Minggu lalu saya membaca sebuah thread di media sosial yang cukup ramai diperbincangkan. Di dalamnya, terdapat komentar dari seseorang yang mengaku sebagai keponakan seorang HRD. Ia dengan cukup percaya diri menyatakan bahwa lulusan UIN tidak memiliki keterampilan untuk bekerja, bahkan menyebut kemampuan mereka “nol” tetapi memiliki tuntutan gaji yang tinggi.
Pernyataan seperti ini, jujur saja, cukup mengusik. Bukan karena saya merasa tersinggung secara pribadi, tetapi karena narasi tersebut terlalu menyederhanakan realitas yang sebenarnya jauh lebih kompleks.
Saya tidak menutup mata bahwa di setiap institusi pendidikan pasti ada lulusannya yang belum siap kerja. Itu bukan hanya terjadi pada UIN, tetapi juga pada kampus umum lainnya. Namun, menggeneralisasi bahwa lulusan UIN tidak memiliki skill adalah sebuah kesimpulan yang terburu-buru dan tidak adil.
Jika kita melihat lebih dekat, lulusan UIN justru memiliki keunggulan yang sering kali tidak terlihat secara kasat mata. Mereka tidak hanya dibekali ilmu akademik, tetapi juga nilai-nilai keagamaan, kemampuan sosial, serta kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Mereka terbiasa hidup di tengah masyarakat bisa menjadi imam di masjid, mengajar mengaji, berdakwah, hingga terlibat langsung dalam aktivitas sosial.
Kemampuan seperti ini mungkin tidak selalu tertulis dalam CV, tetapi sangat terasa dampaknya. Di tengah dunia yang semakin individualis, kemampuan membangun relasi, empati, dan komunikasi justru menjadi keterampilan yang sangat berharga.
Di sisi lain, jika berbicara tentang dunia profesional, lulusan UIN juga tidak kalah bersaing. Mereka tersebar di berbagai bidang: menjadi guru, penghulu, pegawai bank, dosen, pengacara, notaris, perkantoran, hingga bekerja di instansi pemerintahan. Bahkan figur publik seperti Irfan Hakim juga merupakan lulusan UIN Bandung, yang menunjukkan bahwa lulusan UIN mampu berkiprah di dunia hiburan sekalipun.
Lebih dari itu, banyak juga lulusan UIN yang sukses membangun usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan. Ini menjadi bukti bahwa mereka tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta peluang.
Beberapa di antaranya adalah:
- Nurul Yaqin – alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang menjadi Founder dan Presiden Direktur perusahaan properti global
- Sidiq Permana – pendiri Nusantara Beta Studio dan pakar pengembangan Android
- Halim Ambiya – pendiri Pondok Tasawuf Underground yang fokus pada pemberdayaan sosial
- Ifan – pengusaha ternak yang berhasil menembus pasar ekspor
- Miftahul Ikhsan – pengusaha di bidang pertanian
- Jamsuri – alumni biologi yang sukses di dunia usaha modern
Ini menunjukkan bahwa lulusan UIN tidak terpaku pada satu jalur karier saja. Mereka mampu beradaptasi, membaca peluang, dan berkembang di berbagai sektor, mulai dari teknologi, pertanian, peternakan, hingga bisnis sosial.
Saya juga memiliki pengalaman pribadi yang semakin menguatkan pandangan ini. Saya mengenal dua orang yang sangat saya kenal sepasang suami istri, dosen muda di UIN Bandung. Dari cerita rekan kerja mereka, saya mengetahui bahwa keduanya berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang S3.
Ini bukan pencapaian yang sederhana. Dibutuhkan kemampuan akademik, konsistensi, dan daya juang yang tinggi untuk sampai pada titik tersebut. Lalu, apakah mereka bisa disebut sebagai lulusan yang tidak memiliki skill? Rasanya, pertanyaan itu sudah terjawab dengan sendirinya.
Di titik ini, saya kemudian merefleksikan diri.
Saya mungkin tidak memiliki pekerjaan formal seperti yang sering dijadikan standar kesuksesan oleh banyak orang. Namun, saya tetap memiliki penghasilan sebagai perempuan yang mandiri. Saya mengajar anak-anak untuk menulis dan berhitung, mengenalkan huruf hijaiyah, serta menanamkan adab. Nilai dasar yang hari ini mulai perlahan tergerus oleh zaman.
Apa yang saya lakukan mungkin terlihat sederhana. Namun, saya percaya bahwa mendidik adalah pekerjaan besar yang sering kali tidak mendapatkan pengakuan yang layak.
Suami saya pun merupakan lulusan UIN. Ia seorang dosen yang aktif, tetapi juga membumi. Ia gemar bermain sepak bola, berinteraksi dengan banyak orang, dan menyampaikan nilai-nilai dakwah melalui kesehariannya dengan cara yang ringan dan tidak menggurui.
Jika kita memperluas pandangan, kita juga akan menemukan bahwa banyak tokoh nasional berasal dari latar belakang UIN. Mereka memegang posisi penting dalam pemerintahan dan turut berperan dalam arah kebijakan negara, seperti:
- Nasaruddin Umar – Menteri Agama
- Abdul Mu’ti – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
- Raja Juli Antoni – Menteri Kehutanan
- Arifatul Choiri Fauzi – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
- Nusron Wahid – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN
- Abdul Kadir Karding – Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
Apakah mereka juga bisa dianggap tidak memiliki skill?
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa ukuran “skill” sering kali dipersempit hanya pada kemampuan teknis dan angka produktivitas. Padahal, keterampilan hidup jauh lebih luas dari itu. Ada kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, membangun relasi, hingga menjaga nilai dan integritas diri.
Lulusan UIN mungkin tidak selalu tampil sesuai dengan standar industri yang sempit. Namun, mereka membawa sesuatu yang berbeda. Keseimbangan antara ilmu, nilai, dan kontribusi sosial.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin kompetitif ini, justru itulah yang paling dibutuhkan.
Apa yang saya tuliskan ini bukan sekadar opini, tetapi sebuah ajakan untuk melihat dengan lebih luas, lebih adil, dan lebih bijak. Karena pada kenyataannya, lulusan UIN tidak hanya “ada”, tetapi juga tumbuh, berkontribusi, dan memberi makna di banyak ruang kehidupan.





