KH. Ahmad Syahid dan Burdah Imam Busyiri (Sebuah Cinta yang Diwariskan)

Di Pesantren Al-Falah, Cicalengka, Bandung—tempat saya pernah menimba ilmu dan menata hati—lantunan Qasidah Burdah karya Imam al-Busyiri adalah suara yang tak lekang dari ingatan. Ia bukan hanya syair, melainkan nafas dari wirid-wirid kami, yang dengan lembut ditanamkan oleh Pangersa Ajengan Syahid—sosok yang kami panggil dengan kasih: Ayah.

Setelah zikir dan doa usai, bait-bait Burdah menjadi penutup yang khidmat dan teduh. “Maulaya sholli…” hingga “huwal habibulladzi…”—itu semua mengalun dalam wirid Subuh dan Maghrib kami. Bahkan sebelum azan Subuh berkumandang, para santri membacakannya lewat pengeras suara, dipimpin oleh muazin yang saat itu adalah Abdul Hadi dan Hendra Pakot. Saya masih mengingat langgam dan suara mereka. Dan saya masih mendengarnya, sebab bait-bait itu masih terus dibaca, seperti cinta yang sengaja diwariskan.

Kami para santri membaca Burdah bukan untuk didengar, tapi untuk mengingat. Untuk merapal kembali rasa cinta yang pelan-pelan tumbuh dalam dada kami—rasa yang tak diajarkan secara teoritis, tapi ditanamkan melalui keteladanan Ayah. Tatapan beliau yang tenang, suara beliau yang lembut, langkah beliau yang perlahan menyusuri saf-saf santri—semuanya seperti bagian dari syair itu sendiri.

“Huwal Habib…”—Dialah Kekasih Itu

Imam Muhammad al-Busyiri, seorang penyair dari Abu Sir, Mesir, adalah murid dari Syekh Abu al-Abbas al-Mursi, yang juga guru dari Ibnu ‘Athā’illah as-Sakandari, penyusun kitab Al-Hikam. Pada sebuah riwayat, dalam masa sakit—sebagian tubuhnya lumpuh—ia menulis syair pujian kepada Kanjeng Nabi. Dalam derita, ia berharap. Dalam harap, ia memuji. Dan dalam mimpi, Kanjeng Nabi datang menemui. Manusia agung itu menampakkan diri, mendengarkan syairnya, dan mengenakannya jubah—burdah—sebagai tanda cinta dan penyembuhan. Ketika terbangun, Imam Busyiri telah mampu berdiri kembali. Dari situlah nama Qasidah Burdah lahir, menggantikan nama awalnya: Qasidah al-Mīmiyah.

Petikan-petikan berikut ini adalah bagian dari Burdah yang selalu menggetarkan hati:

Dialah kekasih yang syafaatnya diharapkan dalam setiap ketakutan dan marabahaya.

Dia telah menyeru kepada Tuhan, dan yang setia kepadanya akan menggapai tali yang tak mungkin putus.

Dia unggul atas para nabi dalam jasmani maupun akhlak, dan mereka tak mampu menyamainya dalam pengetahuan dan kebaikannya… (Imam al-Busyiri, 1298 M)

Bukan hanya pujian, Burdah adalah pengakuan akan kelemahan dan harapan. Ia menjadi jalan taubat. Menjadi pintu yang mengetuk rahmat.

Syekh Yusuf al-Qaradawi menyebut Burdah sebagai “permata sastra Islam klasik yang memadukan pujian kepada Nabi dengan bahasa cinta yang tinggi dan spiritual.” Sedangkan Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah mengatakan, “Qasidah Burdah adalah untaian cinta dan air mata seorang pecinta kepada kekasihnya, Rasulullah. Ia bukan puisi biasa, melainkan zikir yang bersajak.”

Bahkan pujangga Mesir modern seperti Ahmad Shawqi—dikenal sebagai Amir al-Syu‘ara (Pangeran Para Penyair)—mengakui bahwa tidak ada syair madah nabawi yang bisa menandingi kedalaman dan popularitas Burdah. Dalam salah satu puisinya ia menulis:

“Imam Busyiri mengukir cinta pada batu waktu. Siapa yang membaca Burdah, ia sedang meniti jalan ke hati Rasulullah.”

___

Syair-syair untuk Nabi telah dikenal sejak zaman sahabat. Hasan bin Tsabit, Ka‘b bin Malik, hingga Abdullah ibn Rawahah adalah para penyair pertama yang menjadikan pujian kepada Rasul sebagai bentuk ibadah. Dalam tradisi Arab, puisi semacam ini disebut al-Madā’ih al-Nabawiyyah atau Na‘tiyyah. Dan Burdah Imam Busyiri adalah mahkota dari semua itu—syair sufi yang merasuk jauh ke dalam hati umat.

Tak hanya dalam bahasa Arab, Burdah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia, Urdu, Turki, Swahili, Melayu, hingga Prancis, Jerman, dan Italia. Ia menjadi teks yang dibaca, dinyanyikan, ditafsirkan, dan diajarkan. Di Indonesia, para ulama seperti Gus Baha dan KH. Said Aqil Siraj mengkajinya dalam pengajian-pengajian kitab. Di pesantren, ia tak hanya dibaca, tapi dijadikan ilmu, wirid, doa, dan harapan.

Dalam sejarah Barat, Burdah bahkan dicetak pertama kali di Eropa pada 1761 di Leiden, Belanda. Sejak itu, para orientalis pun mempelajarinya. Ini bukan soal syair semata, tapi tentang cinta yang universal, dan keagungan Nabi yang tak mengenal batas geografi atau keyakinan.

Kini aku mengerti, kenapa Ajengan Syahid menitipkan bait-bait Burdah dalam wirid-wirid kami. Ia mengajarkan kami mencintai Nabi dengan pujian, bukan cuma dengan pelajaran. Ia ingin kami menjadikan Rasulullah bukan hanya panutan, tapi juga kekasih. Karena memang, hanya cinta yang mampu menjaga iman di tengah zaman yang penuh kebencian ini.

Saya masih ingat suatu Subuh, ketika angin pegunungan menggigit tulang dan sarung para santri basah oleh embun, Ajengan Syahid berjalan melewati deretan kami yang duduk berbaris. Beliau tak berkata-kata, hanya menepuk pelan pundak kami sambil tersenyum. Di saat itulah, satu demi satu suara santri melafalkan Burdah—lirih, namun penuh harap. Seakan-akan kami sedang berbicara kepada Nabi langsung, mengabarkan bahwa kami masih di sini, masih ingin menjadi bagian dari umatnya.

Jika hari ini saya kembali membaca Burdah, atau mendengarnya lewat video Youtube, saya tak sedang mengulang masa lalu. Saya sedang menyambung cinta. Cinta kepada Nabi, dan cinta kepada seorang guru yang telah memperkenalkannya kepada saya dengan penuh kelembutan dan keyakinan.

Sebagai penutup, izinkan saya menyalin bait Burdah tentang Mi’raj Nabi:

Di malam hari engkau pergi

Dari tempat suci yang satu ke tempat lainnya lagi,

Bagai bulan purnama dalam gelap nan paling gulita.

Lalu engkau naik, hingga suatu tempat kau sampai: “Qaba Qausain”,

Yang tak pernah dituju atau dicapai.

Dan engkau menembus ketujuh langit, melewatinya dalam suatu prosesi kemenangan,

Yang engkaulah pembawa panji-panjinya.

Semoga Allah merahmati Ajengan Syahid. Dan semoga kita semua tetap mencintai Nabi Muhammad sebagaimana para pecintanya terdahulu—dengan syair, dengan air mata, dengan kepatuhan, dan dengan pengharapan yang tak putus.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.