Fitnah kepada Imam Ahlussunnah

 


APAKAH IMAM ABU HASAN AL-ASY’ARI BERJALAN PADA 3 FASE ?


Sebagian golongan mengatakan bahwa Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, atau yang lebih dikenal dengan Imam Asy’ari, melewati 3 fase keyakinan:

  1. Fase Mu’tazilah

  2. Fase pengikut Abdullah bin Sa’id bin Kullab

  3. Fase di mana beliau meruju’ kepada Aqidah Salafus Sholeh/Ahlussunah wal Jama’ah

Mereka (golongan pendakwa) mengatakan bahwa Asya’iroh (pengikut Imam Asy’ari; jamak dari Asy’ariyah) hanya mengikuti Imam Asy’ari di fase keduanya, yakni pada saat mengikuti Abdullah bin Sa’id, yang mana menurut mereka beliau bukan termasuk Ahlussunah wal Jama’ah. Maka sesungguhnya Asya’iroh bukan pengikut Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, sebab beliau sudah meruju’ aqidahnya kepada Salafus Sholeh, melainkan Asya’iroh ialah pengikut Abdullah bin Sa’id. Maka lebih pantas bagi Asya’iroh memakai nisbat Al-Kullabiyah saja, sebab penisbatan terhadap Abdullah bin Sa’id Al-Kullab.

Sebelum pembatalan tuduhan di atas secara sejarah dan ilmiah, saya akan menjawab dengan 3 fasal:

  1. Benarkah Imam Asy’ari hidup dengan 3 fase?

Dan ini akan jadi bahasan pokok.

  1. Apakah Abdullah bin Sa’id Al-Kullab bukan Ahlussunah?

  2. Penjelasan Kitab Al-Ibanah (karya Imam Asy’ari) sebagai bukti taubatnya Imam Asy’ari dari aqidah Abdullah bin Sa’id Al-Kullab.

Fasal 1: Benarkah Imam Asy’ari hidup dengan 3 fase?

Untuk menjawabnya, saya perkenalkan sedikit tentang beliau. Imam Abu Hasan Al-Asy’ari ialah nama dari salah satu ulama kaum muslimin, bukan seorang laki-laki yang majhul (tidak diketahui asal-usulnya), apalagi majhul terhadap keilmuan serta fatwanya. Jikalau benar Imam Abu Hasan Al-Asy’ari hidup pada 3 fase, maka seharusnya ada catatan dari sejarawan untuk mencatatnya, seperti halnya ketika beliau ruju’ (keluar) dari Mu’tazilah; yang mana beliau dengan tegas naik ke atas mimbar lalu melepaskan jubah kebesaran sambil menyatakan bahwa beliau keluar dari Mu’tazilah. Maka, apakah ada dari sejarawan yang mencatat Imam Asy’ari keluar dari manhaj Abdullah bin Sa’id Al-Kullab??!! Justru yang kami temukan pada kitab-kitab sejarah para ulama, Imam Asy’ari hanya ada pada 2 fase, yaitu fase Mu’tazilah dan fase Abdullah bin Sa’id Al-Kullab. Berikut dalil-dalil hanya 2 fase bagi Imam Asy’ari:

  1. Imam Ibnu Asakir dalam Kitab Tabyin Kadzib Muftari halaman 127 mengatakan: “telah berpindah aqidah Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dari mazhab Mu’tazilah kepada mazhab penolong Ahlussunah wal Jama’ah dengan hujjah-hujjah akal dan telah mengarang banyak kitab dalam mazhab tersebut.”

  2. Imam Ibnu Kholikan dalam kitabnya Wafayatil A’yan pada juz 3 halaman 284, beliau berkata: “Dia (Imam Abu Hasan Al-Asy’ari) ahli ilmu Ushuluddin dan penolong bagi mazhab Ahlussunah, dan telah ada pada masa awalnya ia seorang Mu’tazilah, setelah itu bertaubat dari ucapan-ucapannya dan bertaubat dari keyakinan Al-Qur’an adalah makhluk, di dalam masjid jami’ di kota Bashroh pada hari Jumat.”

  3. Imam Adz-Dzahabi menyatakan dalam Kitab Siyaru A’lam An-Nubala: “telah sampai kepada kami bahwa Imam Asy’ari bertaubat serta menaiki mimbar di Bashroh, lantas berkata: ‘sesungguhnya aku telah mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk… maka sesungguhnya aku bertaubat (dari faham itu) serta berkeyakinan dengan membantah Mu’tazilah.’”

  4. Berkata Imam Ibnu Kholdun dalam kitab Al-Muqoddimah halaman 803: “telah jelas Imam Asy’ari dalam perdebatan dengan guru-gurunya (dari kalangan Mu’tazilah) mengenai masalah Sholah dan Ashlah, maka menolak Imam Asy’ari terhadap pemikiran guru-gurunya tersebut, dan jalan keyakinan yang ditempuh oleh beliau adalah jalan Abdullah bin Sa’id bin Kullab dan Abu Abbas Al-Qolanasiy dan Harits Al-Mahasibiy, yang mana mereka semua adalah pengikut Salafus Sholeh serta berdiri pada Thoriqoh Ahlussunah.”

Dan banyak kitab-kitab sejarah yang menyatakan bahwa hanya ada 2 fase bagi Imam Asy’ari, seperti kitab Tarikh Baghdad karya Imam Al-Khotib Al-Baghdadi, kitab Thobaqotus Syafi’iyah karya Imam As-Subki, kitab Syadzarotudz Dzahbi karya Ibnu Imad, kitab Al-Kamil karya Ibnu Atsir, dan masih banyak lagi. Jikalau sangkaan ruju’nya Imam Asy’ari dari fase ke-2 (mengikuti Abdullah bin Sa’id Al-Kullab) menuju fase ke-3 (yang katanya ke “Ahlussunah”), maka yang paling berhak mendeteksi perubahan keyakinan Imam Asy’ari adalah murid atau sahabat beliau sendiri. Sebab yang paling dekat dan paling tahu tingkah laku, cara berpikir, serta keyakinan beliau adalah murid-murid atau sahabatnya. Apalagi sekelas ulama seberpengaruh Imam Asy’ari, seharusnya ada dari para sejarawan yang mencatat perubahan keyakinan beliau yang ketiga.

Fasal 2: Menggugat keahlussunahan Abdullah bin Sa’id Al-Kullab!

Kami sepakat dengan mereka bahwa Imam Asy’ari mengikuti Ibnu Kullab (Abdullah bin Sa’id Al-Kullab; dipersingkat) setelah keluarnya dari Mu’tazilah. Akan tetapi antara kami dengan mereka berbeda. Letak perbedaannya ialah menurut pendapat kami yang berdasarkan kepada ulama-ulama sholihin, yaitu Ibnu Kullab termasuk kepada jajaran ulama Ahlussunah wal Jama’ah. Siapakah ulama yang mengakui keahlussunahan beliau?

  1. Imam At-Taji As-Subki dalam kitab Ath-Thobaqoth juz 2 halaman 300 berkata: “dan Ibnu Kullab dalam setiap keadaannya berpegang pada Ahlussunah… dan aku melihat Imam Dhiyauddin Al-Khotib, putra dari Imam Fakhruddin Ar-Razi, telah menyebutkan Ibnu Kullab dalam akhir kitabnya (Ghoyatul Marom fi Ilmi Kalam), berkata Imam Dhiyauddin: ‘dan sebagian dari mutakallimin Ahlussunah zaman Al-Ma’mun adalah Abdullah bin Sa’id At-Tamimiy yang telah menghancurkan Mu’tazilah di majlis Al-Ma’mun sendiri dan menjelaskan kepada mereka dengan hujjah yang jelas.’”

  2. Imam Al-Hafidz Ibnu Asakir dalam karya beliau Tabyin Kadzib Muftari halaman 405 berkata: “aku telah membaca dengan tulisan Ali bin Baqo Al-Waroqi Al-Muhaddits Al-Mishriy pada satu risalah karya Abu Muhammad Abdullah bin Abi Zaid Al-Qoirowani (penghulu mazhab Maliki di zamannya) yang ditujukan untuk Ali bin Ahmad bin Ismail Al-Baghdadi Al-Mu’taziliy untuk menjawab tulisannya kepada ulama-ulama Maliki lainnya dari ahli Al-Qoirowani sebagai ‘nasehat’ bagi mereka berisikan faham-faham kemu’tazilahannya. Maka sebagian jawaban Abu Muhammad Abdullah bin Abi Zaid kepada Ali bin Ahmad Al-Mu’taziliy ialah: ‘engkau menisbatkan Ibnu Kullab sebagai ahli bid’ah, akan tetapi tak ada satu pun dari ucapanmu yang menunjukkan Ibnu Kullab sebagai ahli bid’ah, dan kami tidak mengetahui dari penisbatan bid’ah kepada Ibnu Kullab, tetapi yang sampai kepada kami bahwa Ibnu Kullab ialah pengikut sunnah dan penolak Jahmiyah juga aliran-aliran bid’ah lainnya; siapa lagi kalau bukan Abdullah bin Sa’id Al-Kullab.’”

Ini menjadi kesaksian agung dari Imam Ibnu Zaid kepada Ibnu Kullab.

Imam Al-Kautsar memberi catatan dalam halaman kosongnya yang ditujukan untuk Ibnu Kullab, beliau berkata: “telah ada imam mutakallim sunnah dari zaman Imam Ahmad, dan termasuk orang yang menemani Haritsah bin Asad, dan oleh sebab itu menerima kritik dari golongan orang-orang lemah dalam ilmu Ushuluddin-nya…” yang padahal ucapan-ucapan Ibnu Kullab tidak melenceng dari syariat dan akal.

  1. Dan berkata Ibnu Qodhi Syuhbah dalam Kitab Thobaqotus Syafi’iyah li Ibni Qodhi Syuhbah juz 1 halaman 78: “Abdullah bin Sa’id Al-Kullab adalah salah satu dari pembesar ulama mutakallimin, juga bagian dari Ahlussunah. Dengan jalan beliau serta jalan Al-Harits Al-Mahasibi yang telah berpegang kepada keduanya Imam Asy’ari.”

  2. Dan telah berkata juga Imam Jamaluddin Al-Asnawi dalam Kitab Thobaqotus Syafi’iyah li Al-Asnawi juz 2 halaman 178: “Abdullah bin Sa’id Al-Kullab ialah pembesar ahli kalam serta bagian dari Ahlussunah… telah menyebutkan kepadanya Imam Al-Ibadi dalam kitab Thobaqotu Abis Shirifiy, berkata Imam Al-Ibadi: ‘sesungguhnya Ibnu Kullab adalah sahabat kami dari golongan ahli kalam.’”

Dan masih banyak lagi ulama yang mengakui keahlussunahan Ibnu Kullab, seperti Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Siyaru A’lam An-Nubala-nya (11/175), Ibnu Kholdun dalam Kitab Al-Muqoddimah-nya (853), Imam Baidlowi pada kitab Isyarotul Marom min Ibaroti Imam (23), bahkan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab beliau Lisanul Mizan (3/291), dan lain-lain.

Fasal 3: Kefahaman Kitab Al-Ibanah

Pendakwaan terhadap Imam Abu Hasan Al-Asy’ari berdasarkan kepada pemahaman kitab Al-Ibanah (kata penuduh), beliau dalam kitab tersebut menyatakan pentafwidan akan ayat-ayat sifat, dan ulama salaf itu bertafwidh, sedangkan Ibnu Kullab tidak, kata mereka. Tafwidh ialah satu faham di mana tujuannya tidak ada perubahan makna juga tidak mempertanyakan ke mana makna ayat tersebut, melainkan cukup menyerahkan kepada Allah saja terkait maknanya. Apakah betul Imam Asy’ari telah ruju’ dari Ibnu Kullab??

Pertama, Ibnu Kullab bukan ulama yang keluar dari golongan salaf; penulis sudah membahas di Fasal ke-2 (silakan baca kembali). Kedua, Ibnu Kullab juga melakukan tafwidh seperti ulama salaf dalam ayat-ayat sifat, seperti ucapan Ibnu Hajar dalam kitab Lisanul Mizan juz 3 halaman 291 ketika membantah tuduhan Ibnu Nadim terhadap Imam Ibnu Kullab, dan ini sudah cukup untuk mematahkan argumen mereka. Bahkan Ibnu Hajar juga menyatakan bahwa Imam Asy’ari tetap mengikuti Ibnu Kullab dalam kitab Al-Ibanah-nya. Tentu ini menjadi bukti jelas jika Imam Asy’ari tidak keluar dari thoriqoh Ibnu Kullab.

Terkait tulisan-tulisan Imam Asy’ari dalam kitab Al-Ibanah, ketika para ulama mentahqiq serta meneliti terkait kesahihan manuskrip Al-Ibanah, ditemukan penyimpangan isi dari tangan jahil yang berdosa, seperti penambahan dan perubahan jumlah hurufnya.

Ulama yang menyatakan demikian salah satunya adalah Imam Al-Kautsar dalam muqaddimah Tabyin Kadzib Muftari karya Ibnu Asakir dan muqaddimah Isyarotul Marom karya Baidlowi.