Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang serba cepat dan menuntut, kecemasan (anxiety) sering kali menjadi musuh utama. Rasa khawatir yang mengintai tentang masa depan yang belum terjadi, atau penyesalan mendalam terhadap masa lalu yang tak terulang, menjadi beban mental yang terasa begitu nyata. Dalam sebuah wawancara yang menunjukkan kedalaman pemikiran yang jarang terekspos, komika, aktor, dan mantan jurnalis musik, Soleh Solihun, menawarkan sebuah penangkal sederhana—sebuah filosofi hidup yang secara alami mendekati prinsip kuno Stoikisme, yang oleh penggemarnya dijuluki “Soleh Hiniisme” (Soleh Here-and-Now-ism).
Inti dari pemikiran yang santai dan apa adanya ini adalah sebuah strategi mental yang efektif: melepaskan kendali atas apa yang berada di luar jangkauan kita dan memusatkan seluruh energi kita pada satu-satunya waktu yang pasti: momen saat ini.
Meredakan Kecemasan Masa Lalu: Epifani “Gagal Menikmati”
Kecemasan sering kali dipicu oleh penyesalan (berbasis masa lalu) atau ketidakpastian (berbasis masa depan). Soleh menyadari bahwa sebagian besar masa mudanya dihabiskan dalam mode forwarding. Ia selalu tergesa-gesa untuk mencapai fase berikutnya: ingin buru-buru SMP agar bisa memakai celana biru, buru-buru kuliah agar bebas dari seragam. Namun, epifani datang saat ia kuliah: ia justru mulai merindukan masa-masa SMA.
Fenomena mental ini—secara psikologis dikenal sebagai hedonic treadmill yang dipercepat—adalah akar banyak kecemasan. Kita terus mengejar kebahagiaan di masa depan (misalnya, “Saya akan bahagia kalau sudah kaya,” atau “Saya akan tenang kalau sudah lulus”), sehingga kita sepenuhnya gagal menghargai dan menikmati momen yang sedang kita jalani. Momen tersebut, ketika telah berlalu, berubah menjadi penyesalan.
Soleh menemukan bahwa kunci ketenangan adalah mengakhiri siklus ini. Ia memberi izin pada dirinya sendiri untuk “berada” di masa kini, menikmati seragam sekolah, status mahasiswa, atau pekerjaan apapun saat itu, tanpa harus terburu-buru mengharapkan perubahan.
Strategi Soleh Solihun: Logika Waktu vs Ilusi Kecemasan
Filosofi Soleh memberikan kerangka logis yang sangat kuat untuk melawan narasi kecemasan yang berputar di kepala. Kecemasan selalu mencoba menarik kita ke zona waktu yang tidak nyata, tetapi Soleh menahannya dengan tiga pilar logika:
- Masa Lalu Telah Hilang: Apapun penyesalan, kesalahan, atau kegagalan yang pernah terjadi, hal itu tidak bisa diulangi. Mencurahkan energi mental untuk menyiksa diri atas kejadian yang telah selesai adalah pekerjaan sia-sia. Masa lalu hanyalah memori, dan kita tidak bisa bertempur dengan memori.
- Masa Depan Belum Terjamin: Masa depan adalah rangkaian probabilitas dan ketidakpastian. Yang terpenting, belum tentu kita memiliki umur untuk mengalaminya. Mengkhawatirkan skenario terburuk esok hari sama saja meminjam kesulitan yang belum tentu datang, dan yang pasti, merusak kedamaian hari ini.
- Realitas Mutlak “Sekarang”: Satu-satunya waktu yang dapat kita kontrol, rasakan, dan ubah adalah detik ini.
Dengan berpegangan pada kenyataan ini, energi mental yang biasanya tersedot habis oleh kekhawatiran yang tidak produktif dapat diarahkan untuk kegiatan produktif atau, yang lebih penting, untuk menikmati istirahat dan ketenangan. Sebagaimana lirik lagu yang ia kutip, inti perjuangan melawan kecemasan adalah: “Kesulitan esok hari, jangan sampai merusak kenikmatan hari ini.”
Resep Anti-Stres: Seni “Dinikmatin Aja”
Soleh menerapkan fokus pada saat ini melalui sebuah prinsip yang sangat membumi: “Dinikmatin aja.” Ini adalah manifestasi dari konsep Stoik amor fati (mencintai takdir) atau acceptance (penerimaan). Soleh memilih untuk menikmati setiap kondisi yang ia dapatkan. Saat menjadi wartawan dengan gaji pas-pasan, ia menikmatinya. Ketika uangnya habis, ia tidak panik, melainkan menerima kondisi tersebut sebagai bagian dari proses hidup.
Dalam konteks kecemasan, hal ini sangat penting karena seringkali anxiety muncul dari perlawanan terhadap realitas. Kita cemas karena kondisi kita saat ini (misalnya, pekerjaan, status keuangan, atau bahkan penampilan) tidak sesuai dengan harapan ideal yang kita ciptakan. Soleh menanggapi kesenjangan ini dengan meredakan harapan ideal tersebut. Ia tidak perlu kaya raya, tidak perlu terkenal—ia hanya perlu menikmati momen saat ini.
“Rezekinya gua sekarang ini begini ya udah dinikmatin… Kalaupun misalnya ternyata kita harus kerja begini-begini sampai mati ya udah enggak apa-apa kan enggak semuanya orang hidupnya bagus.”
Penerimaan ini menghasilkan ketenangan batin yang ekstrem. Dengan melepaskan tuntutan untuk menjadi “lebih” dari apa yang ia terima hari ini, Soleh secara efektif menghilangkan bahan bakar utama kecemasan: tekanan untuk memenuhi standar eksternal.
Manajemen Stres dengan Isolasi Apatis
Soleh juga menunjukkan pemahaman intuitif tentang strategi manajemen stres Stoik: mengendalikan apa yang bisa dikendalikan dan mengabaikan sisanya. Ia secara sadar memilih untuk bersikap apatis terhadap politik dan isu-isu yang ia anggap hanya akan menimbulkan kemarahan dan emosi negatif. Soleh beralasan bahwa semakin ia tahu tentang isu-isu tersebut, semakin ia emosi dan marah.
Ini adalah tindakan cerdas yang efektif meredakan kecemasan: mengisolasi diri dari sumber-sumber yang berada di luar lingkaran pengaruh kita. Mengapa membuang energi untuk marah pada sistem yang tidak bisa kita ubah, sementara energi tersebut bisa dialihkan untuk kegiatan yang mendatangkan kebahagiaan atau ketenangan, seperti mendengarkan musik atau berkomedi? Dengan menarik diri dari konflik eksternal, ia melindungi ketenangan batinnya.
Filosofi “Soleh Hiniisme” bukanlah resep instan untuk sukses material, melainkan sebuah panduan praktis untuk mencapai ketenangan batin. Ini mengajarkan kita bahwa obat terbaik untuk kecemasan adalah keluar dari ilusi waktu—masa lalu dan masa depan—dan kembali ke satu-satunya tempat yang aman dan nyata: momen di sini, sekarang.





