Ketika aku masih remaja, aku pernah mengalami sesuatu yang saat itu tidak aku pahami. Sepulang dari les matematika, aku berjalan kaki melewati sebuah lapangan futsal. Saat itulah dua orang laki-laki yang berada di lapangan tersebut berteriak kepadaku.
“Dek, mau abang antar pulang nggak ?”
Mereka mengatakannya sambil tertawa.
Saat itu aku belum tahu bahwa tindakan itu memiliki istilah yang disebut catcalling. Aku hanya merasa risih dan tidak nyaman. Aku menganggap mereka hanya sedang iseng. Tidak ada yang mengajariku mengenai catcalling ini, dan tidak pantasnya tindakan tersebut.
Aku baru memahami apa itu catcalling ketika kuliah. Aku baru tahu bahwa tindakan itu bukan sekedar becanda, melainkan bentuk pelecehan verbal yang membuat seseorang merasa tidak nyaman.
Namun yang membuatku sedih, ketika aku beranjak dewasa, pengalaman itu tidak berhenti.
Saat masih menempuh kuliah S1, aku pernah berjalan kaki untuk mencari makan siang. Diperjalanan, aku melewati beberapa bapak tukang yang sedang membangun sebuah minimarket. Ketika aku lewat, beberapa bapak tukang itu iseng dengan bersiul ke arahku.
Mungkin bagi mereka itu hanya candaan.
Mungkin bagi mereka itu hanya keisengan.
Tapi bagiku, saat itu rasanya berbeda.
Aku marah.
Di dalam hati aku bertanya “Mengapa aku seperti tidak ada harganya ?”
Pengalaman lain yang membuatku berpikir lebih jauh terjadi ketika aku sedang makan siang di sebuah warteg di samping kosku, saat aku masih kuliah S1.
Saat itu ada seorang mahasiswi yang berjalan melewati warteg. Tiba-tiba anak laki-laki pemilik warteg yang masih kecil memanggilnya dengan sebutan, “Cewek!”.
Aku memperhatikan kejadian tersebut.
Aku melihat respon ibunya. Apakah ibunya menegur anaknya ? Tidak, ibunya hanya tersenyum.
Di situlah aku mulai menyadari bahwa cara seseorang memandang lawan jenis, sering kali terbentuk sejak kecil. Anak-anak belajar dari lingkungan sekitar. Ketika perilaku yang kurang menghormati lawan jenis dianggap biasa, maka anak-anak akan menganggap bahwa hal itu tidak masalah.
Menurutku, salah satu akar dari permasalahan ini adalah kurangnya edukasi tentang bagaimana menghormati lawan jenis, ditambah kultur masyarakat yang masih patriarki. Sayangnya, pembahasan mengenai pendidikan seks, masih sering dianggap tabu di Indonesia. Pendidikan seks bukan hanya soal reproduksi, melainkan juga mencangkup pembelajaran tentang batasan pribadi, persetujuan, dan cara melakukan lawan jenis dengan baik.
Ada juga sebagian orang yang berkomentar “Itu karena pakaiannya tidak tertutup”. Aku pribadi merasa pakaian sudah bukan lagi menjadi alasan. Aku bukan tipe yang suka menggunakan pakaian terbuka, tapi aku masih mengalami catcalling tersebut.
Masalahnya adalah cara sebagian orang memandang perempuan. Apakah perempuan dipandang sebagai manusia yang memiliki pikiran dan perasaan, atau hanya sebagai objek yang dikomentari sesuka hati.
Ada juga contoh lain, misalnya iklan yang menggunakan tubuh perempuan sebagai daya tarik utama. Ketika aku masih kecil hingga SMA, aku menganggap hal itu biasa saja, namun ketika aku kuliah aku mulai mempertanyakan “Mengapa tubuh perempuan sering digunakan untuk menarik perhatian publik dan pemasaran ?” terkesan seperti objek yang di pajang untuk memuaskan mata. Menurutku itu tidak adil.
Perempuan tidak ditentukan oleh seberapa menarik penampilan tubuhnya, melain juga ditentukan oleh kualitas otak, dan nilai seorang perempuan.
Pada akhir-akhir ini juga, terdapat berita tentang penyekapan dan penyiksaan seorang perempuan selama 3 tahun. Aku juga tidak ingin melihat itu.
Pada intinya, keinginanku sederhana, aku hanya ingin perempuan juga dipandang sebagai manusia yang memiliki harga diri.
Aku percaya bahwa setiap bagian tubuh manusia, diciptakan Tuhan dengan fungsi dan tujuan masing-masing, bukan sekedar untuk memuaskan pandangan atau nafsu orang lain.






