Belakangan ini masyarakat dihebohkan dengan kasus pelecehan seksual yang dilakukan seorang kyai kepada santriwatinya di sebuah pondok pesantren di Pati. Jumlahnya mencapai 50 santriwati dan rata-rata di usia 13 tahun keatas. Miris sekali melihat berita tersebut karena sudah dilakukan selama beberapa tahun dan seolah-olah ada yang melindungi agar kyai tidak terhukum. Kasus ini membuat banyak orang merasa sedih dan marah, karena tindakan tersebut terjadi di tempat yang seharusnya aman dan menjadi tempat belajar agama.
Selama ini anak-anak diajarkan untuk menghormati guru, ustaz, dan tokoh agama. Sikap hormat memang penting, tetapi terkadang anak menjadi takut untuk menolak atau bertanya ketika mendapat perlakuan yang membuatnya tidak nyaman. Banyak anak akhirnya hanya diam karena menganggap orang dewasa pasti benar. Hal inilah yang sering dimanfaatkan oleh pelaku kekerasan seksual. Korban kadang tidak sadar bahwa dirinya sedang diperlakukan tidak baik, apalagi jika pelakunya adalah orang yang dihormati. Dalam kasus ini bahkan ada alasan mencari “keberkahan ilmu” sehingga korban semakin sulit menolak perlakuan tersebut.
Karena itu, pendidikan tentang seksualitas sangat penting diberikan sejak dini. Pendidikan seksualitas bukan berarti mengajarkan hal yang tidak pantas kepada anak, tetapi mengajari anak mengenali tubuhnya, memahami batasan, dan mengetahui bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh orang lain.
Fitrah seksualitas yaitu bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Tujuan pendidikan fitrah seksualitas ini adalah membuat anak mengetahui identitas seksualnya, anak mampu berperan sesuai dengan identitasnya dan membuat anak mampu melindungi dirinya dari kejahatan seksual. Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap pembahasan tentang seksualitas adalah hal tabu. Orang tua sering merasa malu atau canggung membicarakannya dengan anak. Padahal jika anak tidak diberi pemahaman yang benar, mereka bisa mencari tahu sendiri dari lingkungan atau internet yang belum tentu memberikan informasi baik.
Selain itu, masyarakat juga sering lebih fokus menjaga nama baik sebuah lembaga daripada mendengarkan korban. Ketika ada kasus pelecehan, korban kadang justru disalahkan atau diminta diam agar masalah tidak menyebar. Akibatnya banyak korban memilih menyimpan rasa takut dan trauma sendirian. Trauma akibat pelecehan seksual tidak bisa dianggap sepele. Korban bisa kehilangan rasa percaya diri, merasa takut bertemu orang lain, bahkan mengalami gangguan psikologis dalam waktu lama. Luka batin seperti ini sering lebih sulit sembuh dibanding luka fisik.
Dalam ajaran Islam sebenarnya sudah dijelaskan tentang pentingnya menjaga kehormatan diri, menjaga pandangan, serta batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga keselamatan dan martabat manusia. Karena itu, pendidikan seksualitas yang sesuai dengan ajaran agama perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut saya, orang tua perlu mulai membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan anak. Anak harus merasa nyaman untuk bercerita ketika mengalami sesuatu yang membuatnya takut atau tidak nyaman. Bahkan jika perlu anak diajari untuk mengambil tindakan jika ada seseorang yang mencoba menyentuh bagian tubuhnya. Dengan begitu, anak tidak akan takut meminta bantuan.
Sekolah dan lembaga pendidikan juga harus lebih serius dalam melindungi anak-anak. Perlu ada aturan yang jelas, pengawasan yang baik, dan tempat aman bagi anak untuk melapor jika mengalami kekerasan atau pelecehan. Pun anak-anak diberikan pemahaman tentang pelecehan seksual verbal, tatapan mata, dan sentuhan.
Kasus ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa penampilan baik atau gelar agama tidak selalu menjamin seseorang memiliki perilaku yang baik. Karena itu, masyarakat harus tetap waspada dan tidak menutup mata terhadap tindakan yang salah. Anak-anak berhak tumbuh di lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang. Jangan sampai tempat yang seharusnya menjadi tempat belajar dan mencari ilmu justru meninggalkan luka dan trauma bagi mereka.




