambat melalui ragam hubungan yang kompleks, lengkap dengan kerumitan dan kesedihannya masing-masing.
Ambil contoh pada sajak “Kehilangan”. Di sana, cinta datang beriringan dengan maut. Puisi ini menuntun pembaca pada sosok kawan-kawan yang mati tertembak, orang-orang yang digambarkan terlalu indah untuk mendiami dunia yang kejam ini. Kematian seketika mengubah bentuk hubungan. Mereka yang pernah hadir, berbagi waktu, dan menetap di kepala, mendadak hanya bisa diraba melalui ingatan. Yang tersisa bagi mereka yang ditinggalkan hanyalah duka dan gugatan tentang mengapa dunia mengizinkan kehilangan semacam itu terjadi.
Namun, Aan tidak membiarkan sajaknya berhenti sekadar sebagai ratapan. Ada ajakan lirih untuk menemukan ruang aman, tempat orang-orang yang kehilangan diperbolehkan menangis dan merawat sisa-sisa kenangan. Kesedihan, bagaimanapun, menuntut ruang untuk ditampung. Mereka yang berduka membutuhkan seseorang yang bersedia tinggal dan mendengarkan, tanpa buru-buru menuntut kepulihan. Barangkali, di tengah dunia yang begitu mudah merenggut nyawa, cinta mewujud dalam kesediaan manusia untuk saling menjaga.
Dari kawan yang berpulang, Aan menarik garis mundur ke asal mula keberadaan, yakni rahim ibu. Melalui “Ibuku & Aku”, metafora ikan, danau, dan mangkuk dihadirkan untuk membongkar asal-usul ikatan ibu dan anak. Jika berdiri sendiri, gambaran-gambaran itu mungkin terasa sederhana. Namun, saat dirajut, semuanya bermuara pada pertanyaan tentang dari mana kita berasal dan ke mana kita akan berlabuh.
Ibu, dalam puisi ini, adalah wadah yang menampung kehidupan, memberi ruang bagi sesuatu untuk tumbuh sebelum akhirnya dilepaskan ke belantara dunia. Hubungan itu menyimpan kehangatan sekaligus ketidakpastian. Tentang seorang ibu yang mencintai, menunggu, dan berharap, tanpa pernah tahu akan jadi apa anaknya kelak. Ikatan ini menyiratkan bahwa cinta adalah akar yang menghubungkan seseorang dengan tempat ia bermula, sejauh apa pun nasib membawanya pergi.
Ketika Aan akhirnya menyentuh bentuk cinta yang lebih konvensional dalam “Sajak Cinta untuk Anna”, ia tidak jatuh pada rayuan cengeng. Cinta justru disajikan layaknya sebuah peziarahan. Ada arah yang dituju, ada langkah yang diyakini, dan ada hasrat untuk mengenali diri sendiri melalui orang lain. Mencintai berarti bersedia menempuh perjalanan panjang, merawat harapan di tengah ancaman tersesat, sekaligus memercayai sesuatu yang belum terang sepenuhnya.
Pada akhirnya, Aan membawa pembaca kembali pulang pada diri sendiri. Melalui “Pertanyaan-Pertanyaan”, metafora mangkuk retak merepresentasikan manusia yang tumbuh memeluk luka dan ketidaksempurnaannya. Sebab mencintai diri sendiri sering kali bermula dari keberanian menerima bagian-bagian diri yang paling tidak kita sukai. Pencarian panjang ini kemudian menemui puncaknya pada “Tuhan di Kedai Kopi”. Di tengah riuhnya isi kepala, manusia sering kali hanya ingin menemukan tempat yang sepi untuk meletakkan kegelisahannya sejenak, mencoba mendekat pada Sang Pencipta meski tak semua rahasia-Nya bisa dicerna.
Cinta dalam puisi-puisi Aan Mansyur terasa begitu karib dengan realitas kehidupan kita yang sesungguhnya. Ia hadir sebagai teman duduk di sebelah kehilangan dan hal-hal yang belum selesai kita pahami. Sebab barangkali, cinta memang tak pernah berjanji membuat hidup lebih mudah. Ia hanya menawarkan sepasang tangan untuk menampung duka yang tumpah.





