Hidup Bahagia dan Berbahagialah

Sore itu sepulang dari rutinitas mengajar, aku putuskan untuk mampir ke sebuah toko buku di dekat kampus UIN Bandung untuk menemui seorang sahabat sekaligus kakak, guru dan juga mentor dalam kehidupan. Di arah jalan Soekarno-Hatta tepatnya dari jalan Gedebage menuju cibiru aku arahkan motorku di bunderan Cibiru ke sebelah kiri menuju arah Cipadung. Tepat setelah melewati Kampus UIN Bandung, di sebelah Barat Kampus ada sebuah Mesjid, di sanalah tepatnya letak toko buku tersebut. Toko buku tersebut bernama Toko Buku Naaqish.

Aku parkirkan motorku di pelantaran Masjid Jami’ itu dan kutengok ternyata dia ada sedang menyusun buku di teras toko. Kuucapkan salam dan dia tersenyum lebar sambil berucap, “Yi, kumaha damang?” (Yi, Bagaimana kabarnya sehat?), Yi adalah singkatan dari ayi sebutan dari bahasa Sunda untuk mereka yang lebih muda. Namun bagiku, ayi punya makna lebih dari sekedar sebutan itu. Kami bersalaman dan dia mempersilahkan duduk sambil mempersiapkan kopi untukku tanpa terlebih dahulu bertanya lagi sudah darimana aku.

Mang Maula, itulah namanya. Seorang sahabat sekaligus mentor bagiku yang sejak masa kuliah aku selalu sengaja bertemu dengannya hanya untuk sekedar mengobrol atau bahkan sekaligus membeli buku. Aku tahu banyak hal seputar dunia sastra darinya. Sore itu, langit di atas nampak seperti kanvas yang tumpah dengan warna jingga gelap yang lelah. Aku duduk di kursi yang sudah disediakan, masih dengan sisa aroma spidol dan debu jalanan yang menempel di jaket. Tas kerja berisi tumpukan modul ajar, Laptop, dan berbagai alat tempur untuk di kelas kuletakkan di sudut toko mang Maula, seolah ikut menghela napas panjang.

“Ini kopinya, Yi,” suara itu membuyarkan lamunanku. Dia duduk di depanku, tenang seperti biasanya, seolah hiruk-pukuk dunia di luar sana tidak pernah menyentuh kulitnya. “Darimana nih? Sengaja mampir kah?” Lanjutnya sambil kembali membereskan tumpukkan buku yang ternyata adalah pesanan untuk dikirim ke daerah Cirebon. Aku kemudian menjawab sepulang dari sekolah seperti biasa dan memang sengaja mampir untuk mengobrol sambil ngopi dengannya dan lantas berterima kasih atas suguhan kopinya. Dia kemudian berhenti sejenak dari membungkus buku-buku pesanan itu, menyalakan sebatang rokok dan menyeruput kopinya yang sudah mulai tersisa setengah.

Aku menyeruput sedikit kopi yang masih panas itu, lalu menghela napas dengan berat. Kami mengobrol ringan terlebih dahulu sambil memperhatikan Mang Maula menyelesaikan paket-paket bukunya.  Kemudian aku lanjut mengutarakan sesuatu yang sudah lama menumpuk dalam benak pikiran, “Hari ini kepalaku rasanya seperti labirin yang buntu, Mang. Di sekolah, aku bicara tentang etika, tentang karakter, tapi aku merasa sedang membangun istana di atas pasir. Pendidikan kita… rasanya semakin absurd. Kita mengejar angka, tapi kehilangan jiwa. Kita mencetak tenaga kerja, tapi lupa mendidik manusia. Anak-anak itu, mereka seperti robot yang dipaksa menghafal masa depan yang mereka sendiri tidak pahami.”

​Aku menunduk, menatap retakan di lantai teras Toko itu. “Bukan cuma itu, Mang. Di luar sana, kemanusiaan seperti barang antik yang makin langka. Orang-orang saling sikut dalam kebisingan yang tak bermuara. Aku gelisah. Hidup ini seperti jalan yang bercabang seribu, dan aku berdiri di tengahnya tanpa kompas. Semuanya terasa begitu semu, begitu sangat bising, Mang”, lanjutku.

Ia menghisap rokok kreteknya dengan pelan, menatap lurus ke mataku dengan ketenangan yang tak tergoyahkan.

“Bising itu ada di luar, tapi kuncinya ada di dalam kepalamu sendiri, Yi,” jawabnya pelan. “Dunia tidak berutang ketenangan padamu. Kamu yang harus menciptakannya.”

Ia kemudian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang selalu membuatku merasa bahwa badai sehebat apa pun pasti akan reda. Dia tidak memberikan ceramah panjang tentang pedagogi atau filsafat moral. Ia hanya menatap ke arah jalan Cipadung yang semakin padat karena masuk jam bubaran kerja.

​”Kamu tahu, Yi,” lanjutnya pelan, “terlalu banyak orang yang mencoba membetulkan dunia, tapi lupa membetulkan detak jantungnya sendiri. Pendidikan, sistem, atau hiruk-pikuk itu… itu adalah ombak. Dan kamu tidak perlu meminum seluruh air laut hanya untuk merasakan asinnya. Cukup jadilah pelayar yang tenang.”

Aku menghela napas panjang. Jawaban itu menohok, namun membasuh sedikit perih. Tapi keresahan ini belum tuntas. “Lalu bagaimana dengan ruang-ruang kelas kita?” lanjutku, suaraku kini sedikit bergetar menyiratkan keputusasaan. “Pendidikan di negara ini seolah lebih mirip anomali. Ruang-ruang yang seharusnya memanusiakan manusia, tak ubahnya mesin pencetak robot-robot pekerja. Angka-angka di atas kertas lebih disembah daripada adab, etika, dan karakter. Ruang pencerahan berubah menjadi sirkus birokrasi dan lembar administrasi. Kadang rasanya seperti menanam benih di atas tanah yang sengaja dibakar.”

Dia kemudian menggumamkan sepotong sajak yang pernah aku dengar, entah di mana, tapi suaranya membuatku terasa haru:

“Rumah bukan hanya tempat untuk pulang,

Tapi tempat di mana hatimu tidak lagi merasa terasing.

Jika dunia luar adalah hutan yang menyesatkan,

Maka temukanlah jalan setapak menuju dirimu sendiri.”

“Jangan terlalu keras pada dirimu, Yi,” lanjutnya sambil menggeser gelas kopiku. “Kamu adalah seorang guru, tapi kamu juga seorang manusia yang berhak untuk tidak tahu semua jawaban. Kegelisahanmu itu adalah tanda bahwa hatimu masih hidup, masih berdenyut. Tapi jangan biarkan ia menjadi penjara.”

Ia terdiam sejenak, mendongak menatap rintik hujan yang mulai turun membasahi langit Cibiru dan Cipadung di tengah ramainya jalanan yang mulai sangat padat.

“Pendidikan di Negara kita memang sedang sakit,” ucapnya tenang. “Tapi, Yi, kelasmu, adalah negaramu sendiri. Jangan mau diatur oleh absurditas di luar sana ketika kamu memegang penuh kendali di depan anak-anak yang menatapmu.”

Aku terdiam. “Tapi bagaimana dengan kebimbangan ini, Mang? Anomali Pendidikan di tengah negara yang katanya masyarakatnya beriman. Jalan mana yang harus kuambil saat semuanya tampak sama-sama abu-abu?” Keluhku sambil kembali menyeruput sedikit kopi yang sudah tak sepanas tadi.

Dia tertawa kecil, suara yang mengingatkanku pada gemericik air sungai di pegunungan. “Jalan itu tidak pernah benar-benar buntu, ia hanya sedang menunggumu untuk berhenti berlari. Terkadang, solusinya bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tapi tentang seberapa sadar kita melangkah.”

Ia menyandarkan punggungnya, menyalakan kembali sebatang kretek dan menghisapnya dengan nikmat lalu ia mengutip bait sederhana yang mengingatkanku pada Iwan Fals,

“Jalan masih teramat jauh, mustahil berlabuh bila dayung tak terkayuh.” “Jadilah berbeda, Yi” ucapnya dengan nada yang elegan namun tegas. “Ketika sistem menuntutmu mencetak mesin, cetaklah manusia. Sentuh hati mereka. Hanya itu tugas utamamu. Sisanya, biarkan waktu yang menghakimi.”

Aku sedikit menunduk, menatap ampas kopi yang mengendap di dasar gelas. “Tapi kadang langkah ini terasa teramat berat. Ada keresahan yang terus menghendaki. Ditengah gelap gulita pendidikan Indonesia, ada kebimbangan jalan di persimpangan usia. Apakah aku sudah berada di jalur yang benar? Atau aku hanya berjalan berputar-putar, menghabiskan sisa napas dalam kegelisahan yang tak berujung?”

Ia tertawa kecil. Tawa renyah yang entah kenapa selalu berhasil meluruhkan separuh bebanku seketika.

​”Kamu terlalu sibuk mencari ujung jalan, Yi, sampai lupa menikmati sejuk angin saat melangkah,” katanya sambil menepuk pundakku. “Jalan yang benar bukanlah jalan yang tanpa kerikil, tapi jalan yang membuatmu merasa utuh saat melewatinya.”

​”Sederhanakan duniamu,” bisiknya lagi. “Jika pendidikan terasa absurd, peluklah satu muridmu dengan pengertian, itu sudah cukup. Jika dunia kehilangan kemanusiaan, jadilah manusia pertama yang menyapa murid atau mungkin tetangga atau sahabat dengan tulus. Jangan biarkan kebisingan di luar sana membunuh musik di dalam jiwamu.”

Ia menatapku lekat-lekat, menyitir sebaris sajak Chairil Anwar dengan suaranya yang berat,

“Sekali berarti, sudah itu mati.”

“Maknanya sangat sederhana,” lanjutnya sambil tersenyum. “Yi, berikan makna pada apa yang kamu kerjakan hari ini. Lakukan apa yang kamu yakini benar. Jangan pedulikan kompas orang lain, karena peta hidup mereka berbeda dengan petamu.”

Tak terasa, mataku mulai berair mendengar jawaban Mang Maula tadi. Dalam pikirku, aku selalu membawa beban kapanpun dan dimanapun, bahkan mungkin saat aku melaksanakan Sholat. Padahal Tuhan sudah berfirman, “Sholatlah, karena sesungguhnya Sholat adalah sarana utama meminta pertolongan dari kesulitan hidup”. Terkadang aku lupa, bukankan dalam ayat ke-5 Surat Al-Fatihah disebutkan, Iyyaka Na’budu wa Iyyaka nasta’iin, Hanya KepadaMu (Tuhan) aku beribadah dan hanya kepadaMu (Tuhan) aku meminta pertolongan.

Sore itu, matahari benar-benar sudah bersiap tenggelam, Hujan rintik yang tadi seperti akan menjelma menjadi serdadu yang siap menyerang kini mulai menghilang menyisakan siluet pepohonan dan udara sore yang menyejukkan. Obrolan ini, seperti biasanya, tak akan pernah mengubah sistem pendidikan yang absurd esok hari. Ia juga tak akan menghentikan kegilaan dunia di luar sana. Tapi kalimat-kalimatnya selalu berhasil menyembuhkan caraku memandang kehidupan. Rasanya beban di pundakku luruh bersama ampas kopi di dasar cangkir.

Aku memandang jam tangan dan kemudian merasa ada pesan masuk dari gawaiku, pesan dari sang istri yang menanyakan kenapa masih belum sampai ke rumah dan masih dimanakah aku. Sekejap kemudian Mang Maula tertawa kecil sambil berucap, “sudah di-WA Nyonya, Yi?”, ia melanjutkan tawa kecilnya sambil menghembuskan asap rokok yang mulai terlihat tebal karena langit sudah mulai mengabu.

“Iya, Mang,” jawabku singkat sambil agak mengerenyutkan dahi. Ya, satu sisi aku masih ingin melanjutkan perjalanan rasa dengan Mang Maula, namun satu sisi pesan dari istri melambangkan realitas dan tanggung jawab. Karena sejatinya sang istri juga ingin merajut kedalaman rasa denganku, suaminya.

Dalam sedikit lamunanku, tiba-tiba Mang Maula kembali berucap sambil sedikit menepuk bahu lengan kiriku.

“Sing ingat film Hindi Medium, Yi”, ucapnya sambil tertawa terbahak. Aku yang tersadar dalam lamunan kemudian langsung masuk pada alam bawah sadarku untuk mengurai momen apa yang Mang Maula maksud dalam film Hindi Medium tersebut. Ah… Aku mulai mengingatnya. Momen dalam film tersebut adalah momen antara suami yang merupakan seorang pengusaha kain kaya raya yang kemudian ditelepon oleh istrinya.

Dimana toko kain sang tokoh utama dalam film tersebut merupakan toko terbesar dan termasyhur di kotanya. Bahkan dalam kepercayaan budayanya, toko tersebut sampai diberikan tulisan besar di atas pintu masuk tokonya. Tulisan tersebut adalah -Pembeli adalah Raja-. Momen itu adalah ketika sang tokoh utama dalam film tersebut sedang melayani para ibu-ibu yang akan membeli kain sari namun kemudian ada telepon masuk ke gawainya, seketika sang tokoh utama mengangkat telepon tersebut dan mengabaikan para ibu-ibu langganannya. Telepon tersebut berdurasi lama sampai-sampai para ibu-ibu langganannya itu mulai bosan dan kesal, bagaimana ini katanya pembeli adalah raja. Namun saat sang tokoh utama mulai sadar dengan celetukkan para ibu-ibu langganannya, maka sang tokoh utama kemudian menjawab dengan mantap sambil meminta maaf. Mohon maaf ibu-ibu, kalian adalah para raja, namun yang meneleponku tadi adalah Ratu titisan Dewa yang tak bisa dibantah.

Seketika tawaku dan Mang Maula pecah. Kami tertawa disaksikan gelas kopi kami berdua yang sudah kosong dan hanya menyisakkan ampasnya saja. Lampu jalan mulai menyala satu per satu. Kegelisahan yang tadi menggunung di dadaku perlahan-lahan mencair, mengalir bersama hembusan angin sore yang sejuk. Benar kata Mang Maula, aku terlalu sibuk memikirkan labirin hingga lupa menikmati senja.

Aku kemudian berdiri dan mulai merapihkan kembali jaketku. Ketika aku mengambil tas yang berisi tumpukkan modul ajar dan juga laptop serta alat tempur kelas lainnya, Mang Maula pun mulai ikut berdiri dan berucap, “Yi, keruwetan dunia, absurdnya sistem, dan hilangnya empati… itu semua akan selalu ada, dan tak selalu bisa kau perbaiki sendirian. Tapi kebahagiaanmu tidak boleh disandarkan pada hal-hal yang di luar kendalimu. Berhentilah memikul seluruh beban dunia di pundakmu.”

Aku tersenyum dan mengiyakan ucapan Mang Maula tersebut. Kemudian aku pamit padanya dan akan segera menjemput rasa dan rindu istri tercinta di rumah. Di atas motorku, aku mulai menatap padanya mengisyaratkan aku pamit, lalu aku menarik napas dalam-dalam. Oksigen ini terasa lebih ringan sekarang. Aku menatap tas kerjaku, lalu tersenyum. Besok aku akan kembali ke kelas, bukan sebagai penakluk dunia, tapi sebagai manusia yang membawa sedikit kedamaian.

Dalam perjalanan menuju rumah, aku mulai mengingat epilog dari obrolan antara aku dan Mang Maula tadi. “Malam ini, tidurlah tanpa membawa beban kurikulum atau nasib dunia di punggungmu, Yi. Biarkan Tuhan yang menjaga sisanya”, ucapnya sesaat sebelum aku menghampiri perataran parkir Masjid. Dan aku akan mengingatnya dengan sebuah akhir dari kalimat yang diucapkannya tadi kepadaku, Hiduplah dengan bahagia dan berbahagialah!