Pesantren: antara Akhlak dan Feodal

Karl Marx dan Friedrich Engels dalam buku mereka yang berjudul The Communist Manifesto halaman 43-45 menjelaskan bahwa feodalisme dapat dikatakan terjadi apabila dalam suatu masyarakat terdapat salah satu dari tiga unsur pokok berikut, yaitu: 

(1) adanya praktik eksploitasi terhadap kelompok tertentu

(2) berlangsungnya sistem stratifikasi sosial yang bersifat tertutup dan sulit ditembus serta 

(3) Adanya pembatasan bahkan pelarangan terhadap kritik dan kebebasan menyampaikan pendapat. 

feodal tertumpu pada sistem sosial yang mengharapkan kelas bawah tunduk pada kelas atas tanpa perlawanan, bukan tertinjau dari bahasa tubuh seperti menunduk, mencium, dan berjalan

Santri kerap kali dituduh bersikap feodal, terutama ketika relasi antara kiai dan santri dipahami secara dangkal sebagai hubungan yang menutup ruang kritik dan menuntut kepatuhan mutlak. Tuduhan ini muncul dari anggapan bahwa tradisi penghormatan kepada kiai dianggap identik dengan stratifikasi sosial tertutup, padahal dalam praktiknya relasi tersebut lebih banyak dibangun atas dasar adab, transmisi keilmuan, dan etika keagamaan, ukan eksploitasi ataupun penindasan struktural sebagaimana yang melekat pada sistem feodalisme.

MENCIUM TANGAN DAN KAKI ADALAH PERBUDAKAN

Masalah mencium tangan dan kaki ada beberapa riwayat didalam kitab Al-adzkar dan riyadussholihin dimana Nabi dicium tangan dan kakinya. 

رَوَيْنَا في “سنن أبي داود” [رقم: ٥٢٢٥] ، عن زارع رضي الله عنهُ، وكان في وفد عبد القيس؛ قال: فجعلْنا نتبادرُ من رواحلنا، فنقبِّلُ يدَ النبيّ صلى الله عليه وسلم ورِجلهُ.                           ( الأذكار النووي. ص ٤٣٢

“Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud (no. 5225), dari zari’ ia termasuk dalam delegasi Abd al-Qais ia berkata:

“Kami pun bersegera turun dari tunggangan kami, lalu kami mencium tangan Nabi  dan kakinya.” (al-Adzkar karya Imam an-Nawawi, hlm. 432)

قال:(قال يهودي لصاحبه: اذهب بنا إلى هذا النبي، فأتيا رسول الله صلى الله عليه وسلم فسألاه عن تسع آيات بينات، فذكر الحديث إلى قوله: فقبلا يده ورجله، وقالا: نشهد أنك نبي. 

رياض الصالحين. ص : ٢٧٢ ج : ١

“Seorang Yahudi berkata kepada temannya: Mari kita pergi kepada nabi ini.Maka keduanya mendatangi Rasulullah , lalu mereka bertanya kepada beliau tentang sembilan ayat yang jelas. Kemudian ia menyebutkan hadis tersebut hingga pada perkataannya: ‘Maka keduanya mencium tangan dan kaki beliau, dan keduanya berkata: Kami bersaksi bahwa engkau adalah seorang nabi.’”(Riyadyus Salihin, hlm. 272)

Komentar Syaikh Ibnu Utsaimin dalam kitab Syarah riyadusholihin juz 4 halaman 405 : 

وفي هذا جواز تقبيل اليد والرجل للإنسان الكبير الشرف والعلم كذلك تقبيل اليد والرجل من الأب والأم وما أشبه ذلك لأن لهما حقا وهذا من التواضع

“Dalam hadis ini terdapat kebolehan mencium tangan dan kaki orang yang memiliki kemuliaan (kedudukan) dan ilmu. Demikian pula bolehnya mencium tangan dan kaki kedua orang tua dan yang semisalnya, karena keduanya memiliki hak (yang besar). Hal itu termasuk bentuk tawadhu’ (rendah hati).”

Penciuman tersebut berlaku pada orang Sholeh setelah beliau, sebagaimana di dalam kitab tarikh dimasą karya Ibnu asakir.

تاريخ دمشق لابن عساكر :

قال سمعت مسلم بن الحجاج وجاء إلى محمد بن إسماعيل البخاري فقبل بين عينيه فقال دعني حتى أقبل رجليك يا أستاذ الأستاذين وسيد المحدثين وطبيب الحديث في علله 

Dalam Tarikh Dimashq karya Ibnu Asakir, disebutkan:

Ia berkata: Aku mendengar Muslim bin al-Hajjajj, ketika ia datang kepada Muḥammad bin Isma’il al-Bukhari, lalu ia mencium di antara kedua matanya, kemudian berkata:

“Biarkan aku hingga aku mencium kedua kakimu, wahai guru dari para guru, pemimpin para ahli hadis, dan tabib (pakar) dalam ilmu illal (cacat-cacat hadis).”

Didalamnya disebut kan imam muslim ingin mencium kaki Sang guru,imam Bukhari. Apakah tergolong maksiat atau bahkan kafir pelaku penciuman itu? Jika iya, maka buang jauh-jauh dua kitab shohih itu ya, sebab pengarang nya melakukan demikian.

TRADISI MENUNDUK BUKAN SYARIAT ISLAM

Coba buka Al-bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir dan dalailun nubuwah karya Al-Baihaqi, disana mengkisahkan seorang Badui berjalan sambil menunduk kepada Rasulullah dan Rasul diam kan (sunah Taqririah). 

البداية و النهاية لابن كثير. ص : ٥١٨ . ج : ٥

وَقَالَ: أَيُّكُمُ ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَذَهَبَ يُجْنِئُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ كَأَنَّهُ يُسَارُّهُ، فَجَبَذَهُ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ

Lalu ia berkata: “Siapakah di antara kalian yang merupakan putra Abdul Muthalib”. Maka Rasulullah bersabda kepadanya: “Aku adalah putra Abdul Muthalib Maka orang itu mendekat kepada Rasulullah seakan-akan hendak membisikkan sesuatu kepadanya, lalu ia menarik (mendekap/merangkul) Rasulullah. Kemudian Usayd bin Hudair menariknya (menjauhkannya).” ( Al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir juz 5, hlm. 518) 

دلائل النبوة  للبيهقي. ص : ٣٣٣

فوقف فقال: أيكم ابن عبد المطلب؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “أنا ابن عبد المطلب” ، فذهب ينحني على رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Maka ia berdiri lalu berkata: “Siapakah di antara kalian yang merupakan putra Abdul Mutholib”. Maka Rasulullah  bersabda: “Aku adalah putra Abdul Mutholib”.  Lalu orang itu mendekat dan menundukkan dirinya kepada Rasulullah.” ( Dalaill an-Nubuwwah karya Al-Baihaqi , hlm. 333)

DALIL PEMBANDING SERTA KRITIKNYA

Tapi kan ada hadits yang melarang menunduk riwayat Ibnu Majah! Yup betul, tapi ulama berbeda pendapat tentang kualitas hadits itu. Ada yang bilang Hasan, dan ada yang bilang dhoif seperti imam Ahmad.

– حديث: أَيَنْحني بعضُنا لبعضٍ [يعني حديث: يا رسولَ اللَّهِ، أينحَني بَعضُنا لبَعضٍ؟ قالَ: لا. قُلنا أيعانِقُ بعضُنا بَعضًا؟ قالَ: لا، ولَكِن تصافَحوا]

الراوي: أنس بن مالك • الإمام أحمد، مسائل أحمد رواية صالح (٣/١٦٠) • [فيه] حنظلة السدوسي ضعيف • أخرجه ابن ماجه (٣٧٠٢) واللفظ له، والترمذي (٢٧٢٨)، وأحمد (١٣٠٤٤) 

Dari Anas bin Malik ia berkata:

“Kami berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah sebagian kami boleh menundukkan (membungkukkan) diri kepada sebagian yang lain?’ Beliau menjawab: ‘Tidak.’

Kami berkata: ‘Apakah sebagian kami boleh saling berpelukan?’ Beliau menjawab: ‘Tidak, tetapi berjabat tanganlah kalian.’”

Keterangan:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 3702), At-Tirmidzi (no. 2728), dan Aḥmad (no. 13044). Dalam sanadnya terdapat Handzalah as-sadusi yang dinilai Dhoif.

Bila terjadi ijtihad ulama tentang kualitas hadits maka silahkan pilih salah satu dan ini merupakan ranah ikhtilaf, tidak perlu saling bentrok fisik.

kaidah Ushul mengatakan:

المثبت مقدم على النافي

“Menetapkan didahulukan daripada mentiadakan” Kami memilih menetapkan adab seperti diatas kepada guru, orang tua, dan sesepuh daripada mentiadakan nya.