Bagaimana Manusia Membunuh Tuhannya?

“Tuhan telah mati,” kata Nietzsche dalam sebuah novel filosofisnya, Thus Spoke Zarathustra. Seruan itu seakan masih menggema di abad ke-21, dan justru bertransformasi menjadi fenomena yang lebih beragam, lebih kompleks, di mana kematian Tuhan, atau berakhirnya yang transenden itu, mulai digantikan oleh “tuhan-tuhan” baru dalam rupa narasi-narasi baru yang sering kali bersifat saintifik, teknologis, ideologi-politis, atau ekonomi.

Nietzsche tak menganggap Tuhan itu tak ada, melainkan Tuhan ada hanya saja Tuhan telah mati dan kita sendiri yang telah membunuhnya. Tetapi, persoalannya adalah bisakah sesosok Tuhan yang mengatasi segalanya, melampaui segalanya itu mati? Dan bagaimana mungkin Tuhan yang adikuasa bisa mati di tangan manusia yang sangat terbatas, oleh makhluk yang diciptakan-Nya sendiri? Jawabannya, bagi Nietzsche, bisa. Kematian Tuhan bukanlah kematian dalam arti sebenarnya, melainkan semacam metafor, yakni ketakmemadainya Tuhan untuk disembah sebagai Tuhan. Atau dalam ungkapan yang lebih filosofis, yakni runtuhnya fondasi moral manusia modern dan metafisika Barat.

Bagi manusia modern di akhir abad ke-19, Tuhan sebagai hukum dan moralitas tertinggi dianggap tak perlu ada dan mereka mulai percaya pada kekuatan akal, rasio, dalam menentukan segalanya. Akal dianggap sebagai simbol kedaulatan, kebebasan, dan kemajuan manusia, bukan lagi Tuhan yang mengatasi segalanya. Dari sinilah sains lahir tak terbantahkan dan agama mulai ditinggalkan. Bagi modernisme, agama—di mana Tuhan tak henti dikumandangkan—tak dapat lagi dijadikan pegangan, melihat agama—dalam konteks agama Kristen di abad pertengahan—selama ini hanya menjadi alat represif dan eksploitatif bagi mereka yang berkuasa. Agama hanya bualan kaum-kaum kolot ketika akal belum berfungsi seutuhnya. Pernyataan filosofis seperti “cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada) dan “sapere aude” (beranilah berpikir) lahir dari konteks modernisme ini.

Tetapi, paradoksnya, saat manusia modern dianggap “berhasil” membunuh Tuhan, justru ia pun telah menciptakan dan menyembah “tuhan-tuhan” baru, yakni sains, ideologi-politik, teknologi, negara, ekonomi atau pasar. Di dalam sains, misalnya, keyakinan apa pun yang tak sejalan dengan prosedur sainstifik haruslah dilenyapkan. Sains harus bersifat objektif, mampu dikuantifikasi, karena itu harus bersih dari segala hal yang berbau takhayul dan “dogma” agama.

Atau dalam teknologi yang telah menghasilkan beragam kemajuan sekaligus kengerian dalam bentuk senjata pemusnah massal, bom nuklir, atau seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelegence/AI) di zaman ini. Kepercayaan terhadap kemajuan teknologi pun sering kali menyerupai iman religius. Janji akan kemaslahatan dan bahkan keabadian melalui digitalisasi kesadaran (AI) seperti di zaman ini merupakan suatu proyek modern untuk mencapai kualitas “keilahian”. Begitu pula dalam mekanisme ideologi-politik setiap hal yang tak sejalan dengannya mesti dihancurkan. Sementara di dalam ekonomi adalah pasar seakan menjadi ruang sakral baru, suatu kekuatan yang tak terkendali, yang seakan mampu memenuhi segala keinginan dan kebutuhan material manusia. Di sinilah Nietzsche dengan jeli menunjukkan bagaimana manusia, terutama manusia modern, mulai memiliki keyakinan dan pegangan baru, serta bagaimana keyakinan dan pegangan baru yang dianggap sebagai kebenaran itu bekerja.

Lalu apa relevansinya dengan kita di zaman ini, yang konon hidup di ambang modernitas? Atau apa relevansinya bagi manusia yang tak sepenuhnya lagi percaya pada narasi-narasi besar (grand narative) modernisme karena ekses negatif yang dihasilkannya (kapitalisme, kolonialisme, perang, fasisme/totalitarianisme, kerusakan lingkungan, dst)? Bagi saya, seruan Nietzsche itu masih sangat relevan. Sebab modernisme tak sepenuhnya ditinggalkan, dan kita dapat melihat bagaimana warisan pemikiran dari modernisme ini masih menancap kuat dalam cara berpikir atau semesta kehidupan manusia saat ini.

Manusia di abad ke-21 ini tetaplah terjebak pada pengkultusan atau penghambaan pada “tuhan-tuhan” baru tersebut. Bagaimana sains, teknologi, ideologi-politik, ekonomi, dan negara, kian dipercaya dan seolah-olah mengatasi segalanya. Maka tak mengejutkan apabila di zaman ini, kita bisa menyaksikan semakin merebaknya eksekusi secara membabi buta terhadap sesama manusia dan juga alam. Dalam kenyataan empirik atau dunia maya berapa banyak manusia yang dieksklusi ketika dianggap bersalah, atas nama apapun seperti keyakinan ideologi-politik, sains, ekonomi, atau singkatnya “kebenaran”. Tak ada ruang pemaafan dan pengampunan bagi mereka yang dianggap bersalah sebagaimana iblis yang mesti dieksorsis. Setiap manusia seolah-olah mesti bersih, mesti suci, dari segala dosa besar dalam ruang sosial yang telah disepakati.

Meski pada kenyataannya, manusia merupakan makhluk yang terbatas, yang tak luput dari khilaf. Manusia bukanlah makhluk yang hitam-putih: tercipta dari akal dan jasad semata, melainkan dipengaruhi atau dibentuk oleh unsus-unsur lainnya seperti nafsu, hasrat, seks, dan bahkan dibentuk oleh yang sosial. Akhirnya, manusia semakin terasing, baik dari dirinya sendiri dan dari yang lain. Ia terasing bukan hanya karena sistem ekonomi-politik sebagaimana kata Marx, atau terasing dari hasrat-hasratnya oleh yang sosial sebagaimana kata Freud-Lacan, melainkan ia pun terasing karena keyakinan-keyakinan kebenaran dalam rupa tradisi, konsep, ideologi-politik, teknologi, dan seterusnya, dalam ruang sosial hari ini yang semakin hari tampak kaku dan seragam.

Misalnya, saat seseorang “dipaksa” untuk sejalan dengan konstruksi sosial yang berlaku, maka ia harus mengesampingkan keyakinannya sendiri (keyakinan agama, misalnya) agar bisa “selamat” dari segala hukuman atau eksekusi yang membabi buta. Dalam istilah lain, hal ini disebut sebagai virtue signaling (isyarat/citra kebajikan). Tujuannya? Demi mendapatkan citra moral secara sosial agar diakui keberadaannya, dan akhirnya selamat dari eksklusi apapun. Inilah “tuhan-tuhan” baru dan palsu yang masih bertahan dan telah diantisipasi oleh Nietzsche. Hilangnya kerendahan hati, kebijaksanaan, ruang pemaafan dan pertobatan, merupakan fenomena lumrah bagi manusia modern di abad ini.

Tinggal di Bandung. Belajar di Arena Studi Apresiasi Sastra UPI, Lingkar Studi Filsafat Nahdliyyin, dan Asosiasi Psikoanalisis Indonesia. Meminati kajian filsafat, sastra, psikoanalisis, dan tasawuf.