Menggali Sastra Lebih Dalam: Budaya Massa Vs Subkultur

Budaya selalu identik dengan kesusastraan. Melalui instrumen sastra, budaya dapat digali lebih dalam. Pada saat ini, budaya semakin cepat berkembang, baik melalui asimilasi maupun akulturasi. Di samping itu, sastra selalu mengiringi dalam perkembangan budaya. Membentuk sebagai pengembang kultural, sastra selalu berdialektis melalui budaya — baik dalam Prosa, Puisi, Drama. Selain itu, karya sastra menciptakan sebuah identitas suatu budaya — baik bersifat lokal, maupun nasional — entah melalui gaya masing-masing penyampaian melalui medium sastra, atau yang lainnya.

Menafsir budaya melalui para intelektual. Penafsiran para cendekiawan terhadap budaya, sukar untuk ditemui perdebatannya. Seperti Andreas Eppink, Menurutnya: budaya merupakan keseluruhan pengertian yang mencakup nilai, norma, ilmu pengetahuan, serta struktur sosial dan religius yang menjadi ciri khas masyarakat. Lain halnya, Baudrillad membuat sebuah kenakalan kecil untuk menciptakan era baru budaya, ia melihat budaya sebagai ranah simulasi dan hiper-realitas. Juga menambahkan, bahwa budaya hari ini telah kehilangan antara tanda, dan kenyataan, karena ia memegang teguh budaya sebagai sistem tanda yang dikonsumsi suatu kelompok sehingga terciptanya keunikan dan penyimbolan — Simulacra and Simulation (1981) dan The Consumer Society: Myths and Structures (1970). Kekacauan ini diperparah oleh Jean-François Lyotard, Ia menggiring bahwa metanarasi hari ini telah luluhlantah, dan budaya merupakan sebuah era baru dari bahasa atau tanda yang dipakai untuk menggantikan metanarasi, melalui interpretasi dari The Postmodern Condition: A Report on Knowledge (1984).

Pengulitan budaya melalui pisau sastra. Sastra yang identik dengan penafsiran, memulai serangan ke dalam jantung budaya. Melalui sifat holistik budaya, sastra menguliti budaya dengan gagahnya melalui bahasa. Pembahasan sastra dimulai melalui bahasa, menghancurkan citraan yang kanon dari budaya, menghancurkan setiap detail perusakan dalam simbol budaya, dan menjadi peluru tajam untuk menembus jantung budaya.

Budaya Massa Sebagai Pedoman Hidup

Penciptaan hegemoni dimulai dari sibernatik, seperti Baudrillad citrakan. Hegemon menurutnya, suatu ketertundukan yang dilakukan melalui proses digitalisasi. Berbeda dengan Gramsci, yang melihat hegemon sebagai tindakan sukarela karena ketertundukan pada kekuasaan. Hegemon sibernatik, ataupun kekuasaan, selalu melalui instrument yang sama, yaitu budaya dan bahasa. Penciptaan bahasa yang menyebabkan tindakan, dan keidentitasan, dipakai untuk menyebarkan ciptaan teror terhadap suatu kelompok. Instrument bahasa lebih lanjut, dipakai sebagai penyebar teror, yang diterjemahkan dalam marginalisasi, atau eksklusi.

Memasuki tahap kedua penciptaan budaya massa. Pelenyapan tanda atau simbol, menyebabkan realitas kehilangan maknanya. Sangkar besi baru, diciptakaan melalui sibernatik, sehingga memperoleh suatu kualifikasi nilai tertentu, menyamaratakan keunikan, tanda, dan simbol. Sehingga Deleuze merombak suatu sistem lama, ia menyebutnya Anti-Oedipus. Berawal kritikannya terhadap Freud, ia memberikan pernyataan unik: Manusia merupakan mesin Hasrat, dan ia bekerja tanpa henti. Melihat produksi massal tanda, menciptakan kungkungan terhadap manusia. Hari ini, bagaimana subjek harus menamakan dirinya subjek? Sederhana, maka jadilah sebuah tubuh tanpa organ — yang ia maksudkan sebagai melepaskan diri dari kungkungan sosial yang dibentuk melalui tanda, kode, dan simbol. Oleh karenanya, kapitalis hari ini bukan hanya menyasar pada instrumen material, melainkan imaterial seperti budaya, menciptakan suatu kegilaan yang amat merusak, sehingga ritus terkecil pun menjadi normalisasi dikaitkan dengan moralisasi — sedikit pernyataan dalam Anti-Oedipus (1972).

Bagaimana budaya massa menghancurkan identitas, dan menciptakan kualifikasi nilai baru? Melalui pertanyaan tersebut, Adorno membuat panggung sandiwara terbaik. Menurutnya, budaya massa bukan diciptakan dari keunikan kelompok, melainkan sebuah produk sistem kapitalis yang menghidupkan standarisasi, diciptakan untuk keuntungan, penciptaan konsumeris, pembentukan homogenitas, menurunkan pemikiran kritis, dan penciptaan kebahagiaan palsu sehingga terbentuknya suatu fetish — melalui bukunya The Culture Industry: Selected Essays on Mass Culture (1991). Selain itu, Tom Bottomore menjelaskan bahwa budaya hari ini “dikonsumsi” oleh manusia, merupakan hasil reproduksi dari industri budaya yang bertujuan untuk eksploitasi manusia demi akumulasi kapital. Budaya industri sendiri merupakan bentuk asli dari rasionalitas instrumental. Melalui rasional instrumental ini, tercipta sifat destruktif manusia, yang dicontohkan dalam sibernatik global seperti imaginer gaya hidup kekinian, dan standarisasi seseorang. Diciptakan dengan simbol, budaya ini menjelma dalam bentuk fiktif, seperti iklan, dan hiburan. Sebagai contoh: wajah yang cantik merupakan wajah yang putih atau bisa dianggap kekorea-korean, ataupun tubuh yang sexy adalah tubuh yang langsing dan nyaris kurus kering.  Sehingga, keautentikan suatu nilai terhapus secara paksa. Menciptakan rezim baru, rezim ketertundukan hanya untuk kualifikasi nilai sempurna dalam ilusi sibernatik — Mazhab Frankfurt: Gagasan dan Kritik (2019).

Pada simpulan, budaya massa cenderung memberikan efek destruktif terhadap perkembangan budaya saat ini. Budaya yang dulu autentik, menjadi hal aneh di mata orang lain — bahkan dianggap tabu. Budaya massa hari ini merupakan retasan dari telur kapitalis lama, menciptakan sistem baru yang merambah melalui jaringan virtual atau sibernatik. Penghayatan budaya massa cenderung bersifat anti-kritik, atau totaliter, menyebabkan penghayatan budaya destruktif sebagai penjelmaan turunnya mukzijat  dari tuhan untuk memberikan pedoman hidup baru, menciptakan sekte tersesat di dunia — melalui budaya massa.

Sastra Adalah Subkultur

Orientasi nilai sastra terkandung dalam daya juang. Sastra hari ini terkikis, dengan adanya gelombang baru “budaya massa” yang kian kemari membentuk monad suatu sekterian. Bagaimana sastra hidup hari ini? Sastra hari ini merupakan antithesis nyata dari budaya massa destruktif. Kemudian, sastra haruslah dibentuk sebagai regu kavaleri yang siap menerobos benteng pertahanan musuh, dengan artian bahwa sastra haruslah menjadi subkultur. Melalui pengertian Dick Hebdige yang melihat subkultur sebagai bentuk perlawanan simbolik melalui pengolahan tanda, dan pesan visual yang unik, seperti yang ia ceritakan dalam Subculture: The Meaning of Style (1979).  Selanjutnya, penjelmaan sastra sebagai subkultur dapat dilakukan melalui penghancuran genre-genre mainstrem, ataupun kosa-kata tertahan. Sebab itu, sastra cenderung dinikmati sebagai pelampiasan hasrat seksualitas semata, menjadikannya buku bacaan yang digandrungi karena menerapkan imajinasi, standarisasi, kualifikasi nilai romantistik, pencipta ejakulasi palsu, dan kemunafikan realitas pahit.

Penciptaan subkultur melalui sastra. Sastra yang bermediumkan bahasa, dapat menggambarkan ciptaan citra imajiner, dan visual. Pengubahan sastra melalui penentuan kosa-kata, merupakan sebuah cara efektif untuk menciptakan sastra sebagai subkultur. Karena, pemilihan diksi membentuk nilai daya subversif suatu karya sastra. Selanjutnya, pemilihan genre dan latar unik menentukan dalam citra visual pembaca, melalui dua hal tersebut karya sastra cenderung ampuh untuk memobilisasi suatu monad yang terukur sesuai keinginan penulis, Akhirnya, suatu karya sastra dapat dinilai baik, ketika ia dapat memberikan paham terhadap pembaca atas karyanya untuk menunjukkan suatu realitas yang terjadi.

Kesusastraan merupakan wilayah luas untuk penciptaan. Budaya massa yang semakin ekses, membuat sastra terdominasi olehnya, karena sastra merupakan instrumen dalam budaya. Pada simpulan terakhir, budaya massa yang telah dijelaskan, merupakan suatu spat-kapitalis. Menciptakan sebuah standarisasi, mengubah dominasi menjadi hegemoni, menghancurkan ide, kode dan simbol, serta memicu gangguan skizofernia akut. Oleh karenanya, sastra sebagai instrumen budaya, haruslah menjadi tameng kokoh dalam pergulatan kewarasan terakhir, ciptakanlah subkultur untuk pertarungan simbolik baru, melalui language game.

 

Mahasiswa yang suka ngopi, baca, menulis, juga menabung buku. Hobinya mengutuki dunia dengan cara membuat wacana kritis.