Gus Dur, Bencana, dan Kedewasaan

Bila kita membaca tulisan Gus Dur, tentang “Kedewasaan dan Bencana Alam” yang pertama kali dimuat Proaksi, 28 Januari 2005 dan dipublikasikan kembali dalam buku Gus Dur Bertutur (2005).

Ini menjadi pengingat bagi kita soal bencana bukan sekadar peristiwa alam, melainkan ujian kedewasaan manusia. Pasalnya, di tengah reruntuhan dan kehilangan, tumbuh rasa belas kasihan dan solidaritas. Namun, di situlah kedewasaan sikap diuji. Apakah bantuan memampukan manusia untuk bangkit, atau justru melemahkan daya juangnya.

Mengingat berbagai bantuan lahir dari alasan perikemanusiaan yang luhur, suci dan agung. Akan tetapi bila berhenti pada rasa kasihan, maka bantuan berisiko mengerdilkan martabat korban. Kasihan yang tidak disertai penghormatan pada kemandirian, dapat menjadikan korban sekadar objek, bukan subjek yang berjuang memulihkan hidupnya.

Kedewasaan tampak saat korban menerima bantuan tanpa kehilangan harga diri. Mereka tidak menuntut, apalagi menganggap bantuan sebagai kewajiban orang lain. Bantuan diterima sebagai penopang “sementara”, bukan sandaran permanen. Di saat yang sama, mereka tetap berikhtiar mengatasi musibah dengan tenaga sendiri dan bangkit dari keterpurukannya.

Air Berubah Menjadi Api

Dalam buku Fatwa dan Canda Gus Dur, terdapat tulisan tentang Air Kehidupan, Mas Agus Wiyarto, salah satu orang dekat Gus Dur yang paling sering diajak berdiskusi oleh Gus Dur tentang filosofi pewayangan, lakon yang sakral dan atas permintaan Gus Dur.

Gus Dur mendengarkan lakon itu di sebuah rumah kecil persis depan panggung. Dengan alas tikar Gus Dur dipijat seorang tua. Sebuah sikap egalitarian dan bersahaja terbangun penuh kebersamaan.

Semakin malam hujan semakin deras mengguyur. Langit kelam. Suara halilintar semakin bergemuruh seolah menyoraki lakon kehidupan yang sedang dibawakan Ki Dalang. Gus Dur terlihat menahan sesuatu yang berat. Dadanya turun naik dan napasnya tersengal-sengal.

Tepat pukul 01.30 WIB, beliau minta Mas Munib untuk mengantarnya ke kamar mandi tanpa atap itu. Payung yang aku pegang tidak bisa menahan air hujan. Gus Dur basah kuyup. Beliau berkata lirih, “Kiai, hidup ini ibarat air. Dan bangsa ini sedang merasakan air yang berubah wujud jadi api”.

Jiwaku bergetar. Kata-kata Gus Dur terus terngiang, “Air berubah wujud jadi api”. Belum hilang rasa kebingunganku. Beliau duduk bersila. Aku dan Bang Muhyiddin direngkuhnya. Mulailah terdengar keluh kesah dan kegelisahan seorang Gus Dur. Dari mulai bencana alam, krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan nasional, degradasi moralitas di dunia Pesantren, masa depan NU, konflik internal PKB, sampai akan meninggalnya Jenderal Besar Soeharto. Suara yang berat itu berubah ringan, saat Gus Yusuf Khudori dari Tegalrejo, Magelang datang.

Kata-kata Gus Dur tadi mengingatkan aku pada seorang ulama tersohor, Syaikh Yazid Al-Bustami, yang mengutip Khidir Sang Nabi yang tersembunyi, mengatakan, “Bila air tidak dipakai bersuci, maka air akan berubah menjadi api.”

Di negeri ini, air telah menjadi api, karena tak dipakai untuk bersuci. Hal ini tampak pada berbagai fenomena bencana yang menimpa bangsa ini, terutama yang diakibatkan oleh faktor air, seperti tsunami di Aceh dan Pangandaran, serta banjir bandang di berbagai pelosok negeri ini yang tak henti-henti.

Wudhu, Memperbaiki Tindak Penyucian

Gus Dur mengingatkan bahwa semua fenomena itu mengharuskan kita untuk kembali memperbaiki tindak penyucian (tazkiyyah) baik bersifat indrawi (sensor), maupun maknawi (supra-sensor). Tazkiyyah ini setidaknya kita lakukan dalam konteks dua hal.

Pertama, penyucian jiwa (tazkiyyah al-nufus) dari segala akhlak yang busuk dan tercela (al-madzmumah), prinsip hidup yang melawan fitrah kemanusiaan, serta mata hati (sirr) yang memandang kepada sesuatu selain Allah.

Kedua, penyucian indrawi, yakni kepedulian terhadap kebersihan (nazhafah) serta membasuh anggota-anggota badan tertentu yang telah ditentukan syara’ (QS 5:6), yang dalam ajaran Islam disebut wudhu.

Wudhunya Gus Dur di tengah malam itu yang langsung dari air langit sebuah isyarat tentang pentingnya mewudhukan kehidupan. Wudhu yang tata cara dan urutannya telah ditentukan dalam ajaran Islam sebenarnya mempunyai makna yang sangat penting bagi kehidupan manusia.

Wudhu dimulai dengan niat yang ikhlas. Keikhlasan merupakan hal paling penting dalam kehidupan. Seseorang yang berhati ikhlas akan mampu melepaskan dan membebaskan dirinya dari berbagai belenggu kepentingan duniawi yang cenderung picik dan dangkal, yakni hanya demi ambisi pribadi, kepentingan golongan, serta tujuan-tujuan sesaat. (Maman Imanulhaq Faqieh, 2010:43-45)

Memupuk Kedewasaan, Menebar Kebaikan

Dari bencana, kita belajar ihwal kemanusiaan sejati bukan semata tentang memberi, melainkan tentang memuliakan manusia beserta harkat dan martabatnya. Solidaritas yang dewasa adalah kepedulian yang saling menguatkan, bukan sekadar menggantikan perjuangan orang lain.

Pasalnya, tujuan akhir dari setiap bantuan bukan hanya menyelamatkan hari ini, melainkan menumbuhkan asa, keberanian, dan harapan agar mereka tetap tegak melanjutkan hidup menuju hari esok yang lebih baik.

Bencana mengajarkan arti kedewasaan iman dan kemanusiaan. Bantuan yang mengalir menjadi wujud kasih sayang, sekaligus ikhtiar merawat martabat manusia agar tetap terjaga dan terpelihara. Mereka yang tertimpa musibah tidak kehilangan kehormatan hanya karena membutuhkan pertolongan.

Kedewasaan tampak ketika bantuan diterima dengan rasa syukur tanpa mematikan ikhtiar, dan saat pertolongan diberikan dengan empati tanpa sedikit terbesit untuk merendahkan. Kemanusiaan sejati tidak hanya hadir dalam tindakan memberi, tapi berusaha untuk menumbuhkan sikap memuliakan.

Kita menguatkan yang lemah agar kembali berdiri, bukan sekadar menopang agar terus bergantung. Dari bencana, kita diajak bukan hanya untuk berbelas kasih, justru menumbuhkan sikap dan perilaku kedewasaan hidup dan keimanan yang kokoh. Sambil terus menebar kebaikan, karena dari kepedulian yang dianggap kecil kerap lahir harapan besar.

Mari kita renungkan petuah Gus Dur secara bersama-sama agar hidup lebih bermakna dan terarah. “Tidak penting apa pun agamamu atau sukumu. Jika kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan pernah bertanya apa agamamu.”