Jempol Boleh Bebas, Etika Jangan Dilepas 

Suatu ketika saat aku punya waktu luang, aku suka melihat konten atau podcast di YouTube. Selain itu aku juga memiliki dua aplikasi di ponsel yang isinya dipenuhi berbagai macam  unggahan dari banyak orang. Kadang aku hanya melihat-lihat, membaca tulisan, dan tidak  jarang aku membuka kolom komentar.  

Ada komentar yang berbobot. Ada yang memberikan sudut pandang baru dan melengkapi  informasi yang belum disampaikan. Meskipun berbeda pendapat, mereka tetap menggunakan  bahasa yang enak dibaca. 

Namun, tidak sedikit juga komentar yang menurutku kurang membangun. Ada yang  menghina, mengejek, atau sekedar menuliskan kalimat pendek yang tidak memberikan  manfaat apapun. Terkadang aku bertanya dalam hati “Kenapa orang ini ?”.  

Bukan berarti semua orang harus selalu setuju terhadap sebuah konten. Justru perbedaan  pendapat adalah sesuatu yang wajar. Setiap orang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan  cara berpikir yang berbeda-beda. Masalahnya adalah cara orang menyampaikan pendapat  tersebut.  

Menurutku, ketika kita tidak menyukai isi suatu konten, tulisan, atau pendapat seseorang,  sebenarnya kita memiliki dua pilihan yaitu jangan ditonton atau dilihat, dan memberikan  kritik yang membangun. Di internet ada berbagai macam pilihan. Jika suatu konten tidak  sesuai dengan minat kita, kita bebas mencari konten yang lain. Kritik bukan berarti  

menjatuhkan. Kritik yang baik justru membantu seseorang melihat kekurangan yang mungkin  belum ia sadari. Bahasa yang digunakan tidak perlu kasar. Seseorang tetap bisa  menyampaikan ketidaksetujuannya tanpa harus merendahkan orang lain. 

Menurutku, dari cara seseorang berkomentar, kita bisa melihat bagaimana etika yang ia miliki  ketika menggunakan media sosial. Sayangnya, tidak semua orang memandang media sosial  seperti itu. Sebagaian orang merasa bahwa karena identitas mereka tidak dikenal atau berada 

dibalik layar ponsel, mereka bebas menulis apa saja. Seolah-olah tidak ada konsekuensi dari  setiap kalimat yang mereka ketik. Padahal, setiap komentar akan dibaca oleh orang lain.  

Ada sebuah laporan yang pernah dirilis oleh Microsoft melalui survei Digital Civility Index (DCI). Dalam survei tersebut, disebutkan tingkat digital civility atau kesopanan warganet  Indonesia paling rendah se-Asia Tenggara. Dari 32 negara di dunia yang menjadi objek  survei, Indonesia berada di posisi ke-29. Riset dilakukan pada April dan Mei 2020 terhadap  503 responden yang dibagi merata ke dalam kelompok usia remaja dan dewasa. 

Indeks ini diukur dari persepsi warganet terhadap risiko yang mungkin didapatkan, seperti  ujaran kebencian, perudungan siber (cyber bullying), pelecehan daring, penyebaran data  pribadi, dan ancaman terhadap keberadaban atau kesopanan di ruang siber lainnya. 

Tentu saja dengan adanya survei tersebut, bukan berarti semua orang Indonesia tidak sopan. Masih banyak sekali warganet yang mampu berdiskusi dengan baik, memberikan edukasi,  serta saling menghargai. Namun hasil survei tersebut setidaknya menjadi pengingat kita  masih memiliki pekerjaan rumah untuk membangun budaya berdiskusi yang lebih sehat di dunia digital. 

Menjadi warganet yang baik adalah mampu menyampaikan pendapat dengan cara yang baik.  Kita boleh berbeda pandangan, tetapi tetap menjaga adab. Kita boleh mengkoreksi, tetapi  tidak perlu menghina. Kita boleh tidak setuju, tetapi tidak harus merendahkan.  

Setiap komentar yang kita tulis, bukan hanya mencerminkan isi pikiran kita, tetapi juga  mencerminkan karakter kita sebagai manusia.


Referensi. 

IDX Channel. 

Kompasiana.com. 

Alinea.ID. 

Pena Budaya. 

Kalimahsawa.ID.