Dekonstruksi merupakan sebuah teori yang dikembangkan oleh Jacques Derrida, juga menjadi sinonim bagi Derrida sendiri. Derrida dilahirkan di El-Biar, Al-jazair, pada tahun 1930 Juli. Dididik dalam tradisi Prancis, kemudian pergi ke Prancis pada tahun 1949, belajar di École Normale Supérieure (ENS) yang elit, dan mengajar filsafat di Sorbonne (1960–64), ENS (1964–84), dan École des Hautes Études en Sciences Sociales (1984–99), semuanya di Paris. Sejak tahun 1960-an, Derrida mengajar serta memberi kuliah di seluruh dunia, termasuk di Universitas Yale dan Universitas California, Irvine, mencapai ketenaran internasional yang hanya sebanding dengan Jean Paul Sartre satu generasi sebelumnya. Ia juga menerbitkan banyak sekali buku dan essai, salah satu Magnum Opus Derrida adalah Of Grammatology, menginspirasi puluhan penulis melalui bukunya tersebut. Di dalam bukunya itu, Derrida mulai menunjukkan sebuah spektrum yang indah kepada khalayak umum yaitu Theory of Deconstruction. Derrida mengemukakan bahwa dekonstruksi merupakan teknik membaca cermat sebuah teks, penyampai makna implisit dalam teks, juga kajian kritis analisis teks, yang menghasilkan perbedaan paradoks dan inkonsisten tulisan.
Derrida menyatakan bahwa: dekonstruksi bukan berarti penghancuran seperti etimologi yang diambil dari Inggris, melainkan sebuah pembongkaran suatu teks untuk menentukan sebuah paradoks. Term itu, dipakai Derrida untuk melakukan analisis sebuah teks, dan mengungkap segala kelebihan dan kekurangan dalam menyampaikan sebuah filosofis teks. Eswandara menyatakan, dekonstruksi hadir untuk membuat keberagaman makna. Pengambilan inti makna teks terkadang sanggatlah rumit, karena dapat membuat para pembaca berasumsi, dengan adanya teori ini merupakan salah satu cara untuk membantu membebaskan seseorang dari makna paradoks. Teori ini berfokus pada teks, kemudian menjadikan teks tersebut mempunyai pluralis makna, sampai menyingkirkan makna absolut yang semestinya, lalu pemahaman dekonstruksi Derrida juga mengkritisi pemahaman strukturalisme kuno yang telah melanggeng di budaya barat. Pada akhirnya dekonstruksi ialah interpretasi makna absolut pada suatu teks hingga membuahkan pluralis makna, sampai mereduksi suatu makna absolut yang telah tertanam pada benak masyarakat. Derrida menegaskan bahwa pada setiap teks selalu ada asumsi yang tak tercapai atau tak disadari, dan juga penyimpangan makna yang menimbulkan sebuah kontradiksi sehingga melahirkan keberagaman makna, di mana pemahaman Derrida terhadap dekonstruksi terinspirasi dari tokoh filsafat yaitu F.Niestzche dan M. Heidegger (Zullyansyah et al., 2025)
Kritik Derrida Terhadap Strukturalis
Dalam Magnum Opus-nya itu, Derrida mengkritik pemahaman Strukturalis yang tradisional. Kritik yang dilancarkan Derrida mengenai tradisionalis adalah Logosentrisme. Menurutnya, Logosentris selalu menghasilkan makna universal dan kebenaran yang baku, menghasilkan sebuah hierarkis atau biner. Dengan kata lain, paham yang menuntut pada pemikiran Logosentris akan memperdalam kesenjangan antara superior dan inferior—melanggengkan hegemoni kekuasaan. Derrida mengkritik keras akan hal tersebut, menurutnya tidak ada kebenaran mutlak yang bisa diciptakan selama ilmu masih bertransformasi. Tidak ada hal yang pasti dan satu-satunya karena menurut Derrida kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri dan kebenaran mutlak adalah sebuah kemustahilan Jacques, D. (1978). Writing and Difference. The University of Chicago.
Selanjutnya kritik Derrida terhadap tradisionalis adalah Oposisi Biner atau Hierarki Teks. Para tradisionalis—khususnya Saussurean—selalu menggunakan oposisi biner untuk menentukan sebuah teks. Oposisi biner, menukil Lubis (2014; 53) oposisi biner merupakan sebuah sistem yang terdiri dari dua kategori yang berelasi, yang dalam bentuknya paling murni menghasilkan keuniversalan. Menurut pandangan ini, oposisi berjalan berdampingan artinya sesuatu kategori hanya dapat dipahami apabila direlasikan dengan kelompok lain. Contoh dari oposisi itu: penanda/ petanda, tuturan/tulisan, langue/parole, baik/buruk, benar/salah, hadir/absen, depan-belakang. Pandangan oposisi biner bahwa istilah yang pertama lebih penting (superior) sedangkan yang kedua tidak penting (inferior). Oposisi biner yang terdapat dalam suatu teks, hampir sama dengan oposisi biner dalam tradisi filsafat Barat. Karena kesamaan ini sehingga Derrida menyebutnya oposisi biner adalah milik logos atau “kebenaran dari kebenaran” (Norris, 2003: 10). Kebenaran yang dimaksud yaitu yang pertama lebih benar dari yang kedua, dengan pengertian lain istilah yang pertama selalu memiliki keistimewaan sedangkan yang kedua dilecehkan.
Derrida mengkritisi setiap oposisi biner yang ada untuk menciptakan sebuah konsep baru, dan menghilangkan makna absolut yang sudah ada pada suatu teks, bukan hanya untuk menyintesis hasil dari kedua konsep yang sudah ada. Konsep Derrida terhadap oposisi biner dapat dilihat dan diteliti dengan konsep différance. Derrida menginterpretasi terhadap konsep ini ialah jalan tengah dari dua oposisi, yang mana kedua oposisi ini dapat melampaui satu sama lain, melanggar makna absolut dan menciptakan sebuah konsep baru. Konsep différance meliputi dua hal penting yaitu; pertama adalah melampaui, dan menciptakan atau disebut dissemination, dan yang kedua adalah tidak ada yang di luar teks, semua ada di dalam teks. Melalui konsep tersebut, Derrida menjelaskan kepada khalayak untuk melakukan pembongkaran teks, dan menelaah lebih jauh, karena teks yang diberikan oleh para tradisionalis menciptakan kategorisasi, dan penyempitan sudut pandang. Derrida melalui Of Grammatology, dan Writing and Différance mematri dirinya dalam sejarah keilmuan dan tokoh paling berpengaruh di zamannya.
Sastra Dalam Dekonstruksi
Sastra senantiasa terwakili oleh teks, dalam pemahaman sentral sastra secara term: tindakan ekspresif manusia bermedium bahasa disalurkan secara lisan maupun tulisan. Refleksi estetika dalam sastra merupakan salah satu sifat sastra yang memunculkan sebuah interpretasi makna dalam teks. Derrida melalui dekonstruksi menambah keberagaman interpretasi terhadap teks sastra. Melalui teori itu, seorang akademisi sastra ataupun sastrawan dapat menelaah lebih dalam makna sebuah teks, tanpa terkungkung makna universal yang diciptakan oleh tradisionalis.
Di lain sisi, penghancuran makna universal merupakan sebuah ciri khas dari kajian post-modernism. Sastra pun merupakan salah satu medium untuk melancarkan serangan para tokoh-tokoh post-modernism. Post-modernism yang menolak keras pengetahuan harus bersifat universal, historis, empiris, dan bebas nilai—dalam tradisi Frankfurt bebas nilai dikritik keras, karena menyebabkan legitimasi, dominasi, dan marjinalisasi—menempatkan pengetahuan yang bersifat fragmentik, historis, lokalitas. Penempatan pengetahuan tersebut mendorong manusia atau para Homo Sacer—lihat dalam Giorgio Agamben Politic and Aesthethic— untuk lebih cepat mentransformasi keilmuan.
Pada akhirnya, dekonstruksi menciptakan sebuah tempat khusus dalam perkembangan ilmu sastra—ini bisa ditelik dalam kajian-kajian sastra yang menggunakan teori dekonstruksi Derrida. Derrida melalui teorinya, menciptakan sebuah keabadian yang melekang pada tubuh sastrawan atau akademisi sastra era post-modernism. Dengan berbagai kritik Derrida terhadap kaum tradisionalis; penghapusan makna universal yang menciptakan sebuah hierarkis teks, juga konsep différance yang menekankan pluralitas, pelampauan serta penciptaan baru dalam teks, menghasilkan pendalaman makna filosofis dan interpretasi baru pada sebuah teks—terkhusus kajian sastra yang memegang teguh interpretasi. Melalui konsep Derrida, sastrawan dan akademisi mulai terbebas dari penjara yang diciptakan para tradisionalis, dan menciptakan sebuah spektrum yang sangat indah dalam perkembangan sastra khususnya. Beberapa riset tentang dekonstruksi dan sastra yang dapat dibaca lebih lanjut, untuk mengomprehensifkan teori dekonstruksi Derrida. Nugraha, F. I., Saraswati, E., & Widodo, J. (2020) menggunakan teori dekonstruksi Derrida sebagai pendekatan untuk menganalisis novel O karya Eka Kurniawan. Selanjutnya, Zullyansyah, A., Isma, F., Novianti, W. S., & Alandira, P. (2025) menggunakan dekonstruksi sebagai pisau analisis terhadap novel Animal Farm karya Goerge Orwell.






