80 tahun sudah bangsa ini menapaki kemerdekaan, carut marut sebagai bangsa sudah amat telak dirasakan, tentu momentum kali ini mesti diisi dengan berbagai ingatan reflektif mengenai sepak terjang perjalanan Indonesia sebagai bangsa. Indonesia tanpa mereka yang berperan membuat sejarah adalah sebuah artefak mati, monumen terbengkalai, tapi tidak dengan apa yg diistilahkan sebagai sejarah yang ditulis dan sejarah sebagai sebuah momentum refleksi-filosofis. Beragam tokoh “Founding Parent’s” telah sebagian besarnya dipelajari di sekolah. Tapi pernahkah kita menengok lebih dalam mereka yang telah mengukir sejarah, namun terlupakan begitu saja dari lini masa perjalanan Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa.
Sebut saja diantaranya Amir Sjarifoeddin, Tan Malaka dan Sjahrir. Tiga tokoh revolusi dengan pendekatan berbeda, semuanya turut berperan baik secara konsepsi maupun upaya diplomatik baik kemerdekaan. Tan Malaka yang duduk diantara beragam ideologi serta sistem politik mengawali karyanya dengan judul “Naar de Republiek” sebuah magnum opus yang dibuat cemerlang dalam proses pelariannya sebagai buronan politik kolonial. Amir Sjarifoeddin, seorang revolusionis lain, mantan perdana menteri yang akhirnya serupa Tan Malaka pada 1949, dihakimi bangsanya sendiri.
Sjahrir, tidak diasingkan, tapi turut menjadi sasaran tahanan politik, revolusionis yang berpendekatan diplomatis ini merupakan tandem Tan Malaka dalam konsep republik. Di sini patut diketengahkan sosok “even making man” seperti yang dirumuskan John Hopkins, setiap lini masa sejarah memiliki tokoh sentral, tapi tak ayal banyak tokoh yang tak tersorot “kamera” sejarah membuktikan dedikasinya pada bangsa. Mereka adalah tokoh yang terlupakan oleh kamera sejarah, padahal tidak akan merdeka tanpa perjuangan mereka.
Dengan berbagai pendekatan berbeda yang dianutnya sudah sepatutnya kita sebagai warga negara, bukan cuma berterima kasih, juga turut merefleksikan jasa dan ajarannya untuk bangsa yang telah 80 tahun merdeka.







