Keterpaksaan sampai Keterwajaran

Suasana hangat ditemani secangkir kopi dan segala bisikan aromanya, memperhangat malam itu. Ditemani beberapa kawan, membundari meja sambil merayakan kehangatan. Malam itu, dengung mesin mobil dan motor menyelingi percakapan hangat. Hingga pada akhirnya, malam tak cukup memiliki waktu untuk menemani obrolan panjang. Hingga, kau mengakhiri tegukan kopi terakhir di persimpangan trotoar.

Diselimuti kabut, kau berdiri bersamaan dengan hujan di awal hari. Air runtuh tak terbendung dari langit, menyisakan embun yang menempel di cangkir kopi. Awal pagi itu, menjadi titik temu dengan pelbagai tulisan-tulisan menarik. Mulai melihat dan membaca beberapa artikel, dirimu terjerumus di selancaran media online sampai luput keadaan.

Waktu menuju pada pagi hari, kebetulan hari itu bertepatan dengan situasi idul fitri. Kau merelakan waktumu untuk mengunjungi tempat sanak saudara. Bersama dengan opor ayam dan kentang pete, kau menyantapnya dengan penuh ketelitian. Menghabiskan seharian penuh dengan bercengkrama, mengunjungi sanak saudara, dan menghabiskan ketupat serta opor ayam di hari itu. Siklus rutinitas idul fitri yang mesti dilaksanakan, tak peduli perut sudah maksimal, opor ayam dan sajian khusus ied di masing-masing daerah mestilah tersantap karena kita homo momentumus. Hingga moment balik arus, kembali pada rutinitas membosankan dan keterpaksaan, hanya untuk memuaskan penghargaan di flayer kehidupan di suatu saat nanti.

Terbangun dari mimpi, bersamaan kokok ayam dan matahari, kau mulai memanaskan kembali air untuk mengisi asupan pagimu. Handphone berada dalam genggamanmu, notifikasi mulai memenuhi berandanya. Sembari menghirup udara dan kopi hitam andalan, kau membuka satu-persatu pesan yang masuk. Menggeser layar dari atas ke bawah, hingga kau mendapati pesan dari temanmu. Ia memintamu untuk bertemu dan bercakap-cakap, hingga kau memutuskan untuk menerima ajakannya, dan mengosongkan jadwal di waktu perjanjian.

Pasar mulai tertutup angkutan umum, roti hangat dan telur disajikan untuk memenuhi perut di pagi hari. Kau pun mulai mengambil nafas panjang, menyiapkan energi untuk kembali beraktifitas seperti anak perkuliahan umumnya. Sorot matamu ke tembok, menatap tajam jadwal kelas untuk dimasuki. Sambil mendidihkan air untuk kebutuhan kafein pagi hari, kau duduk di teras sembari menyoroti transmisi aktifitas, dari keheningan menjadi keramaian, dari piama sampai jas dan dasi yang terkekang.

Bapak-bapak dengan sepeda motor dan pakaian dinas menyapamu, dan anak-anak sekolah mulai bergerombol memasuki angkutan umum. Dirimu kembali ke dalam ruangan terpencil, menyiapkan pakaian dan mulai merapikan barang-barang kepentingan kuliah. Jam mulai mendesakmu untuk bersiap-siap, setelah menuangkan air yang mendidih untuk menyeduh kopi, kau mulai merapihkan diri.

Bergegas menghabiskan secangkir kopi, sebelum kau berangkat ke lingkungan dedengkot kebajikan. Memakai sendal, berjalan dari arah persembunyianmu, tak lebih memakan waktu lima belas menit untuk menerobos lingkungan itu. Menuruni tanjakan, kau memasuki gerbang sambil meratapi kehidupan yang biasa-biasa saja.

Lingkungan dedengkot kebajikan mulai memperlihatkan eksistensinya. Wajah-wajah di dalamnya berkumpul membicarakan serba-serbi dunia. Sambil melingkar, mereka mempersiapkan satu gelas kopi, dan rokok masing-masing, mulai tertawa dan ngalor-ngidur. Tak lama, waktu kelas menghampirimu, kau mulai bergegas masuk beserta sekawanmu.

Waktu terus berlarian mengejar suasana yang perlahan mengubah. Perkuliahan terjeda oleh suara hentakan kaki segerombolan pasukan yang baru keluar dari medan pertempuran pikiran. Kau mengikuti jejak itu tak lama kemudian, sambil perlahan-lahan kau turun dari anak-anak tangga dengan penuh kebisingan. Mulai beranjak dari Gedung, sampai pada gapura selamat datang di Kawasan area kebebasan, entah kebebasan apa yang diberikan, intinya kebebasan untuk menjadi dedengkot kebajikan apa pun

Berjalan menyusuri trotoar jelek, kau teringat untuk menghadiri perwangkongan yang telah disepakati. Bergegas kembali ke persemayaman, mengambil helm perjuangan lalu menaiki kuda besi. Sore hari menjadi waktu ternyaman, untukmu dan sore demi menikmati terlepasnya kesumpekan hidup. Bukan hanya langit jingga yang terlukis, melainkan suasana ceria ketika pulang dari keseharian hipokrit dunia. Senyuman palsu dan tangisan yang dipedam semua buyar, hanya tersisa apa dirimu sebenarnya, menghadapi dunia sebagai manusia yang diliputi serba-serbi kekurangan dan kegelisahan jiwa.

Tertawa lepas, perbincangan dari z sampai a, dan kopi pahit penekan kemanisan cita-cita yang harus ditinggalkan untuk menikmati hidup seperti baik-baik saja. Rokok dan teman, melingkar di teras menjadi tapak tilas ocehan yang murni. Kau coba menghidupkan ruang-ruang keanehan, menekankan keunikan manusia, tak seperti pagi hari mesti berjalan normal demi terlihat bahagia. Sore itu kau dan kawanmu cekakak-cekikik, menertawakan keangkuhan masa lampau. Saat masa pubertas intelektual, merasa hebat dan mulai menghakimi seseorang, memandang dengan kebutaan dan meyakini hanya pandanganmu satu-satunya kebenaran atas realita. Kembali mengisahkan apa yang kau inginkan, tatkala masuk ke dalam lingkaran dedengkot kebajikan. Namun, asam dan pahit selalu menemani perjalanan mendaki kehidupan, dan yang tersisa hanya prinsip-prinsip yang mungkin dapat menjaga kestabilan jiwa dirimu.

Berlanjut pada malam sunyi, obrolan mulai memasuki ranah-ranah sedikit serius, siklus yang mungkin sering terlihat. Menuangkan air untuk menyeduh kopi kembali, alur pertemuan tepat di titik puncak, segala pemikiran mesti dipersiapkan juga diperhatikan. Bahasan malam itu mengenai reduksi sosial, penyusutan keberanian dan putus asa yang keberlanjutan. Mungkin jikalau dibayangkan, lebih terbayang mengetahui bentukan kiamat, dari pada kehancuran sistem penindasan. Kutipan yang mungkin tak asing bagi pecinta romantistik sosial. Mengulas kembali bagaimana penyakit keterpurukan dan putus asa keberlanjutan terus menghantui zaman morphling kehidupan. Kau coba membuka obrolan dengan sebuah celetukan misterius, apakah putus asa di zaman ini masuk dalam keterwajaran?

Kawan melingkar semakin mengecilkan jarak, dimulai dengan tatapan serius dan rokok yang dibakar kembali. Tanggapan mulai bermunculan, hingga kau mengamini satu persatu pendapat teman-temanmu. Tak disangka, kesukarelaan kita menghadirkan sebuah disiplin tubuh gaya baru. Bukan karena suatu larangan, melainkan rasa iri terhadap pencapaian. Juga kau menyadari betapa pendengarnya manusia, bukan semata telinga melainkan hati pun ikut mendengar. Hingga pada akhirnya, kesukarelaan menciptakan ketenangan palsu dari sistem kontrol tubuh baru, menciptakan gaya dominasi zaman alpha, melahirkan sosok kekejaman yang lebih dari relatif, kita sebut kekejaman mutlak. Jiwa kita diatur dalam algoritma dan kesuksesan serta penghargaan hidup orang lain, sesuatu dicap normal dan standarisasi kehidupan. Dan tubuh kita pada akhirnya hanya sistem keterwajaran untuk melanggengkan kontras-kontras yang menjajah kebebasan. Kita terpaksa, dan kita tak menyanggupi untuk melawan, kita terpaksa, terpaksa untuk mengimani keabsolutan karena cap normal berada di areanya, akhirnya keterpaksaan dan kesukarelaan kita dianggap sebuah keterwajaran. Hidup kita harus dipertanyakan untuk memenuhi ekspektasi algoritma, dan kungkungan itu menjelma pada jiwa sesuatu yang tak kasat mata. Kau membayangkan malam itu sebagai tamparan, tak peduli betapa pentingnya kebebasan, jika sistem keterwajaran masih menjadi tarif administratif untuk kehidupan cap kenormalan.

Mahasiswa yang suka ngopi, baca, menulis, juga menabung buku. Hobinya mengutuki dunia dengan cara membuat wacana kritis.